Minggu, 15 Januari 2012

ilmu baru kebidanan woiii.....


Lotus lahir
Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas

Kelahiran teratai, atau nonseverance umbilikalis, adalah praktek meninggalkan tali pusat melekat pada kedua bayi dan kelahiran berikut plasenta, tanpa klem atau memutus, dan memungkinkan kabel waktu untuk melepaskan diri dari bayi secara alami. Dengan cara ini bayi, plasenta kabel dan diperlakukan sebagai satu unit detasemen sampai terjadi, umumnya 2-3 hari setelah lahir.
Lotus kelahiran, hari ketiga pasca persalinan: kabel membuka urat-seperti terlihat di sisi kiri anak, hanya beberapa jam sebelum pelepasan alami. 2007
Isi
 [Sembunyikan]

    1 Praktek
    2 mendasari keyakinan
    3 Sejarah pengembangan
    4 Catatan
    5 Referensi
    6 Pranala luar

[Sunting] Praktek

Segera setelah melahirkan, tali pusar berdenyut karena transfer darah ke plasenta dari bayi, dan sebaliknya. Perubahan Wharton jelly kabel itu kemudian menghasilkan alami menjepit internal dalam 10-20 menit setelah melahirkan [rujukan?] Penyedia Perawatan segera menetapkan skor Apgar dan lanjutkan dengan pengisapan diperlukan atau stimulasi, tetapi biasanya menunda prosedur lebih lanjut untuk memungkinkan bayi untuk memulai. menyusui, dan untuk memiliki kulit-ke-kulit kontak dengan ibu. Bayi, bersama dengan tali pusar dan plasenta, adalah terbungkus oleh lengan ibu, atau dipegang oleh ayah atau perawat jika ibu jahit bedah diperlukan.

Kelebihan cairan dihapus dari plasenta, yang kemudian ditempatkan dalam mangkuk terbuka atau dibungkus dengan kain permeabel dan disimpan di dekat bayi yang baru lahir. Udara diizinkan untuk beredar di sekitar plasenta kering, dan untuk menghindari berbau busuk nya menjadi. Garam laut sering diterapkan pada plasenta untuk membantu mengeringkannya. Kadang-kadang minyak esensial, seperti lavender herbal, atau bubuk, seperti goldenseal atau neem, juga diterapkan untuk mendorong pengeringan, untuk membantu untuk menetralkan bau pembusukan, dan sifat antibakteri mereka. Jika alat bantu pengeringan tidak diterapkan, plasenta baik-anginkan akan mengembangkan aroma, musky yang berbeda yang dapat dihentikan dengan langsung tanam atau dengan penyimpanan berpendingin setelah minggu pertama postpartum.

Tali pusar mengering untuk urat dan setelah beberapa hari secara alami melepaskan dari umbilikus. Karena mengering menjadi kaku; orang tua sehingga menaruh perhatian besar untuk memindahkan bayi dan kabelnya sesedikit mungkin untuk menghindari menyebabkan ia untuk melepaskan prematur.

Kelahiran Lotus jarang dipraktekkan di rumah sakit, tetapi lebih umum di pusat-pusat kelahiran dan kelahiran di rumah.
[Sunting] mendasari keyakinan

Setelah tali pusat berhenti berdenyut memiliki setelah melahirkan, transfer zat fisik lengkap. Namun, pendukung kelahiran teratai melihat bayi dan plasenta sebagai yang ada dalam medan aura yang sama, dengan transfer energi terus berlangsung secara bertahap dari jaringan yang mati dari plasenta ke bayi melalui tali pusat sebagai jaringan plasenta dan pusar kabel mengering. [kutipan diperlukan]

Pendekatan ini bertentangan dengan pelatihan medis umum dan praktek di rumah sakit dan pusat kesehatan global, yang nikmat manajemen aktif persalinan tahap ketiga (pengiriman plasenta): pemberian obat oxytocic, eksternal langsung menjepit kabel pada saat lahir, pemotongan itu segera, kemudian menerapkan traksi untuk kabel untuk mempercepat kelahiran plasenta [1]. Darah tali pusat mungkin atau mungkin tidak dipanen untuk perbankan tali darah. Tali pusat bayi dan plasenta kemudian dibuang sebagai limbah medis, atau, dengan persetujuan ibu, mungkin disumbangkan untuk penelitian dalam kehamilan dan gangguan kehamilan.
Diperpanjang-tertunda kabel perawatan pesangon: utuh umbilikus satu jam postpartum. 2006

Primatologi Jane Goodall, yang adalah orang pertama untuk melakukan studi jangka panjang dari simpanse di alam liar, melaporkan bahwa mereka tidak mengunyah atau memotong tali keturunan mereka, bukannya meninggalkan umbilikus utuh. [2]
[Sunting] Sejarah pengembangan

Di Tibet dan Zen Buddhisme, istilah "teratai lahir" digunakan untuk menggambarkan guru spiritual seperti Buddha Gautama dan Padmasambhava (Lien-hua Sen), menekankan mereka masuk ke dunia sebagai utuh, anak-anak kudus. Referensi untuk kelahiran teratai juga ditemukan dalam agama Hindu, misalnya dalam kisah kelahiran Wisnu [kutipan diperlukan].

Meskipun baru-baru ini muncul sebagai suatu fenomena kelahiran alternatif dalam pesangon, pusar Barat tertunda dan nonseverance pusar telah tercatat dalam sejumlah kebudayaan, termasuk yang dari Bali [3] dan beberapa orang aborigin seperti! Kung.

Pionir awal Amerika, yang ditulis dalam buku harian dan surat, dilaporkan berlatih nonseverance umbilikus sebagai tindakan pencegahan untuk melindungi bayi dari infeksi luka terbuka. [4]

Praktek ini diperoleh perhatikan dalam komunitas praktisi yoga saat Jeannine Parvati Baker, penulis buku pertama tentang prenatal yoga di Yoga, Barat Prenatal & Persalinan Alam, dipraktekkan nonseverance umbilikalis untuk dua kelahiran sendiri, melihatnya sebagai aplikasi praktis dari yoga nilai ahimsa serta mengajar yoga inti yang melekat dalam proses ikatan primal bahwa "semua lampiran akan jatuh jauh dari kemauan sendiri."

Pada 1990-an, Sarah Buckley MD, seorang dokter keluarga Australia dan mencatat penasehat orangtua untuk majalah Mothering, diterbitkan kisah-kisah kelahiran pribadinya dalam Lahir teks Lotus, ia telah menghasilkan banyak publikasi ilmiah penelitiannya tentang manfaat fisiologis pengelolaan pasif ketiga tahap kerja [5].

Nonseverance umbilical adalah pilihan pilihan informasi saat ini dipraktekkan oleh minoritas keluarga lahir homebirth dan rumah sakit (lihat penelitian Sarah Buckley, MD dan internasional Robin Lim bidan), dan topik pendidikan semakin populer berkelanjutan bagi bidan bidan perawat berlisensi dan bersertifikat dalam publikasi seperti majalah dan Kebidanan Hari Mothering. Terutama menarik untuk para profesional adalah tidak adanya penurunan berat badan yang dilaporkan sehat ikterus neonatal dan menyusui dalam skenario kelahiran teratai; studi korelasi ini telah menunjukkan peningkatan risiko yang signifikan dari penyakit kuning pada bayi dimana tali pusat dijepit lambat 60 detik setelah lahir [. 6]
Umbilical nonseverance, postpartum air rendaman sesaat setelah melahirkan di rumah. 2005
[Sunting] Catatan

    ^ "Pengelolaan Tahap Ketiga Tenaga Kerja". Diperoleh 2007/12/29.
    ^ Lihat Dalam Bayangan Manusia oleh Jane Goodall.
    ^ Lihat Eat, Pray, Love oleh Elizabeth Gilbert, hlm 252-252
    ^ Leavitt, Judith Walzer. Dibawa ke Bed: Melahirkan anak di Amerika, 1750 1950. New York: Oxford University Press, 1986 pp.21-37
    ^ Buckley, Sarah. "Meninggalkan baik sendirian: Sebuah pendekatan alami untuk tahap ketiga dari tenaga kerja". Diperoleh 2007/12/29.
    ^ Http://www.cochrane.org/reviews/en/ab004074.html

[Sunting] Referensi

    Buckley MD, Sarah.. Lembut Kelahiran, Mothering Lembut, Australia, 2006
    Davies, Leap, McDonald. Pemeriksaan Kesehatan Bayi & Neonatal: Pendekatan multidimensi, Elsevier Ilmu Kesehatan, 2008. ISBN 0443103399
    Lim, Robin. Setelah Kelahiran Bayi: Sebuah Panduan Lengkap untuk Perempuan postpartum, Ten Speed ​​Press, AS 2001
    Rachana, Shivam. Lotus Kelahiran, Greenwood Press, Australia, 2000
    Parvati Baker, Jeannine. Prenatal Yoga & Persalinan Alam, Buku Atlantik Utara, AS, 2001
    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Perawatan dalam kelahiran normal: Sebuah panduan praktis, laporan kelompok kerja teknis, Jenewa, Swiss, 1997

[Sunting] Pranala luar

    Lotus Kelahiran, Ritual Untuk Our Times oleh Sarah Buckley, MD
    Pertanyaan umum tentang kelahiran teratai
    Yoga Filsafat dan Psikologi Perinatal Lahir Lotus
    International College of Kebidanan Spiritual: Lotus Lahir
    Sebuah Kelahiran Lotus, Book oleh Jenny Hatch
    http://www.lotusfertility.com/Lotus_Birth_For_Midwives.html
    Yehezkiel 16 (New American Bible)
    Jane Goodall situs Pusat Penelitian
    Asosiasi Psikologi Pra & Perinatal & website resmi Kesehatan
    Organisasi Kesehatan Dunia standar perawatan untuk Tahap Ketiga Tenaga Kerja

Lihat peringkat halaman
Tingkat halaman ini
Apa ini?
Terpercaya
Tujuan
Lengkap
Ditulis dengan baik
Saya sangat berpengetahuan tentang topik ini (opsional)
Kategori:

    Persalinan

    Masuk log / buat akun

    Pasal
    Bicara

    Baca
    Mengedit

    Halaman Utama
    Isi
    Menampilkan isi
    Saat acara
    Random article
    Donasi ke Wikipedia

Interaksi

    Bantuan
    Tentang Wikipedia
    Portal komunitas
    Perubahan terakhir
    Hubungi Wikipedia

Toolbox
Cetak / ekspor
Bahasa

    Polski

    Halaman ini terakhir diubah pada tanggal 11 Januari 2012 di 02:33.
    Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk rincian.
    Wikipedia ® adalah merek dagang terdaftar dari Wikimedia Foundation, Inc, sebuah organisasi non-profit.
    Hubungi kami

    Kebijakan privasi
    Tentang Wikipedia
    Penyangkalan
    Tampilan ponsel

    Wikimedia Foundation
Baru! Klik kata di atas untuk melihat terjemahan alternatif. Singkirkan


Rabu, 04 Januari 2012

JUDUL KTI

Judul KTI

ANDA MEMBUTUHKAN REFERENSI DALAM PEMBUATAN KARYA TULIS ILMIAH DAN SKRIPSI KHUSUSNYA BIDANG KESEHATAN ……!
Kami menyediakan beberapa judul KTI dan Skripsi yang lengkap yang dapat anda gunakan sebagai referensi dalam pembuatan KTI kebidanan ataupun Skripsi Keperawatan mulai dari awal sampai dengan lampiran sehingga dapat memudahkan anda dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah Anda. Keseluruhan Judul yang kami sediakan di bawah ini adalah KTI yang memiliki data lengkap dari KTI tersebut, jika ada yang menjual dengan judul yang sama, maka kami tidak menjamin kelengkapannya (ex: lampiran + analisa datanya + kuisioner, dll), karena data yang pernah kami sebar hanya isinya saja….. SPESIAL PROMO :  BAGI 10 ORANG PEMESAN PERTAMA UNTUK SETIAP HARINYA KAMI MEMBERIKAN BONUS (100 + ASUHAN KEBIDANAN LENGKAP) SEBAGAI BAHAN REFERENSI PENYUSUNAN ASKEB BAIK PATOLOGIS DAN FISIOLOGIS
A
  1. ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELENGKAPAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN PADA IBU YANG MEMILIKI BALITA
  2. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI PIL KB PADA AKSEPTOR KB
  3. ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI TINDAKAN IBU DALAM PENCARIAN PENGOBATAN DAN PEMULIHAN PENYAKIT PNEUMONIA PADA BALITA
  4. ANALISIS KEJADIAN CAMPAK PADA ANAK BALITA
  5. ANALISIS KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA
  6. ANALISIS PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK PADA AKSEPTOR KB
  7. ANALISA SENAM HAMIL PADA IBU HAMIL DI KELAS IBU DI POSYANDU XXX
  8. ANALISIS PERBEDAAN BERAT BADAN SEBELUM DAN SESUDAH SETELAH MENGIKUTI KB SUNTIK XXX (*FILE PDF)
C
  1. CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS DI BPS WILAYAH KERJA XXX
E
  1. EFEKTIFITAS PIJAT PERINEUM TERHADAP RUPTUR PERINEUM *)
  2. EFEKTIVITAS METODE KANGURU MENGURANGI RASA NYERI PADA PENYUNTIKAN INTRA MUSKULER PADA BAYI BARU LAHIR DI RS*)
F
  1. FAKTOR-FAKTOR NON FISIK SULIT MAKAN PADA BALITA DI PAUD XXXXXX
  2. FAKTOR PENYEBAB SUAMI MEMILIH ALAT KONTRASEPSI VASEKTOMI DAN TIDAK MEMILIH ALAT KONTRASEPSI VASEKTOMI (ANALISIS KUALITATIF)
  3. FAKTOR PENYEBAB SUAMI MEMILIH KONDOM DAN TIDAK MEMILIH KONDOM (ANALISIS KUALITATIF)
  4. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  5. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI DAN PASI PADA IBU YANG MEMPUNYAI BAYI USIA 0-6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  6. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR *)
  7. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENURUNAN SEKSUAL PADA IBU MENOPAUSE DI DESA XXX
  8. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN WANITA PRE MENOPAUSE DI DESA XXX
  9. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA(TERBARU)
  10. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS (ISPA) PADA BALITA
  11. FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT INFEKSI PADA ANAK BALITA
  12. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PARTUS LAMA DI RS (TERBARU)
  13. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS (TERBARU)
  14. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERAN KADER DALAM KEGIATAN POSYANDU (TERBARU)
  15. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU MENYUSUI BAYI USIA 6-12 BULAN (TERBARU)
  16. FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU MEMILIH  PENOLONG  PERSALINAN (TERBARU)
  17. FAKTOR-FAKTOR YANG  BERHUBUNGAN  DENGAN  STATUS IMUNISASI  DIFTERI  PERTUSIS TETANUS (DPT) DAN CAMPAK
  18. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA
  19. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANEMIA DALAM KEHAMILAN DI BPS XXX
  20. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HUBUNGAN SEKS PASCA NIFAS DI DESA XXX
  21. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MEMBERIKAN MAKANAN TAMBAHAN PADA BAYI USIA KURANG DARI ENAM BULAN
  22. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MELAKUKAN PIJAT BAYI (ANALISA KUALITATIF)
  23. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU TIDAK MEMBERIKAN ASI EKSLUSIF KEPADA BAYINYA *)
  24. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEAKTIFAN KADER POSYANDU DALAM USAHA PERBAIKAN GIZI KELUARGA
  25. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEENGANAN AKSEPTOR KB UNTUK MENGGUNAKAN ALAT KONTRASEPSI IUD DI PUSKESMAS XXX
  26. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMPLIKASI PERSALINAN USIA REMAJA DI PUSKESMAS XXX
  27. FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEIKUTSERTAAN WANITA PASANGAN USIA SUBUR DALAM PENGGUNAAN KB IUD
  28. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT IBU TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI IMPLANT DI DESA XXX
  29. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN VITAMIN A PADA BAYI OLEH KADER DI POSYANDU WILAYAH PUSKESMAS XXX
  30. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSALINAN OLEH DUKUN TERLATIH
  31. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POLA MAKAN PADA BALITA DI PEKON XXXX
  32. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA CAKUPAN KN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  33. FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA ANEMIA PADA IBU HAMIL
G
  1. GAMBARAN AKSEPTOR KB AKDR DI KECAMATAN XXX
  2. GAMBARAN AKSEPTOR KB METODE OPERATIF PRIA (MOP) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  3. GAMBARAN  FAKTOR-FAKTOR KEPATUHAN IBU DALAM  PELAKSANAAN IMUNISASI BCG BAYI DI DESA (TERBARU)
  4. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KURANG ENERGI KRONIS (KEK) PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  5. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA ROBEKAN PERINEUM PADA IBU BERSALIN DI BPS XXX
  6. GAMBARAN FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOBILISASI DINI PADA IBU PASCA SEKSIO SESAREA *)
  7. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN WANITA PASANGAN USIA SUBUR TIDAK MENGGUNAKAN KONTRASEPSI TUBEKTOMI DI KELURAHAN XXX
  8. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STATUS GIZI PADA BALITA DI DESA XXXX
  9. GAMBARAN IBU HAMIL YANG MENGALAMI ABORTUS DI RSU XXX
  10. GAMBARAN INDIKASI PERSALINAN SEKSIO SESAREA DI RUANG BERSALIN RSU XXX
  11. GAMBARAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  12. GAMBARAN KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS (TERBARU)
  13. GAMBARAN KUNJUNGAN LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  14. GAMBARAN PELAKSANAAN 5T PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  15. GAMBARAN PELAKSANAAN KELAS IBU DI WILAYAH KERJA XXX
  16. GAMBARAN PELAKSANAAN PEMANTAUAN MASA NIFAS OLEH DUKUN DI DESA XXX
  17. GAMBARAN PELAKSANAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA SISWA SISWI SDN XXX
  18. GAMBARAN PEMBERIAN SALEP MATA PADA BAYI BARU LAHIR PADA BPS XXX
  19. GAMBARAN PEMROSESAN ALAT BEKAS PAKAI PADA PROSES PERSALINAN PADA BPS XXX
  20. GAMBARAN PENATALAKSANAAN BAYI BARU LAHIR NORMAL 0-6 JAM DI BPS WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  21. GAMBARAN PENATALAKSANAAN CARA MEMANDIKAN NEONATUS 0-7 HARI TERHADAP IBU NIFAS DI BPS XXX
  22. GAMBARAN PENATALAKSANAAN CARA MENYUSUI BAYI 0-6 BULAN OLEH IBU DI BPS XXX
  23. GAMBARAN PENATALAKSANAAN MANAJEMEN AKTIF KALA III DI BPS XXX
  24. GAMBARAN PENATALAKSANAAN MANAJEMEN LAKTASI MASA NIFAS DINI OLEH PETUGAS KESEHATAN TERHADAP IBU-IBU POST PARTUM
  25. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING PIL ORAL KOMBINASI (POK) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  26. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PRIA TENTANG MOP DI KELURAHAN XXX
  27. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB ALAMIAH METODE KALENDER
  28. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK TENTANG EFEK SAMPING DEPO MEDROXYPROGESTERONE ASETAT (DMPA) DI RB XXX
  29. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI IBU HAMIL DALAM PELAKSANAAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS XXXX
  30. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PRAKTEK PIJAT BAYI 0-6 BULAN OLEH IBU DI DESA XXX
  31. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG MENARCHE
  32. GAMBARAN PENGETAHUAN PEKERJA WANITA TENTANG ANEMIA (TERBARU)
  33. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA TENTANG SEKS BEBAS DI SMA XXX
  34. GAMBARAN PENGETAHUAN DUKUN TENTANG TUGAS DUKUN DALAM PERAWATAN PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  35. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU BALITA 2-4 TAHUN TENTANG PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI DESA XXX
  36. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TERHADAP TANDA-TANDA BAHAYA KEHAMILAN DI RB. XXX
  37. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS XXX
  38. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG PERAWATAN PAYUDARA
  39. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER I TENTANG EMESIS GRAVIDARUM DI RB XXX
  40. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI BAYI 0-6 BULAN TENTANG ASI EKSKLUSIF DI DESA XXX
  41. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PERAWATAN TALI PUSAT DI DESA XXX
  42. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA BAHAYA MASA NIFAS DI DESA XXX
  43. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DASAR
  44. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN MOTORIK PADA BAYI 0-12 BULAN DI DESA XXX
  45. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG VITAMIN A DI POSYANDU XXX WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  46. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI BAYI 0-1 TAHUN TENTANG ISPA DI DESA XXX
  47. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMPUNYAI BAYI USIA 0-6 BULAN TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI
  48. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU USIA 30-60 TAHUN TENTANG PAP SMEAR XXX
  49. GAMBARAN PENGETAHUAN PRIMIPARA TERHADAP PERKEMBANGAN BAYI 0-1 TAHUN DI KELURAHAN XXX
  50. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KEBERSIHAN ALAT KELAMIN PADA SAAT MENSTRUASI DI DUSUN XXX
  51. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG ABORSI DI SMA XXX
  52. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG PENYAKIT MENULAR SEKSUAL PADA SMU XXX
  53. GAMBARAN PENGETAHUAN SISWA KELAS VI TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
  54. GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA USIA 25-30 TAHUN TENTANG PENTINGNYA KONSUMSI KALSIUM UNTUK MENCEGAH OSTEOPOROSIS DI DESA XXX
  55. GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN EKONOMI IBU YANG MEMILIKI BALITA DENGAN KEJADIAN DIARE DI PUSKESMAS XXX
  56. GAMBARAN PENYAPIHAN ANAK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  57. GAMBARAN PENYAPIHAN ANAK KURANG DARI 2 TAHUN DI DESA XXX
  58. GAMBARAN PERSALINAN OLEH DUKUN TERLATIH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  59. GAMBARAN PERILAKU ORANGTUA TERHADAP ANAK BALITA PENDERITA GIZI BURUK
  60. GAMBARAN RENDAHNYA CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA DI POSYANDU XXX
  61. GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU DALAM MENGHADAPI PERSALINAN DI XXX
  62. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA MENGENAI POSYANDU
  63. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG SENAM HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  64. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP KEPUTIHAN DI DESA XXX
  65. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP RESIKO PERKAWINAN DINI PADA KEHAMILAN DAN PROSES PERSALINAN DI DESA XXX
H
  1. HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN XXX (*File PDF)
  2. HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN DENGAN KEJADIAN PRE EKLAMPSI PADA IBU BERSALIN DI RUMAH SAKIT (TERBARU)
  3. HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN XXX
  4. HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN VAKSINASI BCG DENGAN KEJADIAN PENYAKIT TB PADA ANAK USIA < 15 TAHUN (TERBARU)
  5. HUBUNGAN ANTARA PERSONAL HYGIENE DENGAN KEPUTIHAN PADA REMAJA PUTRI KELAS X DAN XI DI SMA XXX
  6. HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN MENARCHE PADA SISWI XXX
  7. HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTURE PERINEUM PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA DI BPS XXX
  8. HUBUNGAN KENAIKAN BERAT BADAN IBU HAMIL DENGAN BERAT BADAN BAYI LAHIR (TERBARU)
  9. HUBUNGAN LUKA JAHITAN PERINEUM TERHADAP HUBUNGAN SEKS PASCA NIFAS DI DESA XXX
  10. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN INFORMASI TENTANG METODE KONTRASEPSI MANTAP PRIA TERHADAP PERAN SERTA SUAMI DALAM GERAKAN KB DI KELURAHAN XXX.
  11. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP AKSEPTOR KB AKTIF DENGAN PENGGUNAAN AKDR (TERBARU)
  12. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PELAKSANAAN INISIASI MENYUSUI DINI PADA IBU POST PARTUM (TERBARU)
  13. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BATITA DENGAN CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK DI PUSKESMAS (TERBARU)
  14. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI (TERBARU)
  15. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA XXX
  16. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU NIFAS DENGAN KUNJUNGAN MASA NIFAS DI PUSKESMAS XXX
  17. HUBUNGAN PENGETAHUAN REMAJA DENGAN KEHAMILAN REMAJA (TERBARU)
  18. HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG GIZI IBU HAMIL DENGAN ANEMIA(TERBARU)
  19. HUBUNGAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 4–12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (File PDF)
  20. HUBUNGAN STRES DENGAN GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI TERHADAP MAHASISWA TINGKAT I AKBID XXX
  21. HUBUNGAN TINGKAT EKONOMI DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DENGAN WAKTU MEMULAI PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DI DESA XXX
  22. HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DAN TINGKAT EKONOMI KELUARGA DENGAN PERTUMBUHAN FISIK BALITA (TERBARU)
  23. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI TERHADAP PEMBERIAN PASI PADA BAYI 0-6 BULAN DI PUSKESMAS PEMBANTU XXX
  24. HUBUNGAN UMUR KEHAMILAN DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN BBLR(TERBARU)
  25. HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU TERHADAP KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RS. XXX
  26. HUBUNGAN  USIA GESTASI DAN APGAR SKOR  DENGAN KEMATIAN NEONATAL  BERAT BADAN LAHIR RENDAH (TERBARU)
K
  1. KARAKTERISITK AKSEPTOR KB POK (PIL ORAL KOMBINASI) DI KELURAHAN XXX
  2. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  3. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI DESA XXXXX WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  4. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  5. KARAKTERISTIK BALITA YANG MENDERITA ISPA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  6. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN EKSTRAKSI VAKUM DI RB XXX
  7. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN KEHAMILAN LEWAT WAKTU (POSTDATE) DI PUSKESMAS XXX
  8. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN PARTUS LAMA DI RS. XXX
  9. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN RETENSIO PLASENTA DI BPS XXX
  10. KARAKTERISTIK IBU DENGAN BALITA BGM
  11. KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN PRE-EKLAMSI DI RUMAH SAKIT UMUM XXX
  12. KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MELAKSANAKAN ANTENATAL CARE DI BPS XXX
  13. KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MENGKONSUMSI TABLET FE DI KELURAHAN XXX
  14. KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI YANG MENGALAMI PUTTING SUSU LECET  PADA SAAT AWAL LAKTASI (ANALISA KUALITATIF)
  15. KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI YANG TIDAK MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF DI DESA XXX
  16. KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI YANG TIDAK MEMBERIKAN COLOSTRUM PADA BBL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  17. KARAKTERISTIK IBU PRIMIPARA YANG MEMILIKIBAYI 0-1 TAHUN DAN PENGETAHUAN IBU TENTANG RUAM POPOK DI PUSKESMAS XXX
  18. KARAKTERISTIK IBU YANG MEMERIKSAKAN PAP SMEAR DI RUMAH SAKIT XXX
  19. KARAKTERISTIK PASANGAN USIA SUBUR YANG TIDAK MENGIKUTI PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI DESA XXX
  20. KARAKTERISTIK PELAKSANAAN SENAM LANSIA DI POSYANDU XXX
P
  1. PELAKSANAAN METODE AMENORE LAKTASI PADA IBU PASCA NIFAS
  2. PENATALAKSANAAN PENCEGAHAN INFEKSI PADA PROSES PERTOLONGAN PERSALINAN DI KLINIK XXX
  3. PENATALAKSANAAN PIJAT BAYI OLEH DUKUN PIJAT BAYI PADA BAYI USIA 1-7 BULAN DI DESA XXX
  4. PENDUGAAN HUBUNGAN ANTARA KURANG GIZI PADA BALITA DENGAN KURANG ENERGI PROTEIN RINGAN DAN SEDANG DI WILAYAH PUSKESMAS XXX (*file PDF)
  5. PENGARUH INISIASI MENYUSUI DINI (IMD) TERHADAP INVOLUSI UTERUS PADA IBU POST PARTUM
  6. PENGARUH PERAWATAN ROOMING IN TERHADAP PRODUKSI ASI PADA IBU POSTPARTUM
  7. PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING POK (PIL ORAL KOMBINASI) DI KELURAHAN XXX
  8. PENGETAHUAN BENDUNGAN ASI PADA IBU POST PARTUM PRIMIPARA DI RB XXX
  9. PENGETAHUAN BIDAN TENTANG JENIS MAKANAN YANG DIHINDARI IBU HAMIL
  10. PENGETAHUAN DAN APLIKASI MAHASISWI TINGKAT II AKBID XXX TENTANG PARTOGRAF
  11. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG PERSIAPAN PERSALINAN DI BPS XXX
  12. PENGETAHUAN DAN SIKAP BIDAN TERHADAP APLIKASI PARTOGRAF (TERBARU)
  13. PENGETAHUAN DAN SIKAP BIDAN TENTANG METODE KANGGURU
  14. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG RESIKO 4 T
  15. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DAN BALITA DI DESA XXX
  16. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG TEKNIK  MENGEDAN YANG BENAR PADA PROSES PERSALINAN NORMAL
  17. PENGETAHUAN DAN SIKAP PASANGAN USIA SUBUR TENTANG INFERTILITAS
  18. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG KEPUTIHAN
  19. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG MASTURBASI
  20. PENGETAHUAN DAN TINDAKAN IBU DALAM PERAWATAN PERIANAL TERHADAP PENCEGAHAN RUAM POPOK PADA NEONATUS
  21. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS XXX DITINJAU DARI SEGI UMUR, PENDIDIKAN, PEKERJAAN DAN PARITAS
  22. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KONTAK PERTAMA KALI DENGAN TENAGA KESEHATAN ( K1 ) DI BPS XXX
  23. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANEMIA DAN TABLET FE
  24. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TABLET FE DI PUSKESMAS XXX
  25. PENGETAHUAN IBU HAMIL TERHADAP DAMPAK MENGKONSUMSI KOPI BAGI KEHAMILAN DI BPS XXX
  26. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG ALAT KONTRASEPSI KB SUNTIK
  27. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG CARA MENYUSUI DI DESA XXX
  28. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG DAMPAK PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA KURANG DARI 6 BULAN
  29. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI 6 – 24 BULAN
  30. PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG SENAM NIFAS
  31. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG KEHAMILAN DI RB XXX
  32. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TERHADAP PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA MASA KEHAMILAN DI BPS. XXX
  33. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III TENTANG TANDA-TANDA PERSALINAN DI BPS XXX
  34. PENGETAHUAN IBU PRIMIPARA TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXX
  35. PENGETAHUAN IBU PRIMIPARA 3-6 HARI TENTANG BENDUNGAN ASI
  36. PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BALITA USIA 1-2 TAHUN DI DESA XXX
  37. PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI IBU HAMIL DI BPS
  38. PENGETAHUAN IBU TENTANG SIRKUMSISI PADA ANAK PEREMPUAN
  39. PENGETAHUAN REMAJA AWAL (11-13 TAHUN) TENTANG PENGERTIAN DAN PERUBAHAN FISIK PUBERTAS DI SMP XXX
  40. PENGETAHUAN REMAJA MENGENAI BAHAYA MEROKOK DI XXX
  41. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI MASA PUBERTAS TENTANG SEKS SEKUNDER
  42. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI MASA PUBERTAS TENTANG DYSMENORE DI SMP XXX
  43. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KANKER PAYUDARA DI XXX
  44. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG MENSTRUASI DI SMP XXX
  45. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG SADARI
  46. PENGETAHUAN SISWA-SISWI TENTANG BAHAYA NARKOBA DI SMA XXX
  47. PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA MEROKOK PADA SISWA XXX
  48. PENGETAHUAN, SIKAP DAN EKONOMI IBU YANG MEMILIKI BALITA DENGAN KEJADIAN DIARE
  49. PENGETAHUAN TENTANG ISPA PADA IBU YANG MEMILIKI BALITA SAKIT ISPA YANG BEROBAT KE PUSKESMAS XXX
  50. PENGETAHUAN WANITA PRA-MENOPAUSE TENTANG PERUBAHAN FISIOLOGIS MENOPAUSE DI DESA XXX
  51. PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR TENTANG METODE KONTRASEPSI EFEKTIF TERPILIH DI PUSKESMAS XXX
  52. PENYEBAB STATUS GIZI KURANG PADA IBU HAMIL
  53. PERBEDAAN PREVALENSI PENYAKIT DIARE PADA BAYI DENGAN ASI EKSKLUSIF DAN TIDAK EKSKLUSIF DI PUSKESMAS XXX
S
  1. SIKAP DAN TINDAKAN BIDAN TERHADAP PENANGANAN RETENSIO PLASENTA
T
  1. TINDAKAN BIDAN DALAM PENERAPAN INISIASI MENYUSU DINI
  2. TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG SEKS BEBAS DI SMK XXX
  3. TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG PERIKSA PAYUDARA SENDIRI (SADARI) DI SMU XXX
  4. TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KEPATUHAN MENGKONSUMSI TABLET FE DI PUSTU XXX
  5. TINJAUAN PELAKSANAAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN DI PUSKESMAS XXX 
   sumber:
http://bascommetro.wordpress.com/kumpulan-judul-kti/



Daftar Judul Skrispi Mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan Tahun Akademik Gasal 2010/2011
No
Nama
NIM
Judul 
Tanggal Pengesahan
 1
Chris Sriyanti010830473Correlation Between Knowledge of Breast Cancer and Breast Self Examination (BSE) of Midwifery Students on Medecine Faculty Airlangga University
25/02/10
 2Dwi Iz'zati 010830465Kejadian Ikterus pada Bayi Antara Penjepitan Tali Pusat Dini Dengan Penjepitan Tali Pusat Lambat di BPS Farida Hajri Surabaya 
02/03/10
 3Ni Made Padmi Anggarani 010830461Hubungan Tinggi Fundus Uteri dengan Jenis Persalinan di RSUD Dr. Mohammad Soewandhi Surabaya 
19/02/10
 4Lailul Mufidah 010830440Hubungan Karakteristik, Pengetahuan, Sikap dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi IUD (di Kecamatan Gedangan Kabupaten Sidoarjo) 
Mar 10
 5Ainun Nafiah010830478Faktor Risiko Penggunaan Kontrasepsi Pil Oral Kombinasi (POK) dan Riwayat Keluarga Terhadap Kejadian Kanker Payudara di Poli Onkologi Satu Atap (POSA) RSU Dr.Soetomo dan Yayasan Kanker Wisnuwardhana 
 6Andah Septiana 010830462Gambaran Menstruasi Ibu pada Akseptor KB Suntik Kombinasi dan Suntik DMPA (Progestin) di RB Ani Lubis Kota Jambi Tahun 2010 
 7Aprilia Widjayanti010830451Gambaran Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Pemberian ASI eksklusif Berdasarkan Karakteristik Ibu di Puskesmas Kecamatan Karang Ploso Kabupaten Malang 
 8Ari Tri Rahayu 010830448Faktor Karakteristik Ibu Yang Mempengaruhi Kelengkapan Imunisasi Dasar Bayi di Puskesmas Kanor Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro
 9Aulia Insani Wisudana 010830434Hubungan KIPI DPT dan Karakteristik Ibu Bayi Usia 2-6 Bulan dengan Motivasi Ibu Terhadap Immunisasi Selanjutnya - Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanggungharjo Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan Jawa Tengah 
10
Baharika Suci Dwi Aningsih010830460Hubungan Penggunaan Kontrasepsi Progestin pada Ibu Yang Menyusui dengan Kecukupan Produksi ASI (di BPS Juniati Soesanto Mojo Surabaya) 
04/03/10
11Dintje Meyty Kojong 010830475Hubungan Perubahan Fisik dan Psikis dengan Penerimaan Wanita pada Masa Klimakterium di Kelurahan Wawali Kecamatan Ratahan Kabupaten Minahasa Tenggara 
12Diyan Indrayani 010830471Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Tentang Kanker Serviks dan Perilaku Deteksi Dini Kanker Serviks di Kelurahan Pacar Kembang Kota Surabaya 
13Ferina 010830472Hubungan Antara Frekuensi Kunjungan Asuhan Antenatal dengan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Trimester III Tentang Persiapan Persalinan dan  Kegawatdaruratan (Studi di Puskesmas Jagir Kota Surabaya Pada 11-23 Januari 2010) 
24/02/10
14Fitria Edni Wari 010830455Hubungan Antara Preeklampsia dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Mohamad Suwandhie - Surabaya 
16/02/10
15I Gusti Ayu Prami Dewi 010830474Hubungan Antara Eklampsia dengan Tindakan Seksio Sesarea di VK-IRD RSU Dr. Soetomo Surabaya Tahun 2009 
16Ivon Diah Wittiarika 010830437Hubungan Antara Tingkat Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Kejadian Preeklampsia di RSU Dr. Soetomo Surabaya 
05/03/10
17Kiswatin010830463Pengaruh Preeklampsia Terhadap Kejadian Persalinan Preterm di VK IRD RSU Dr. Soetomo Surabaya 
18Lola Noviani Fadilah 010830477Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Keputihan dengan Perilaku Pencegahan Keputihan pada Remaja Perempuan di SMK Muhammadiyah I Surabaya 
19Nidatul Khofiyah 010830445Hubungan Antara Status Gizi dan Pola Asuh Gizi dengan Perkembangan Anak Usia 6-24 Bulan (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Banyuurip Kabupaten Purworejo) 
22/02/10
20Ningrum Paramita Sari010830469Gambaran Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Pelayanan Bidan Delima di Wilayah Ranting Surabaya Timur 
23/02/10
21Nur Chabibah 010830446Hubungan Tingkat Kepedulian Orang Tua dalam Membimbing Anak dengan Perilaku Seksual Remaja - di SMA Negeri 1 Pemalang Dan SMA PGRI 1 Taman Kabupaten Pemalang 
11/02/10
22Nur Fadjri Nilakesuma010830458Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Antenatal Care dengan Frekuensi Kunjungan Antenatal Ibu Hamil di BPS Juniati Soesanto Kelurahan Mojo Surabaya Tahun 2009
23Nur Hasanah010830476Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dengan Pelaksanaan IMD di Ruang Nifas Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik
04/03/10
24Nurul Umairoh010830464Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Suami Terhadap KB Metode Operatif Pria (MOP) (Di Dusun Mlilir Wilayah Kerja Puskesmas Purwoasri Kabupaten Kediri)
25Qudrotin010830438Hubungan Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap Perilaku Pacaran pada Remaja Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo
26Ratna Dwi Jayanti010830447Hubungan Pengetahuan Tentang Bahaya Seks Pranikah dengan Perilaku Seksual Remaja di SMAN Tanjunganom Kabupaten Nganjuk
17/02/10
27Rize Budi Amalia 010830454Hubungan Antara Perencanaan Kehamilan dengan Kunjungan Antenatal di Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso
28Santi Sofiyanti 010830467Pengaruh Penyuluhan Oleh Pendidik Sebaya Terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa Mengenai HIV dan AIDS di SMAN 9 Bandung
29Siti Adha010830449Perbedaan Kejadian Seksio Sesarea pada Kasus Ketuban Pecah Prematur (KPP) dengan Bukan Ketuban Pecah Prematur (NON – KPP) di RSUD dr.Mohamad Soewandhie Surabaya
30Siti Anisak010830450Hubungan Antara Pengetahuan Peserta KB Tentang Kontrasepsi IUD dan Keikutsertaan Kontrasepsi IUD di Klinik / RB Syifa'un Naas Sidoarjo
31Sri Wahyuningsih P010830453Hubungan Antara Pengetahuan Remaja Tentang Pubertas dengan Perilaku Seksual Remaja pada Masa Pubertas di SMP UNESA 2 Surabaya (Penelitian Cross Sectional)
32Sultanah Zahariah010830436Hubungan Antara Derajat Preeklampsia dengan Kejadian BBLR di VK-IRD RSU Dr. Soetomo Surabaya Tahun 2009
33Woro Setia Ningtyas010830470Analisa Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Deteksi Dini Kanker Serviks pada Bidan Praktik Swasta di Wilayah Surabaya Timur (Penelitian Cross-Sectional)
17/02/10
34Zulfa Rufaida010830452Perbedaan Kejadian Asfiksia Neonatorium Pada Kasus Ketuban Pecah Prematur (KPP) dengan Bukan Ketuban Pecah Prematur (NON – KPP) di RSUD dr. Mohamad Soewandhie Surabaya 
  sumber
http://www.fk.unair.ac.id/index.php/Sarjana-Kebidanan/daftar-judul-skripsi-mahasiswa-s1-kebidanan.html

Rabu, 28 Desember 2011

charger baru...i like

Charger Tanpa Listrik Teknologi Baru Kurangi Efek Global Warming

Green Teknologi bukanlah isu baru. Beberapa industri telah mengambil peluang besar ini dengan menerapkan produksi perangkat-perangkat teknologi yang ramah lingkungan, baik produk yang hemat energi, terbuat dari bahan bebas polusi atau bisa didaur ulang, maupun produk dengan tenaga dari sumber daya alam.

Menginjak 2010, teknologi hijau rupanya makin gencar diterapkan olah kalangan industri. Ini bisa dilihat di Consumer Electronics Show di Las Vegas, 7-10 Januari lalu. Pada pameran elektronik internasional terbesar itu, banyak dipamerkan perangkat teknologi hijau dengan inovasi-inovasi baru. Consumer Electronics Association, penyelenggaranya, bahkan membuka satu ruang pameran khusus untuk "green technology". Inilah beberapa perangkat "hijau" yang dipamerkan disana..


Charger Ponsel YoGen
Salah satu perangkat ramah lingkungan yang dipamerkan di CES 2010 ini cukup unik. YoGen Hand Charger, nama perangkat ini, adalah pengisi ulang baterai telepon seluler yang di dalamnya terdapat roda seperti mainan yo-yo. Putaran roda bisa memproduksi sumber energi hingga 5 watt. Untuk mengisi ulang, pengguna tinggal menarik tali untuk memutar roda, seperti memainkan yo-yo. Satu menit tarikan cukup untuk mengisi ulang ponsel. Harga perangkat ini US$ 40 atau sekitar Rp 400 ribu saja.




Charger Tenaga Angin
Zona sustainable planet di CES 2010 menampilkan sejumlah charger dan perangkat kecil lain yang bertenaga surya. Seperti lampu kebun, lampu kilat, dan lentera berkemah. Salah satunya adalah Mini Wiz dari HyMini. Mini Wiz adalah charger baterai AA dengan tenaga angin yang dapat diletakkan di sepeda untuk mengisi ulang.





Charger Tenaga Surya Regen
ReNu Regen merilis sistem pengisian ulang tenaga surya yang didesain untuk rumah. Setiap charger dilengkapi panel surya 6 watt dan bisa diintegrasikan ke baterai dengan colokan USB. Charger ini juga terintegrasi dengan sebuah terminal untuk speaker, sebuah lampu meja LED, serta pengisi ulang untuk iPod.






Charger Tenaga Surya Freeloader
Charger ini didesain dengan dua panel surya kecil dan baterai litium terintegrasi. Seperti charger tenaga matahari lainnya, Freeloader Pro bisa digunakan untuk mengisi ulang ponsel, GPS, kamera digital, camcorder, dan gadget lainnya. Perangkat ini bisa menyesuaikan diri dengan berbagai peranti berbeda yang hendak diisi ulang.Baterai litium pada charger ini butuh waktu delapan jam untuk mendapat tenaga dari panel surya. Namun baterai yang lebih besar juga tersedia, dan mampu memotong waktu pengisian menjadi tiga jam saja. Itu cukup untuk mengisi ulang sebuah iPod hingga pemakaian 28 jam atau 70 jam kekuatan standby sebuah ponsel.





Lampu LED Toshiba E Core
adalah lampu LED dari Toshiba yang hemat energi. Hanya dengan mengkonsumsi listrik 6 watt, perangkat ini menghasilkan cahaya yang terangnya setara dengan 40 watt lampu pijar biasa. Untuk cahaya setara dengan 60 watt, lampu ini mengkonsumsi 8 watt saja. Lampu LED ini juga jauh lebih awet. Umurnya bisa mencapai 40 ribu jam, bandingkan dengan lampu pijar biasa yang hanya 1.000 jam. E Core juga tidak mengandung merkuri, yang membahayakan kesehatan.




Produk iWave Grass Roots
Salah satu booth di CES 2010 ini memperkenalkan sejumlah perangkat terbuat dari bahan-bahan ramah lingkungan, seperti kayu atau bambu, serta bahan-bahan yang bisa didaur ulang, seperti plastik. Salah satu produk yang dipamerkan adalah ponsel dengan casing dari kayu.






Router Hemat Energi Router dualband
buatan TrendNets's ini hanya menyedot energi maksimal 70 persen dibanding router umumnya. Router ini menggunakan teknologi hemat energi berbasis terminal konsumsi energi dan menggunakan adapter energi. Perangkat ini mendapat sertifikasi "Energy Star" karena mampu mengurangi konsumsi energi hingga 30 persen. (Referensi : Tempo)


sumber:
http://old.infospesial.net/other/charger-tanpa-listrik-teknologi-baru-kurangi-efek-global-warming.html

bu bidan.....

Subhanallah!!! Bayi lahir setelah ibunya dinyataakan meninggal 2 hari......cekidot



Kejadian luar biasa menggegerkan dunia kedokteran. Seorang ibu yang dipastikan telah meninggal dunia, ternyata masih bisa melahirkan bayi mungil dengan sempurna. Berita ini mendadak tersiar ke mana-mana dan menjadi bahan perbincangan medis.

Mahmoud Soliman sebagai suami yang berumur 29 tahun tak pernah membayangkan bisa menghadapi kesedihan dan kebahagiaan menjadi satu. Istri yang dicintainya Jayne Soliman 41 tahun, pergi untuk selamanya. Dan sebagai gantinya, ia mendapatkan seorang bayi perempuan cantik yang dilahirkan dari rahim istrinya.

Yang mengharukan, Aya Jayne demikian nama bayi tersebut, dilahirkan dua hari setelah Jayne dinyatakan meninggal akibat otaknya tidak bisa berfungsi lagi. Berkat bantuan medis, Aya bisa dilahirkan dengan selamat.

 

Sebenarnya kehamilan Jayne tidak bermasalah. Namun di usia kehamilannya yang mencapai 25 minggu, tiba-tiba ia pingsan setelah mengeluh sakit kepala. Segera saja Mahmoud melarikannya ke rumah sakit John Radcliffe Hospital di Oxford. Namun beberapa jam kemudian, tim dokter menyatakan otak mantan atlet ski es nasional Inggris ini sudah mati.

Tim dokter mencoba membantu jantung Jayne agar tetap berdenyut dengan beragam peralatan. Upaya ini dilakukan agar bayi yang berada di perut Jayne bisa tertolong. Jayne diberi dua dosis besar steroid, sehingga jantung bayinya bisa berkembang. Dan akhirnya, aya Jayne pun bisa lahir dengan selamat melalui operasi cesar.

Usai diangkat dari rahim Jayne, Aya sempat diletakkan di pundak ibunya untuk memberi sedikit waktu bagi keduanya untuk bertemu. Setelah itu Aya langsung dilarikan ke unit perawatan intensif. Sedangkan Mahmoud diberi kesempatan untuk mengucapkan selamat jalan kepada istrinya, sebelum akhirnya dokter mematikan peralatan penunjang hidupnya.

Kata "Aya" berasal dari bahasa Arab yang berarti "KEAJAIBAN". Itu merupakan nama yang dipilih Jayne saat masih hidup. 

source: http://batbitunik.blogspot.com/2010/05/seorang-ibu-melahirkan-setelah-2-hari.html





sumber:
http://saatnyasantai.blogspot.com/2010/06/subhanallah-bayi-lahir-setelah-ibunya.html
 
 

Selasa, 15 November 2011

evaluasi program pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Informasi tercapai atau tidaknya bisa dilakukan melalui monitoring dan evaluasi. Kegiatan ini sering disandingkan bersamaan dalam istilah ME (Monitoring dan Evaluasi, atau kadang juga disingkat jadi Monev). Kegiatan monitoring sebenarnya banyak diklaim para ahli evaluasi termasuk kedalam kegiatan evaluasi, karena evaluasi pasti dimulai dengan monitoring, melihat, mengamati, dan mencatat. Hasil amatan itu kemudian dianalisis dan dihasilkannya rekomendasi-rekomendasi terkaid dengan hasil capaian atau kemajuan program.
Program merupakan jabaran dari suatu kebijakan organisasi dalam mencapai visi dan menjalankan misinya. Ia terangkai dari beberapa kegiatan, baik yang diselenggarakan secara berantai ataupun paralel, singkat ataupun lama, yang bermuara pada tujuan program yang telah ditetapkan.
Sampai dengan kira-kira tahun 1974 masyarakat masih menganggap bahwa evaluasi pendidikan terbatas pengertiannya pada penilaian hasil belajar. Dasar pemikiran yang digunakan adalah bahwa pendidikan merupakan upaya memberikan satu perlakuan pembelajaran kepada peserta didik. Kesuksesan hasil belajar mereka dapat diketahui melalui kegiatan penilaian. Di balik dasar pemikiran tersebut terdapat pula anggapan bahwa upaya pendidik dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran adalah kunci keberhasilan untuk mencapai hasil belajar merupakan hubungan lurus atau linear.
Apa alasan melakukan evaluasi program dan sejak kapankah evaluasi program mulai populer? Menurut Fernandes (1984), pemikiran secara serius tentang evaluasi program dimulai sekitar tahun delapan puluhan. Sejak tahun 1979-an telah terjadi perkembangan sehubungan dengan konsep-konsep yang berkenaan dengan evaluasi program, sebagai contoh teori yang dikemukakan oleh Cronbach (1982, dalam Fernandes 1984) tentang pentingnya sebuah rancangan dalam kegiatan evaluasi program.
Makna dari evaluasi program itu sendiri mengalami proses pemantapan. Definisi yang terkenal untuk evaluasi program dikemukakan oleh Ralph Tyler, yang mengatakan bahwa evaluasi program adalah proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah dapat terealisasikan (Tyler, 1950). Definisi yang lebih diterima masyarakat luas dikemukakan oleh dua orang ahli evaluasi, yaitu Cronbach (1963) dan Stufflebeam (1971). Mereka mengemukakan bahwa evaluasi program adalah upaya menyediakan informasi untuk disampaikan kepada pengambil keputusan. Sehubungan dengan definisi tersebut The Standford Evaluation Consorsium Group menegaskan bahwa meskipun evaluator  menyediakan informasi, evaluator bukanlah pengambil keputusan tentang suatu program (Cronbach, 1982).
Tujuan diadakannya evaluasi program adalah untuk mengetahui pencapaian tujuan program dengan langkah mengtahui keterlaksanaan kegiatan program, karena evaluator  program ingin mengetahui  bagian mana dari komponen dan subkomponen program yang belum belum terlaksana dan apa sebabnya.

1.2  Rumusan  Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya adalah “Bagaimanakah evaluasi program pendidikan?”.

1.3      Tujuan
1.3.1   Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana evaluasi program pendidikan
1.3.2   Tujuan Khusus
1.      Untuk mengetahui pengertian evaluasi program pendidikan
2.      Untuk mengetahui prinsip evaluasi program pendidikan
3.      Untuk mengetahui langkah-langkah  evaluasi program pendidikan

1.4        Manfaat
1.4.1   Bagi Pendidik
Memberi kepastian kepada diri pendidik sudah sejauh mana usaha yang telah dilakukannya selama ini sehingga pendidik dapat menentukan langkah selanjutnya.
1.4.2    Bagi Peserta Didik
Memberikan dorongan untuk memperbaiki, mempertahankan dan meningkatkan prestasi.

BAB II
PEMBAHASAN
2. 1       Pengertian
Ada tiga istilah yang digunakan dan perlu disepakati pemakaiannya sebelum disampaikan uraian lebih jauh tentang evaluasi program, yaitu “evaluasi” (evaluation), “pengukuran” (measurement), dan “penilaian” (assesment).
Evaluasi berasal dari kata evaluation (bahasa Inggris). Kata tersebut diserap ke dalam perbendaharaan istilah bahasa Indonesia dengan tujuan mempertahankan kata aslinya dengan sedikit penyesuaian lafal Indonesia menjaadi “evaluasi”.
Suchman (1961, dalam Anderson 1975) memandang evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan. Definisi lain dikemukakan oleh Worthen dan Sanders (1973, dalam Anderson 1971). Dua ahli tersebut mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mencari sesuatu yang berharga tentang sesuatu; dalam mencari sesuatu tersebut, juga termasuk mencari informasi yang bermanfaat dalam menilai keberadaan suatu program, produksi, prosedur, serta alternatif strategi yang diajuakan untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Seorang ahli yang sangat terkenal dalam evaluasi program bernama Stufflebeam (1971, dalam Fernandes 1984) mengatakan bahwa evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian dan pemberian informasi yang sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternatif keputusan.
Ada dua pengertian untuk istilah “program”, yaitu pengertian secara khusus dan umum. Menurut pengertian secara umum, “program” dapat diartikan sebagai “rencana". Jika seorang siswa ditanya oleh guru, apa programnya setelah lulus dalam menyelesaikan pendidikan di sekolah yang diikuti maka arti “program” dalam kalimat tersebut adalah rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan setelah lulus. Rencana ini mungkin berupa keinginan untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, mencari pekerjaan, membantu orang tua dalam membina usaha, atau mungkin juga belum menentukan program apapun. Selain itu, ada juga anak yang sangat tergantung pada orang tua sehingga akan memberi jawaban bahwa program masa depan menunggu keputusan orang tuanya.
Apabila program ini langsung dikaitkan dengan evaluasi program maka program didefinisikan sebagai suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. Ada tiga pengertian penting dan perlu ditekankan dalam menentukan program, yaitu (1) realisai atau implementasi suatu kebijakan, (2) terjadi dalam waktu yang relatif lama-bukan kegiatan tunggal tapi jamak berkesinambungan, dan (3) terjadi dalam organisasi yang melibatkan sekelompok orang.
Selain mengandung tiga pengertian, ada pula program-program tertentu yang menunjukkan ciri lain, yaitu adanya kegiatan jamak yang merupakan rangkaian. Untuk memperjelas pengertian “jamak berangkai”, coba bandingkan beberapa kegiatan tunggal dan jamak berikut ini. Kegiatan menulis, berjalan, tidur, adalah sekali dilakukan selesai, dan tidak berada dalam urutan proses. Bandingkan dengan memasak. Memasak adalah kegiatan jamak karena untuk dpat memasak harus ada bahan yang dibeli dan dimasak . sesudah memasak, masakannya harus dimakan.
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latiahan bagi peranannya bdi masa yang akan datang (UU No. 2 Th 1989). Pendidikan adalah usaha sadar dengan rencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serat keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Maka dari evaluasi program itu sendiri mengalami proses pemantapan. Definisi yang terkenal untuk evaluasi program dikemukakan oleh Ralph Tyler, yang mengatakan bahwa evaluasi program pendidikan adalah proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah dapat terealisasikan (Tyler!950). definisi yang lebih diterima masyarakat luas dikemukakan oleh dua orang ahli evaluasi, yaitu Cronbach (1963) dan Stufflebeam (1971). Mereka mengemukakan bahwa evaluasi program adalah upaya menyediakan informasi untuk disampaikan kepada pengambil keputusan. Sehubungan dengan definisi tersebut The Standford Evaluation Consorsium Group menegaskan bahwa meskipun evaluator menyediakan informasi, evaluator bukanlah pengambil keputusan tentang suatu program (Cronbach, 1982).
2. 2       Prinsip

Evaluasi pendidikan harus mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.      Keterpaduan 
Evaluasi harus dilakukan dengan prinsip keterpaduan antara tujuan intrusional pengajaran, materi pembelajaran dan metode pengjaran.
2.      Keterlibatan peserta didik
Prinsip ini merupakan suatu hal yang mutlak, karena keterlibatan peserta didik dalam evaluasi bukan alternatif, tapi kebutuhan mutlak.
3.      Koherensi
Evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang telah dipelajari dan sesuai dengan ranah kemampuan peserta didik yang hendak diukur.
4.      Pedagogis
Perlu adanya tool penilai dari aspek pedagogis untuk melihat perubahan sikap dan perilaku sehingga pada akhirnya hasil evaluasi mampu menjadi motivator bagi diri siswa.
5.       Akuntabel
Hasil evaluasi haruslah menjadi alat akuntabilitas atau bahan pertanggungjawaban bagi pihak yang berkepentingan seperti orangtua siswa, sekolah, dan lainnya.

2. 3       Langkah-langkah
Evaluasi program dilaksanakan melalui beberapa tahapan. Secara garis besar tahapan tersebut meliputi: tahap persiapan evaluasi program, tahap pelaksanaan evaluasi program dan tahap monitoring pelaksanaan program. Berikut ini akan dibahas secara berturut-turut ketiga tahapan tersebut.
A.      Persiapan Evaluasi Program
Sebelum evaluasi program dilaksanakan seorang evaluator harus melakukan persiapan secara cermat. Persiapan tersebut antara lain berupa: penyusuunan evaluasi, penyusunan instrumen evaluasi, validasi instrumen evaluasi, menentukan jumlah sampel yang diperlukan dan penyamaan persepsi antar evaluator sebelum pengambilan data.
Penyusunan evaluasi terkait dengan model yang bergantung pada tujuan evaluasi program dan kriteria keberhasilan program sehingga evaluator dapat menentukan metode pengumpulan data, alat pengumpul data, sasaran evaluasi program dan jadwal evaluasi program yang akan digunakan sebagai acuan melaksanakan kegiatan evaluasi program.
Setelah rencana evaluasi tersusun maka dilakukan penyusunan instrumen evaluasi yang disusun berdasarkan pada metode pengumpulan data yang dipilih. Dengan langkah-langkahnya sebagai berikut:
1.      Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan instrumen yang akan disusun.
2.      Membuat kisi-kisi yang berisi tentang perincian variabel dan jenis instrumen yang akan digunakan.
3.      Membuat butir-butir instrumen.
4.      Menyunting instrumen, hal yang dilakukan adalah:
a.       Mengurutkan butir
b.      Menuliskan petunjuk pengisian, identitas dan sebagainya.
c.       Membuat pengantar permohonan pengisian angket.
Setelah instrumen disusun maka instrumen tersebut perlu divalidasi sehingga diketahui tingkat validitas dan reliabilitasnya yang mana dapat dilihat pada buku-buku metode penelitian dan statistik yang membahas tentang validitas dan reliabilitas.
Setelah dilakukan validasi maka selanjutnya adalah menentukan jumlah sampel. Jika seluruh subjek yang ada menjadi sumber data dalam menentukan subjek evaluasi maka metode yang digunakan adalah metode populasi. Tapi jika hanya sebagian dari subjek yang menjadi sumber data maka digunakan metode sampling.
Metode sampling ini dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu: random sampling ( semua individu diberi peluang menjadi anggota sampel) dan non random sampling (tidak semua individu yang diberi peluang untuk menjadi anggota sampel). Cara penentuan sampel ada beberapa cara, diantaranya: cluster sample, purposive sample dan lain-lain.
Langkah berikutnya setelah menentukan jumlah sampel adalah menyamakan persepsi antara evaluator tentang berbagai hal sebelum pengambilan data dimulai. Hal ini harus dilakukan jika evaluatornya lebih dari 1. Beberapa hal yang perlu disamakan persepsinya adalah: tujuan, kriteria, metode, instrumen, wilayah generalisasi, tehnik sampling dan jadwal kegiatan.
B.       Pelaksanaan Evaluasi Program
Evaluasi program dapat dikategorikan menjadi 4 jenis, yaitu:
1.      Evaluasi reflektif,
Digunakan untuk mengevaluasi kurikulum sebagai suatu ide.
2.      Evaluasi rencana
Merupakan jenis evaluasi yang banyak dilakukan orang terutama setelah banyak inovasi diperkenalkan dalam pengembangan program.
3.      Evaluasi proses
Disebut juga evaluasi implementasi yang prosesnya dianggap lebih memberi kedudukan yang sama antara dimensi program sebagai ide, rencana, hasil dan program.
4.      Evaluasi hasil
Merupakan jenis evaluasi program yang paling tua. Bahkan pada mulanya yang dimaksud dengan evaluasi identik dengan evaluasi hasil.
Keempat jenis evaluasi di atas mempengaruhi seorang evaluator dalam menentukan metode  dan alat pengumpulan data yang digunakan. Agar kegitan pengumpulan  data dapat berjalan baik, berikut ini akan diuraikan beberapa cara mengumpulkan data yang baik dengan menggunakan berbagai alat pengumpul data.
a.       Pengambilan data dengan tes
b.      Pengambilan data dengan observasi
c.       Pengambilan data dengan angket
d.      Pengambilan data dengan wawancara
e.       Pengambilan data dengan metode analisis dokumen dan artifak

C.       Monitoring Pelaksanaan Program
1.      Fungsi monitoring
Kegagalan mempunyai 2 fungsi pokok, yaitu untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan program dengan rencana program dan untuk mengetahui seberapa pelaksanaan program yang sedang berlangsung dapat diharapkan akan menhasilkan perubahan yang diinginkan.
Sumber kegagalan program ada 3 kemungkinan, yaitupelaksanaan program menyimpang dari rencana program, rencana progran yang mengandung kesalahan dan berasal dari luar rancangan, misalnya kekurangmampuan dari tenaga praktisi.

2.      Sasaran monitoring
Sasarannya adalah dengan menemukan hal-hal berikut:
Ø  Seberapa jauh pelaksanaan program telah sesuai dengan rencana program.
Ø  Seberapa jauh pelaksanaan program telah menunjukkan tanda-tanda tercapainya tujuan program.
Ø  Apakah terjadi dampak tambahan atau lanjutan yang positif meskipun tidak direncanakan.
Ø  Apakah terjadi dampak sampingan yang negatif
3.      Tehnik dan alat pemantauan
Fungsi pokok pemantauan adalah mengumpulkandata tentang pelaksanaan program. Adapun tehnik dan alat pemantauan adalah sebagai berikut:
a)      Tehnik pengamatan partisipatif dengan menggunakan lembar pengamatan, catatn lapangan dan alat perekam elektonik.
b)      Tehnik wawancara, cara bebas atau terstruktur dengan alat pedoman wawancara dan perekam wawancara.
c)      Tehnik pemanfaatan dan analisis data dokumentasi seperti daftar hadir, satuan pelajaran, hasil karya siswa, hasil karya guru dan sebagainya.

4.      Pelaku pemantauan
Pemantauan program dilakukan oleh evaluator bersama dengan pelaku/praktisi atau pelaksana program. Dapat pula dilengkapi atau dibantu oleh pihak lain yang diperlukan seperti kepala sekolah dan tokoh masyarakat.
5.      Perencanaan pemantauan
Perencanaan pemantauan meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
a)      Perumusan tujuan pemantauan, berisi informasi tentang apa yang diinginkan, untuk siapa dan untuk kepentingan apa.
b)      Penetapan sasaran pemantauan, apa yang akan dijadikan sebagai objek pemantauan.
c)      Penjabaran data yang dibutuhkan pemantauan, penjabaran dari sasaran.
d)     Penyiapan metode/alat pemantauan sesuai dengan sifat objek dan sumber atau jenis datanya.
e)      Perancangan analisis data pemantauan dan pemaknaannya dengan berorientasi pada tujuan pemantauan.

6.      Pemanfaatan hasil pemantauan
Data yang telah terkumpul dari hasil pemantauan harus secepatnya diolah dan dimaknai sehingga dapat segera diketahui apakah tujuan pelaksanaan program tercapai atau tidak. Pemaknaan hasi pemantauan ini menjadi dasar untuk merumuskan langkah-langkah berikutnya dalam pelaksanaan program.
2. 4