Kamis, 08 Maret 2012

diabetes militus pada kehamilan


DIABETES MELLITUS PADA KEHAMILAN
Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) atau diabetes pada kehamilan didefinisikan sebagai gangguan toleransi glukosa berbagai tingkat yang diketahui pertama kali saat hamil tanpa membedakan apakah penderita perlu mendapat insulin atau tidak.
Tanda-tanda diabetes pada kehamilan :
1.     Kadar gula darahnya meningkat ketika masa kehamilan
2.    Biasanya bayi yang dilahirkan berukuran besar atau giant baby

Penyebab diabetes pada kehamilan :
1.     terlalu banyak makan-makanan berkalori tinggi atau makanan manis
2.    Ibu mengalami kelebihan berat badan atau obesitas
3.    Mempunyai riwayat kesehatan, pernah mengalami diabetes pada kehamilan
4.    Menjaga glikosuria
5.    Memiliki riwayat keluarga penderita diabetes pada kehamilan


Komplikasi
Keguguran, persaalinan kurang bulan, Pre-eklamsia, Hidramnion, bayi lahir besar, kelainan plasenta.
Pencegahan diabetes pada kehamilan :
1.         Mengurangi makan-makanan manis
2.        Menjaga jumlah asupan makanan terutama ketika trisemester ketiga kehamilan agar berat badan tidak bertambah, akan tetapi ibu hamil tidak boleh sampai kekurangan makanan
3.        Berolahraga dengan teratur serta melakukan aktivitas fisik dari mulai yang ringan hingga sedang sehingga kalori yang tidak diperlukan dalam tubuh akan terbakar dengan sendirinya.

Senin, 27 Februari 2012

dengkur saat tidur

Mengatasi “tidur mendengkur”

Mendengkur merupakan masalah tidur yang bisa dialami pria dan wanita. Meskipun umum terjadi, mendengkur tetap saja mengganggu terutama pada teman tidur. Mendengkur saat tidur terkadang hanya dianggap sepele, hanya karena kelelahan saja. Padahal, kebiasaan mendengkur menunjukkan adanya masalah dalam hal kesehatan.
Jika dilihat dari frekuensinya, mendengkur merupakan sebuah gangguan tidur yang bisa menimbulkan baik konsekuensi medis maupun sosial.
“Pernah pada suatu waktu, saya tidur sama teman di daerah, bunyi dengkurannya bukan main, sangat menggangu, saya tidak dapat tidur dibuatnya. Telinga saya sudah ditutup dengan bantal, tetapi masih saja kedengaran bunyi dengkurannya”. Karena tidak tahan mendengarnya, saya membangunkannya kemudian menyuruhnya miring, setelah itu baru saya dapat tidur.
Ingin tahu cara menghentikan dengkuran? Ada beberapa cara sederhana yang bisa anda lakukan.
1. Tidur telentang
Dengkuran terjadi karena adanya gangguan pada saluran pernafasan. Menurut situs health.howstuffworks.com, sebaiknya Anda berada dalam posisi miring saat tidur. Hal itu membuat aliran udara di tubuh menjadi lebih lancar dan menghindari terjadinya dengkuran.
Jika Anda berada dalam posisi tengkurap, perut dan leher akan mengalami tekanan, dan membuat udara sulit mengalir dan mengalami sumbatan, dan yang terjadi kemudian Anda akan mengeluarkan suara dengkuran.
2. Kurangi berat badan
Salah satu faktor yang memicu terjadinya dengkuran adalah berat badan yang berlebihan. Jika Anda memiliki lipatan lemak disekitar leher, sebaiknya Anda harus segera menjalankan program diet.
Karena, lipatan lemak disekitar leher membuat aliran udara menjadi terhambat dan membuat Anda mendengkur. Selain itu, juga bisa mengakibatkan masalah pernafasan yang bisa menyebabkan kematian.
3. Kurangi konsumsi alkohol dan pil tidur
Alkohol dan pil tidur memang bisa membuat Anda menjadi lebih rileks
tetapi bisa melemahkan sistem saraf di bagian rahang dan tenggorokan.
Melemahnya sistem saraf itu membuat nafas menjadi berbunyi atau
mendengkur saat tidur.
Keadaan itu juga bisa memicu kesulitan bernafas saat tidur yang juga berhubungan dengan penyakit kardiovaskular. Sebaiknya konsultasikan gangguan tidur yang Anda alami dengan dokter, jangan sembarang mengonsumsi pil tidur.
4. Hindari pemicu alergi
Alergi kronis biasanya memicu masalah pernafasan, dan hal itu juga
menjadi penyebab dengkuran. Jika Anda memiliki penyakit alergi sebaiknya hindari pemicunya.
Misalnya Anda sangat alergi dengan udara dingin, usahakan untuk mengatur suhu kamar agar tidak membuat alergi menjadi kambuh dan Anda sulit bernafas, dan jangan lupa bersihkan secara teratur kamar dan peralatan tidur Anda.
5. Sediakan mouth guard
Jika dokter Anda menyarankan untuk menggunakan mouth guard, tidak ada salahnya untuk membelinya. Alat tersebut akan menahan gigi dan menjaga otot rahang bawah tidak melemah dan bisa mengurangi dengkuran.
6. Berhenti merokok
Merokok adalah salah satu penyebab Anda tidur mendengkur. Sistem
pernafasan tertutup oleh zat-zat yang berasal dari rokok, dan hal itu
membuat Anda kesulitan bernafas saat tidur dan akhirnya mendengkur.
7. Tidur teratur
Tidur cukup dan teratur adalah salah satu cara untuk menghentikan
dengkuran. Usahakan untuk tidur dan bangun di waktu yang sama setiap
harinya.
8. Periksakan ke dokter jika mendengkur saat hamil
Terkadang, wanita mulai mendengkur saat sedang hamil. Hal itu,
disebabkan naiknya berat badan dan perubahan hormon selama kehamilan.
Apapun penyebabnya, sebaiknya periksakan ke dokter karena mendengkur saat hamil bisa menjadi indikasi bayi dalam kandungan mengalami kekurangan oksigen.
9. Mengangkat kepala saat tidur
Tidur dengan posisi kepala yang agak tinggi membuat Anda lebih mudah bernafas. Cobalah gunakan bantal yang agak tinggi saat tidur, hal itu akan membuat pernafasan menjadi lebih lancar dan mencegah terjadinya dengkuran.
sumber:
http://datinkessulsel.wordpress.com/2009/04/21/mengatasi-tidur-mendengkur/

Senin, 13 Februari 2012

insomnia, kompres dengan air dingin


Anda Insomnia? Kompres Aja dengan Air Dingin

TRIBUNNEWS.COM - Apa yang Anda lakukan ketika mengalami insomnia? Mungkin Anda akan berusaha membuat diri mengantuk dengan menonton acara yang norak di televisi, membaca buku yang membosankan, hingga minum obat tidur.
Tetapi ada cara lain untuk mengatasi sulit tidur ini, kompres kepala Anda dengan air dingin.
Para dokter dari University of Pittsburgh School of Medicine melakukan suatu eksperimen untuk mengatasi pasien yang menderita insomnia. Sebanyak 12 pengidap insomnia primer (yang mengalami kesulitan tidur akibat stres) dan 12 pasien dengan kesehatan yang terkontrol, diberi tudung plastik yang berisi air dingin di kulit kepala dan dahi. Sebab, pengidap insomnia diketahui memiliki aktivitas otak yang lebih tinggi daripada mereka yang tak punya gangguan tidur.
Nah, tudung ini rupanya menurunkan suhu prefrontal cortex, bagian otak yang mendorong untuk tidur lelap. Akibatnya, aktivitas otak melambat, dan mendorongnya untuk beristirahat.
Setelah mengenakan tudung khusus tersebut, para pengidap insomnia ini tertidur dengan cepat. Mereka hanya butuh 13 menit untuk tertidur, yang artinya bahkan lebih cepat daripada pasien yang sehat (yang membutuhkan rata-rata 16 menit untuk terlelap). Kedua kelompok responden ini juga menghabiskan 89 persen dari waktu mereka di tempat tidur untuk tertidur lelap.
"Penemuan paling berarti dari studi ini adalah bahwa kita bisa mendapatkan dampak yang menguntungkan bagi penderita insomnia melalui mekanisme yang aman, dan mudah disediakan di rumah," papar Dr Eric Nofzinger, salah satu tim peneliti.
Meskipun demikian, ide memakai headcap berisi air dingin ini mungkin tidak semudah kedengarannya. Misalnya, seberapa dingin suhunya? Selain itu, kebanyakan dari kita tentu merasa tidak nyaman saat menempelkan sesuatu yang dingin pada kepala, apalagi di tempat tidur.
Dalam penelitian dua tahun sebelumnya, para spesialis masalah tidur di Inggris pernah menyarankan cara yang lebih simpel untuk mendinginkan tubuh. Menurut profesor Jim Horne dari Loughborough University, Anda bisa meletakkan kipas angin di samping tempat tidur untuk menghembuskan udara dingin ke arah muka. Begitu darah yang dingin dari pipi mengalir ke jantung, darah akan mengalir sepanjang arteri sambil membawa darah yang lebih hangat ke arah lain dari otak.
"Darah yang lebih dingin memasuki otak, dan menyebabkan tidur yang lebih nyenyak. Anda hanya butuh sedikit hembusan angin ke arah wajah," paparnya
sumber http://id.she.yahoo.com/anda-insomnia-kompres-aja-dengan-air-dingin-010617401.html
 

bukan ketimpa setan, tapi tu namanya paralisis tidur

Sleep Paralysis, Penyakit Ketindihan Saat Tidur


Ghiboo.com - Pernah terbangun dari tidur, tapi sulit bergerak ataupun berteriak? Tenang, Anda tidak sedang diganggu makhluk halus.
Berdasarkan ilmu medis, keadaan itu disebut sleep paralysis atau kelumpuhan tidur. Namun, banyak masyarakat menyebutnya 'erep-erep'. Masyarakat juga selalu mengaitkan kondisi ini karena ulah makhluk halus yang menindih tubuh kita.
Fenomena ini bisa terjadi pada siapa saja. Setidaknya orang akan mengalaminya sekali atau dua kali dalam hidupnya. Namun, Anda tak perlu khawatir, sleep paralysis biasanya tidak berbahaya.
Selama tidur, aktivitas dan otot-otot tubuh menjadi tidak bergerak, sehingga menyebabkan kelumpuhan sementara. Bahkan kadang-kadang kelumpuhan tetap ada setelah orang terbangun. Biasanya, kelumpuhan tidur diikuti dengan halusinasi. Orang yang mengalami kelumpuhan tidur merasa seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak.
Ketika seseorang tidur, aktifitas otak mengalami dua hal berbeda, yang disebut tidur aktif atau REM (rapid eye movement) dan tidur non-REM.
Non-REM selama tidur akan menghasilkan gerakkan selagi Anda tidur, seperti berbicara dalam tidur atau berjalan ketika tidur. Sedangkan REM akan mempengaruhi denyut jantung, laju respirasi dan tekanan darah ketika tidur.
Secara psikologis, sleep paralysis berhubungan dengan tidur di tahap REM, dimana setelah mengalami tidur REM, mata terbuka namun paralysis tetap bertahan.
Biasanya hal ini mengakibatkan halusinasi. Sleep paralysis terjadi sekitar 2-3 menit. Setelah otak dan tubuh berhubungan kembali, penderita dapat menggerakkan tubuhnya kembali. Namun, memori dari sensasi yang mengerikan atau mimpi buruk biasanya dapat bertahan lama
Secara fisiologis, penyebab sleep paralysis belum diketahui secara pasti. Sejauh ini, para psikologis memberikan gambaran umum mengenai penyebab terjadinya sleep paralysis, seperti kebiasaan tidur menghadap ke atas, pola tidur tak tentu, stress, dan perubahan mendadak pada lingkungan atau lifestyle.
sumber:
http://id.she.yahoo.com/sleep-paralysis-penyakit-ketindihan-saat-tidur-013418209.html

Rabu, 08 Februari 2012

makanan untuk meningkatkan kesuburan

Makanan Terbaik untuk Kesuburan
Penulis : Ikarowina Tarigan
Makanan Terbaik untuk Kesuburan kyagr.com
PEREMPUAN yang mempersiapkan diri untuk hamil biasanya tahu cara mengatur suhu tubuh dan mengerti membaca tanda-tanda ovulasi. Akan tetapi, mereka seringkali tidak mempertimbangkan diet mereka. Diet, sangat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh. Makanan juga bisa berpengaruh positif dan negatif terhadap tingkat kesuburan.

Mempertahankan berat badan sehat

Kelebihan berat badan atau kekurangan berat badan sama-sama bisa mengganggu dengan cara menjarangkan siklus menstruasi. Akibatnya akan mengurangi kesempatan Anda untuk hamil. Jika Anda tidak mengalami ovulasi secara teratur dan konsisten, maka akan susah untuk membuat data siklus, memprediksi ovulasi, bahkan juga susah untuk hamil. Karena itu, hampir semua pakar gizi dan diet menyarankan Anda untuk melakukan diet yang tepat sebelum mencoba melakukan pembuahan. Anda dianjurkan untuk menghindari kafein, rokok dan alkohol serta meningkatkan konsumsi sayur hijau, whole grains serta memperbanyak minum air putih. Selain itu, cobalah olahraga secara teratur dan cukup mendapatkan paparan cahaya matahari. Hal ini bagus untuk siklus menstruasi Anda.

Di samping itu, Anda juga bisa meningkatkan kesuburan dengan mengonsumsi makanan yang bagus bagi kesuburan. Makanan ini tentunya tidak bisa berdiri sendiri dalam mengatasi masalah ketidaksuburan Anda. Akan tetapi, mengikuti pola diet yang baik dan menyertakan makanan tertentu dalam diet Anda tidak akan menghalangi kesempatan Anda untuk hamil.

Pilihlah whole grain

Agar tetap sehat, ada baiknya mengonsumsi lebih banyak whole grain dalam diet Anda. Anda bisa memilih atau memadukan oat, beras merah, whole wheat serta sumber karbohidrat kompleks lainnya. Makanan ini merupakan sumber energi sekaligus kaya akan vitamin B dan E. Kedua vitamin ini sangat penting dalam pembentukan sel-sel, produksi telur dan sperma yang sehat, serta mengatur keseimbangan hormon.

Tambah asupan protein

Produk-produk susu, kaya akan kalsium yang bagus bagi perkembangan sistem saraf, tulang serta darah yang sehat. Penelitian telah menemukan, perempuan yang makan 1 porsi atau lebih produk susu full fat setiap hari mengalami lebih sedikit masalah reproduksi dibandingkan mereka yang makan produk susu rendah lemak atau tanpa lemak. Selain itu, Anda juga dianjurkan mengonsumsi ikan seperti salmon dan mackerel atau sardines yang kaya omega-3 dan omega-6. Kandungan ini berfungsi mengatur kesehatan reproduksi, memperlancar aliran darah serta memperbaiki kualitas dan kecepatan sperma. Ada baiknya juga mengonsumsi daging merah. Makanan satu ini kaya besi yang membantu mencegah anemia, mengurangi masalah-masalah yang berkaitan dengan ovulasi serta membantu sel-sel darah merah.

Bayam

Bayam serta sayuran berdaun lebat lainnya berfungsi menambah asupan asam folik tubuh. Asam folik sangat penting dalam pembentukan sperma dan indung telur yang sehat serta mencegah cacat tuba saraf pada tahap awal kehamilan. Bayam juga kaya vitamin besi dan vitamin C, 2 kandungan yang berfungsi meningkatkan kualitas seprma dan menjaga Anda agar tetap sehat.

Tiram

Mungkin Anda sudah sering mendengar kalau tiram bagus untuk meningkatkan libido. Bagaimana dengan kesuburan? Tiram kaya akan seng, zat yang diyakini bagus untuk membantu kesehatan sperma dan produksi indung telur. Jika tidak suka tiram, Anda bisa mengganti asupan seng Anda dengan makan kedelai, telur, kacang-kacangan, biji labu dan multi-vitamin.

Makanan bagus lainnya

Bawang putih dan madu merupakan makanan yang bagus bagi kesuburan tapi seringkali tidak diperhatikan. Bawang putih kaya akan selenium, mineral yang diyakini bisa mengurangi kemungkinan keguguran pada perempuan serta juga meningkatkan kesuburan pada laki-laki. Selain itu, bawang putih juga mengandung vitamin B6 yang berfungsi menjaga keseimbangan hormon dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Mungkin karena rasanya yang lebih enak, madu lebih dikenal sebagai makanan yang bisa meningkatkan kesuburan. madu kaya akan mineral-mineral dan asam amino yang bagus untuk sistem reproduksi dan fungsi indung telur.

Menerapkan diet sehat dan gaya hidup sehat bisa membantu meningkatkan kesuburan. Saat mengonsumsi makanan sehat yang bebas pestisida, gula, serta bahan olahan lainnya, Anda pastinya akan merasa lebih baik dan lebih berenergi. Jika memperlakukan tubuh dengan baik, maka tubuh juga akan membantu Anda dalam melakukan pembuahan.


sumber:
http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2009/06/01/1234/3/Makanan-Terbaik-untuk-Kesuburan

Makanan untuk Meningkatkan Kesuburan

Makanan yang dapat meningkatkan kesuburan berperan dalam persiapan kehamilan adalah sangat penting. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa perubahan spesifik dalam asupan nutrisi sehari-hari dapat memperbesar tingkat ovulasi yang sehat, mencegah keguguran berulang dan mendukung kehamilan yang sehat. Nutrisi memainkan peranan besar untuk mendapatkan tubuh dan sistim reproduksi yang baik. Bahan dasar pembuat hormon dalam tubuh berasal dari makanan yang kita makan. Antioksidan yang terkandung dalam makanan juga membantu melindungi telur dan sperma dari radikal bebas. Serangan radikal bebas pada spermatozoa kemungkinan dapat menyebabkan sel tersebut cacat. Misalnya terjadi abnormalitas pada bagian ekor atau kepala, sehingga mempengaruhi mobilitasnya (daya gerak) dalam mencapai dan membuahi sel telur. Akibatnya, sulit terjadi proses kehamilan. Sebaliknya, serangan radikal bebas pada sel telur wanita juga akan berdampak buruk, sehingga proses pembuahan tidak dapat berlangsung dengan baik. Sama seperti nutrisi dalam makanan dapat membantu untuk kesuburan, ada beberapa makanan dan bahan kimia ditambahkan ke dalam makanan yang kurang bagus untuk kesuburan. Anda adalah apa yang Anda makan dan jika Anda makan makanan yang kaya akan vitamin, nutrisi, enzim, dan phytonutrien, Anda akan melihat efek terhadap kesehatan dan kesuburan. Berikut adalah jenis-jenis makanan yang bermanfaat untuk kesuburan:
  • Makanlah banyak sayuran dan buah organik – karena selain gizinya lebih baik, juga bebas pestisida yang dapat berdampak buruk bagi kesuburan. Buah dan sayur kaya serat, terbukti dapat menormalkan kadar gula darah yang menurunkan masalah kesuburan seperti PCOS, imunitas dan meningkatkan keseimbangan hormon. Buah juga kaya antioksidan yang baik untuk kesuburan, dan buah seperti jeruk dan citrus, strawberry kaya asam folat.
  • Hindari Lemak jahat yaitu lemak trans dan lemak jenuh, tapi konsumsilah lemak baik yaitu lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fat) dan lemak tak jenuh majemuk (polyunsaturated fat). Hindari lemak trans, semakin banyak dikonsumsi, para responden yang mengkonsumsi lemak ini makin tinggi infertilitasnya. Lemak trans terbentuk dari minyak sayur cair yang mengalami proses kimia, yaitu hidrogenasi, dimana hidrogen ditambahkan untuk membuat minyak goreng lebih murni. Minyak sayur jenis ini biasa digunakan untuk makanan olahan, karena bisa membuat makanan awet dan memberi bentuk, tekstur, dan rasa yang enak. Makanan yang menggunakan minyak goreng jenis ini, misalnya makanan gorengan, kraker, kue olahan, kripik kentang, donat, kue-kue, dan makanan cepat saji. Sebaliknya, makanan yang mengandung lemak tak jenuh harus dikonsumsi. Lemak tak jenuh majemuk ditemukan dalam minyak wijen, jagung, kedelai, dan ikan salmon. Sumber lemak tak jenuh tunggal ada di dalam minyak zaitun, minyak kacang, dan alpukat.
  • Jenis ikan yang baik untuk kesuburan misalnya: ikan salmon, sarden, ikan cod, ikan kembung, ikan kakap. Ikan-ikan jenis ini penting karena mengandung asam lemak esensial (omega 3) yang merupakan bahan dasar produksi hormon, mengurangi peradangan, dan membantu mengatur siklus menstruasi. Ikan juga merupakan sumber protein dan vitamin A.
  • Susu “Whole Milk”, Yogurt “Full Fat” dan Es Krim adalah termasuk fertility foods. Mungkin susah diterima mengapa makanan yang terkesan “membuat gemuk” itu bermanfaat untuk kesuburan, tapi penelitian di Harvard menyimpulkan bahwa wanita yang mengkonsumsi makanan ini memiliki probem ovulasi yang lebih sedikit dibandingkan wanita yang minum susu low fat (yang telah dihilangkan lemaknya). Susu juga mengandung kalsium yang merupakan nutrisi kesuburan penting. Riset memperkirakan bahwa ketika lemak disingkirkan dari susu, hormon di dalamnya berubah negatif sehingga memengaruhi kesuburan seseorang. Tambahkan asupan susu whole milk untuk meningkatkan kemungkinan kehamilan Anda.
  • Kurangi konsumsi daging-dagingan. Peternakan daging sekarang banyak menggunakan suntikan hormon atau antibiotik pada ternak, yang memberikan kontribusi pada peningkatan level esterogen. Daging ayam kampung lebih baik karena biasanya tidak disuntik hormon penggemuk. Kita tidak perlu jadi vegetarian, namun kurangi saja jumlah dagingnya.
  • Makan roti atau biskuit gandum atau beras merah yang kaya serat, vitamin dan bahan-bahan yang mendukung kekebalan tubuh. Kenapa serat penting? Serat membantu tubuh untuk membuang kelebihan hormon dan membantu untuk menjaga gula darah seimbang. Roti gandum adalah sarapan yang lebih baik daripada roti putih atau nasi bagi pasangan yang sedang mencoba untuk hamil.
  • Protein nabati dari kacang-kacangan lebih baik daripada protein hewani. Kacang tinggi kadar iron (zat besi) yang baik untuk kesehatan.
  • Hindari Kedelai dalam bentuk apapun kecuali bentuk fermentasi seperti miso dan tempe. Paling baik membatasi makanan berbahan dasar kedelai seperti susu kedelai dan tahu.
  • Kurangi konsumsi minuman manis-manis seperti jus buah kemasan (kecuali jus buah segar tanpa gula) – Contoh jus pasteurisasi seperti jus apel botol, jus jeruk, dan jus buah lainnya yang terkonsentrasi dalam botol banyak berisi gula, yang dapat meningkatkan kadar gula darah dan berdampak negatif pada sistem kekebalan tubuh. Juga hindari pemanis buatan dan minuman soda yang manis-manis. Untuk pilihan pemanis tanpa kalori, stevia (sejenis pemanis dari herbal murni, tanpa bahan kimia aditif), madu dan sirup maple merupakan pilihan yang terbaik.
  • Minum banyak air bersih dan kurangi kafein – Jangan lupa minum setidaknya 8 gelas sehari. Air sangat penting untuk keseimbangan hormon. Sedangkan 300 mg kafein menurunkan kesuburan sebesar 27% (American Pregnancy Association).
  • Toge (kecambah) baik untuk kesuburan karena pada saat kacang-kacangan berkecambah terjadi hidrolisis karbohidrat, protein dan lemak menjadi senyawa yang lebih sederhana, sehingga mudah dicerna. Selama proses itu pula terjadi peningkatan jumlah protein dan vitamin, sedangkan kadar lemaknya mengalami penurunan. Tauge adalah sumber vitamin E yang merupakan antioksidan yang dapat melindungi sel dari serangan radikal bebas.
  • Suplemen alami yang terbuat dari bahan-bahan terpilih yang dikenal dapat meningkatkan kesuburan dan telah dibuktikan secara ilmiah, yakni FertilAid for Women (mengandung Vitex, Red Clover, Asam Folat, dll), FertileCM (mengandung L-Arginine), FertilAid for Men (mengandung L-Carnitine, Maca Root, Zinc, Beta Carotene, dll) bisa mencukupi kadar nutrisi Anda ke level terbaik untuk kesuburan.
sumber:
http://wishingbaby.com/makanan-untuk-meningkatkan-kesuburan/


Minggu, 15 Januari 2012

ilmu baru kebidanan woiii.....


Lotus lahir
Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas

Kelahiran teratai, atau nonseverance umbilikalis, adalah praktek meninggalkan tali pusat melekat pada kedua bayi dan kelahiran berikut plasenta, tanpa klem atau memutus, dan memungkinkan kabel waktu untuk melepaskan diri dari bayi secara alami. Dengan cara ini bayi, plasenta kabel dan diperlakukan sebagai satu unit detasemen sampai terjadi, umumnya 2-3 hari setelah lahir.
Lotus kelahiran, hari ketiga pasca persalinan: kabel membuka urat-seperti terlihat di sisi kiri anak, hanya beberapa jam sebelum pelepasan alami. 2007
Isi
 [Sembunyikan]

    1 Praktek
    2 mendasari keyakinan
    3 Sejarah pengembangan
    4 Catatan
    5 Referensi
    6 Pranala luar

[Sunting] Praktek

Segera setelah melahirkan, tali pusar berdenyut karena transfer darah ke plasenta dari bayi, dan sebaliknya. Perubahan Wharton jelly kabel itu kemudian menghasilkan alami menjepit internal dalam 10-20 menit setelah melahirkan [rujukan?] Penyedia Perawatan segera menetapkan skor Apgar dan lanjutkan dengan pengisapan diperlukan atau stimulasi, tetapi biasanya menunda prosedur lebih lanjut untuk memungkinkan bayi untuk memulai. menyusui, dan untuk memiliki kulit-ke-kulit kontak dengan ibu. Bayi, bersama dengan tali pusar dan plasenta, adalah terbungkus oleh lengan ibu, atau dipegang oleh ayah atau perawat jika ibu jahit bedah diperlukan.

Kelebihan cairan dihapus dari plasenta, yang kemudian ditempatkan dalam mangkuk terbuka atau dibungkus dengan kain permeabel dan disimpan di dekat bayi yang baru lahir. Udara diizinkan untuk beredar di sekitar plasenta kering, dan untuk menghindari berbau busuk nya menjadi. Garam laut sering diterapkan pada plasenta untuk membantu mengeringkannya. Kadang-kadang minyak esensial, seperti lavender herbal, atau bubuk, seperti goldenseal atau neem, juga diterapkan untuk mendorong pengeringan, untuk membantu untuk menetralkan bau pembusukan, dan sifat antibakteri mereka. Jika alat bantu pengeringan tidak diterapkan, plasenta baik-anginkan akan mengembangkan aroma, musky yang berbeda yang dapat dihentikan dengan langsung tanam atau dengan penyimpanan berpendingin setelah minggu pertama postpartum.

Tali pusar mengering untuk urat dan setelah beberapa hari secara alami melepaskan dari umbilikus. Karena mengering menjadi kaku; orang tua sehingga menaruh perhatian besar untuk memindahkan bayi dan kabelnya sesedikit mungkin untuk menghindari menyebabkan ia untuk melepaskan prematur.

Kelahiran Lotus jarang dipraktekkan di rumah sakit, tetapi lebih umum di pusat-pusat kelahiran dan kelahiran di rumah.
[Sunting] mendasari keyakinan

Setelah tali pusat berhenti berdenyut memiliki setelah melahirkan, transfer zat fisik lengkap. Namun, pendukung kelahiran teratai melihat bayi dan plasenta sebagai yang ada dalam medan aura yang sama, dengan transfer energi terus berlangsung secara bertahap dari jaringan yang mati dari plasenta ke bayi melalui tali pusat sebagai jaringan plasenta dan pusar kabel mengering. [kutipan diperlukan]

Pendekatan ini bertentangan dengan pelatihan medis umum dan praktek di rumah sakit dan pusat kesehatan global, yang nikmat manajemen aktif persalinan tahap ketiga (pengiriman plasenta): pemberian obat oxytocic, eksternal langsung menjepit kabel pada saat lahir, pemotongan itu segera, kemudian menerapkan traksi untuk kabel untuk mempercepat kelahiran plasenta [1]. Darah tali pusat mungkin atau mungkin tidak dipanen untuk perbankan tali darah. Tali pusat bayi dan plasenta kemudian dibuang sebagai limbah medis, atau, dengan persetujuan ibu, mungkin disumbangkan untuk penelitian dalam kehamilan dan gangguan kehamilan.
Diperpanjang-tertunda kabel perawatan pesangon: utuh umbilikus satu jam postpartum. 2006

Primatologi Jane Goodall, yang adalah orang pertama untuk melakukan studi jangka panjang dari simpanse di alam liar, melaporkan bahwa mereka tidak mengunyah atau memotong tali keturunan mereka, bukannya meninggalkan umbilikus utuh. [2]
[Sunting] Sejarah pengembangan

Di Tibet dan Zen Buddhisme, istilah "teratai lahir" digunakan untuk menggambarkan guru spiritual seperti Buddha Gautama dan Padmasambhava (Lien-hua Sen), menekankan mereka masuk ke dunia sebagai utuh, anak-anak kudus. Referensi untuk kelahiran teratai juga ditemukan dalam agama Hindu, misalnya dalam kisah kelahiran Wisnu [kutipan diperlukan].

Meskipun baru-baru ini muncul sebagai suatu fenomena kelahiran alternatif dalam pesangon, pusar Barat tertunda dan nonseverance pusar telah tercatat dalam sejumlah kebudayaan, termasuk yang dari Bali [3] dan beberapa orang aborigin seperti! Kung.

Pionir awal Amerika, yang ditulis dalam buku harian dan surat, dilaporkan berlatih nonseverance umbilikus sebagai tindakan pencegahan untuk melindungi bayi dari infeksi luka terbuka. [4]

Praktek ini diperoleh perhatikan dalam komunitas praktisi yoga saat Jeannine Parvati Baker, penulis buku pertama tentang prenatal yoga di Yoga, Barat Prenatal & Persalinan Alam, dipraktekkan nonseverance umbilikalis untuk dua kelahiran sendiri, melihatnya sebagai aplikasi praktis dari yoga nilai ahimsa serta mengajar yoga inti yang melekat dalam proses ikatan primal bahwa "semua lampiran akan jatuh jauh dari kemauan sendiri."

Pada 1990-an, Sarah Buckley MD, seorang dokter keluarga Australia dan mencatat penasehat orangtua untuk majalah Mothering, diterbitkan kisah-kisah kelahiran pribadinya dalam Lahir teks Lotus, ia telah menghasilkan banyak publikasi ilmiah penelitiannya tentang manfaat fisiologis pengelolaan pasif ketiga tahap kerja [5].

Nonseverance umbilical adalah pilihan pilihan informasi saat ini dipraktekkan oleh minoritas keluarga lahir homebirth dan rumah sakit (lihat penelitian Sarah Buckley, MD dan internasional Robin Lim bidan), dan topik pendidikan semakin populer berkelanjutan bagi bidan bidan perawat berlisensi dan bersertifikat dalam publikasi seperti majalah dan Kebidanan Hari Mothering. Terutama menarik untuk para profesional adalah tidak adanya penurunan berat badan yang dilaporkan sehat ikterus neonatal dan menyusui dalam skenario kelahiran teratai; studi korelasi ini telah menunjukkan peningkatan risiko yang signifikan dari penyakit kuning pada bayi dimana tali pusat dijepit lambat 60 detik setelah lahir [. 6]
Umbilical nonseverance, postpartum air rendaman sesaat setelah melahirkan di rumah. 2005
[Sunting] Catatan

    ^ "Pengelolaan Tahap Ketiga Tenaga Kerja". Diperoleh 2007/12/29.
    ^ Lihat Dalam Bayangan Manusia oleh Jane Goodall.
    ^ Lihat Eat, Pray, Love oleh Elizabeth Gilbert, hlm 252-252
    ^ Leavitt, Judith Walzer. Dibawa ke Bed: Melahirkan anak di Amerika, 1750 1950. New York: Oxford University Press, 1986 pp.21-37
    ^ Buckley, Sarah. "Meninggalkan baik sendirian: Sebuah pendekatan alami untuk tahap ketiga dari tenaga kerja". Diperoleh 2007/12/29.
    ^ Http://www.cochrane.org/reviews/en/ab004074.html

[Sunting] Referensi

    Buckley MD, Sarah.. Lembut Kelahiran, Mothering Lembut, Australia, 2006
    Davies, Leap, McDonald. Pemeriksaan Kesehatan Bayi & Neonatal: Pendekatan multidimensi, Elsevier Ilmu Kesehatan, 2008. ISBN 0443103399
    Lim, Robin. Setelah Kelahiran Bayi: Sebuah Panduan Lengkap untuk Perempuan postpartum, Ten Speed ​​Press, AS 2001
    Rachana, Shivam. Lotus Kelahiran, Greenwood Press, Australia, 2000
    Parvati Baker, Jeannine. Prenatal Yoga & Persalinan Alam, Buku Atlantik Utara, AS, 2001
    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Perawatan dalam kelahiran normal: Sebuah panduan praktis, laporan kelompok kerja teknis, Jenewa, Swiss, 1997

[Sunting] Pranala luar

    Lotus Kelahiran, Ritual Untuk Our Times oleh Sarah Buckley, MD
    Pertanyaan umum tentang kelahiran teratai
    Yoga Filsafat dan Psikologi Perinatal Lahir Lotus
    International College of Kebidanan Spiritual: Lotus Lahir
    Sebuah Kelahiran Lotus, Book oleh Jenny Hatch
    http://www.lotusfertility.com/Lotus_Birth_For_Midwives.html
    Yehezkiel 16 (New American Bible)
    Jane Goodall situs Pusat Penelitian
    Asosiasi Psikologi Pra & Perinatal & website resmi Kesehatan
    Organisasi Kesehatan Dunia standar perawatan untuk Tahap Ketiga Tenaga Kerja

Lihat peringkat halaman
Tingkat halaman ini
Apa ini?
Terpercaya
Tujuan
Lengkap
Ditulis dengan baik
Saya sangat berpengetahuan tentang topik ini (opsional)
Kategori:

    Persalinan

    Masuk log / buat akun

    Pasal
    Bicara

    Baca
    Mengedit

    Halaman Utama
    Isi
    Menampilkan isi
    Saat acara
    Random article
    Donasi ke Wikipedia

Interaksi

    Bantuan
    Tentang Wikipedia
    Portal komunitas
    Perubahan terakhir
    Hubungi Wikipedia

Toolbox
Cetak / ekspor
Bahasa

    Polski

    Halaman ini terakhir diubah pada tanggal 11 Januari 2012 di 02:33.
    Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk rincian.
    Wikipedia ® adalah merek dagang terdaftar dari Wikimedia Foundation, Inc, sebuah organisasi non-profit.
    Hubungi kami

    Kebijakan privasi
    Tentang Wikipedia
    Penyangkalan
    Tampilan ponsel

    Wikimedia Foundation
Baru! Klik kata di atas untuk melihat terjemahan alternatif. Singkirkan


Rabu, 04 Januari 2012

JUDUL KTI

Judul KTI

ANDA MEMBUTUHKAN REFERENSI DALAM PEMBUATAN KARYA TULIS ILMIAH DAN SKRIPSI KHUSUSNYA BIDANG KESEHATAN ……!
Kami menyediakan beberapa judul KTI dan Skripsi yang lengkap yang dapat anda gunakan sebagai referensi dalam pembuatan KTI kebidanan ataupun Skripsi Keperawatan mulai dari awal sampai dengan lampiran sehingga dapat memudahkan anda dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah Anda. Keseluruhan Judul yang kami sediakan di bawah ini adalah KTI yang memiliki data lengkap dari KTI tersebut, jika ada yang menjual dengan judul yang sama, maka kami tidak menjamin kelengkapannya (ex: lampiran + analisa datanya + kuisioner, dll), karena data yang pernah kami sebar hanya isinya saja….. SPESIAL PROMO :  BAGI 10 ORANG PEMESAN PERTAMA UNTUK SETIAP HARINYA KAMI MEMBERIKAN BONUS (100 + ASUHAN KEBIDANAN LENGKAP) SEBAGAI BAHAN REFERENSI PENYUSUNAN ASKEB BAIK PATOLOGIS DAN FISIOLOGIS
A
  1. ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELENGKAPAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN PADA IBU YANG MEMILIKI BALITA
  2. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI PIL KB PADA AKSEPTOR KB
  3. ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI TINDAKAN IBU DALAM PENCARIAN PENGOBATAN DAN PEMULIHAN PENYAKIT PNEUMONIA PADA BALITA
  4. ANALISIS KEJADIAN CAMPAK PADA ANAK BALITA
  5. ANALISIS KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA
  6. ANALISIS PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK PADA AKSEPTOR KB
  7. ANALISA SENAM HAMIL PADA IBU HAMIL DI KELAS IBU DI POSYANDU XXX
  8. ANALISIS PERBEDAAN BERAT BADAN SEBELUM DAN SESUDAH SETELAH MENGIKUTI KB SUNTIK XXX (*FILE PDF)
C
  1. CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS DI BPS WILAYAH KERJA XXX
E
  1. EFEKTIFITAS PIJAT PERINEUM TERHADAP RUPTUR PERINEUM *)
  2. EFEKTIVITAS METODE KANGURU MENGURANGI RASA NYERI PADA PENYUNTIKAN INTRA MUSKULER PADA BAYI BARU LAHIR DI RS*)
F
  1. FAKTOR-FAKTOR NON FISIK SULIT MAKAN PADA BALITA DI PAUD XXXXXX
  2. FAKTOR PENYEBAB SUAMI MEMILIH ALAT KONTRASEPSI VASEKTOMI DAN TIDAK MEMILIH ALAT KONTRASEPSI VASEKTOMI (ANALISIS KUALITATIF)
  3. FAKTOR PENYEBAB SUAMI MEMILIH KONDOM DAN TIDAK MEMILIH KONDOM (ANALISIS KUALITATIF)
  4. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  5. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI DAN PASI PADA IBU YANG MEMPUNYAI BAYI USIA 0-6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  6. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR *)
  7. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENURUNAN SEKSUAL PADA IBU MENOPAUSE DI DESA XXX
  8. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN WANITA PRE MENOPAUSE DI DESA XXX
  9. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA(TERBARU)
  10. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS (ISPA) PADA BALITA
  11. FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT INFEKSI PADA ANAK BALITA
  12. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PARTUS LAMA DI RS (TERBARU)
  13. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS (TERBARU)
  14. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERAN KADER DALAM KEGIATAN POSYANDU (TERBARU)
  15. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU MENYUSUI BAYI USIA 6-12 BULAN (TERBARU)
  16. FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU MEMILIH  PENOLONG  PERSALINAN (TERBARU)
  17. FAKTOR-FAKTOR YANG  BERHUBUNGAN  DENGAN  STATUS IMUNISASI  DIFTERI  PERTUSIS TETANUS (DPT) DAN CAMPAK
  18. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA
  19. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANEMIA DALAM KEHAMILAN DI BPS XXX
  20. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HUBUNGAN SEKS PASCA NIFAS DI DESA XXX
  21. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MEMBERIKAN MAKANAN TAMBAHAN PADA BAYI USIA KURANG DARI ENAM BULAN
  22. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MELAKUKAN PIJAT BAYI (ANALISA KUALITATIF)
  23. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU TIDAK MEMBERIKAN ASI EKSLUSIF KEPADA BAYINYA *)
  24. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEAKTIFAN KADER POSYANDU DALAM USAHA PERBAIKAN GIZI KELUARGA
  25. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEENGANAN AKSEPTOR KB UNTUK MENGGUNAKAN ALAT KONTRASEPSI IUD DI PUSKESMAS XXX
  26. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMPLIKASI PERSALINAN USIA REMAJA DI PUSKESMAS XXX
  27. FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEIKUTSERTAAN WANITA PASANGAN USIA SUBUR DALAM PENGGUNAAN KB IUD
  28. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT IBU TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI IMPLANT DI DESA XXX
  29. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN VITAMIN A PADA BAYI OLEH KADER DI POSYANDU WILAYAH PUSKESMAS XXX
  30. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSALINAN OLEH DUKUN TERLATIH
  31. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POLA MAKAN PADA BALITA DI PEKON XXXX
  32. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA CAKUPAN KN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  33. FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA ANEMIA PADA IBU HAMIL
G
  1. GAMBARAN AKSEPTOR KB AKDR DI KECAMATAN XXX
  2. GAMBARAN AKSEPTOR KB METODE OPERATIF PRIA (MOP) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  3. GAMBARAN  FAKTOR-FAKTOR KEPATUHAN IBU DALAM  PELAKSANAAN IMUNISASI BCG BAYI DI DESA (TERBARU)
  4. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KURANG ENERGI KRONIS (KEK) PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  5. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA ROBEKAN PERINEUM PADA IBU BERSALIN DI BPS XXX
  6. GAMBARAN FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOBILISASI DINI PADA IBU PASCA SEKSIO SESAREA *)
  7. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN WANITA PASANGAN USIA SUBUR TIDAK MENGGUNAKAN KONTRASEPSI TUBEKTOMI DI KELURAHAN XXX
  8. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STATUS GIZI PADA BALITA DI DESA XXXX
  9. GAMBARAN IBU HAMIL YANG MENGALAMI ABORTUS DI RSU XXX
  10. GAMBARAN INDIKASI PERSALINAN SEKSIO SESAREA DI RUANG BERSALIN RSU XXX
  11. GAMBARAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  12. GAMBARAN KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS (TERBARU)
  13. GAMBARAN KUNJUNGAN LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  14. GAMBARAN PELAKSANAAN 5T PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  15. GAMBARAN PELAKSANAAN KELAS IBU DI WILAYAH KERJA XXX
  16. GAMBARAN PELAKSANAAN PEMANTAUAN MASA NIFAS OLEH DUKUN DI DESA XXX
  17. GAMBARAN PELAKSANAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA SISWA SISWI SDN XXX
  18. GAMBARAN PEMBERIAN SALEP MATA PADA BAYI BARU LAHIR PADA BPS XXX
  19. GAMBARAN PEMROSESAN ALAT BEKAS PAKAI PADA PROSES PERSALINAN PADA BPS XXX
  20. GAMBARAN PENATALAKSANAAN BAYI BARU LAHIR NORMAL 0-6 JAM DI BPS WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  21. GAMBARAN PENATALAKSANAAN CARA MEMANDIKAN NEONATUS 0-7 HARI TERHADAP IBU NIFAS DI BPS XXX
  22. GAMBARAN PENATALAKSANAAN CARA MENYUSUI BAYI 0-6 BULAN OLEH IBU DI BPS XXX
  23. GAMBARAN PENATALAKSANAAN MANAJEMEN AKTIF KALA III DI BPS XXX
  24. GAMBARAN PENATALAKSANAAN MANAJEMEN LAKTASI MASA NIFAS DINI OLEH PETUGAS KESEHATAN TERHADAP IBU-IBU POST PARTUM
  25. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING PIL ORAL KOMBINASI (POK) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  26. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PRIA TENTANG MOP DI KELURAHAN XXX
  27. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB ALAMIAH METODE KALENDER
  28. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK TENTANG EFEK SAMPING DEPO MEDROXYPROGESTERONE ASETAT (DMPA) DI RB XXX
  29. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI IBU HAMIL DALAM PELAKSANAAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS XXXX
  30. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PRAKTEK PIJAT BAYI 0-6 BULAN OLEH IBU DI DESA XXX
  31. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG MENARCHE
  32. GAMBARAN PENGETAHUAN PEKERJA WANITA TENTANG ANEMIA (TERBARU)
  33. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA TENTANG SEKS BEBAS DI SMA XXX
  34. GAMBARAN PENGETAHUAN DUKUN TENTANG TUGAS DUKUN DALAM PERAWATAN PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  35. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU BALITA 2-4 TAHUN TENTANG PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI DESA XXX
  36. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TERHADAP TANDA-TANDA BAHAYA KEHAMILAN DI RB. XXX
  37. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS XXX
  38. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG PERAWATAN PAYUDARA
  39. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER I TENTANG EMESIS GRAVIDARUM DI RB XXX
  40. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI BAYI 0-6 BULAN TENTANG ASI EKSKLUSIF DI DESA XXX
  41. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PERAWATAN TALI PUSAT DI DESA XXX
  42. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA BAHAYA MASA NIFAS DI DESA XXX
  43. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DASAR
  44. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN MOTORIK PADA BAYI 0-12 BULAN DI DESA XXX
  45. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG VITAMIN A DI POSYANDU XXX WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  46. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI BAYI 0-1 TAHUN TENTANG ISPA DI DESA XXX
  47. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMPUNYAI BAYI USIA 0-6 BULAN TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI
  48. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU USIA 30-60 TAHUN TENTANG PAP SMEAR XXX
  49. GAMBARAN PENGETAHUAN PRIMIPARA TERHADAP PERKEMBANGAN BAYI 0-1 TAHUN DI KELURAHAN XXX
  50. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KEBERSIHAN ALAT KELAMIN PADA SAAT MENSTRUASI DI DUSUN XXX
  51. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG ABORSI DI SMA XXX
  52. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG PENYAKIT MENULAR SEKSUAL PADA SMU XXX
  53. GAMBARAN PENGETAHUAN SISWA KELAS VI TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
  54. GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA USIA 25-30 TAHUN TENTANG PENTINGNYA KONSUMSI KALSIUM UNTUK MENCEGAH OSTEOPOROSIS DI DESA XXX
  55. GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN EKONOMI IBU YANG MEMILIKI BALITA DENGAN KEJADIAN DIARE DI PUSKESMAS XXX
  56. GAMBARAN PENYAPIHAN ANAK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  57. GAMBARAN PENYAPIHAN ANAK KURANG DARI 2 TAHUN DI DESA XXX
  58. GAMBARAN PERSALINAN OLEH DUKUN TERLATIH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  59. GAMBARAN PERILAKU ORANGTUA TERHADAP ANAK BALITA PENDERITA GIZI BURUK
  60. GAMBARAN RENDAHNYA CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA DI POSYANDU XXX
  61. GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU DALAM MENGHADAPI PERSALINAN DI XXX
  62. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA MENGENAI POSYANDU
  63. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG SENAM HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  64. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP KEPUTIHAN DI DESA XXX
  65. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP RESIKO PERKAWINAN DINI PADA KEHAMILAN DAN PROSES PERSALINAN DI DESA XXX
H
  1. HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN XXX (*File PDF)
  2. HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN DENGAN KEJADIAN PRE EKLAMPSI PADA IBU BERSALIN DI RUMAH SAKIT (TERBARU)
  3. HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN XXX
  4. HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN VAKSINASI BCG DENGAN KEJADIAN PENYAKIT TB PADA ANAK USIA < 15 TAHUN (TERBARU)
  5. HUBUNGAN ANTARA PERSONAL HYGIENE DENGAN KEPUTIHAN PADA REMAJA PUTRI KELAS X DAN XI DI SMA XXX
  6. HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN MENARCHE PADA SISWI XXX
  7. HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTURE PERINEUM PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA DI BPS XXX
  8. HUBUNGAN KENAIKAN BERAT BADAN IBU HAMIL DENGAN BERAT BADAN BAYI LAHIR (TERBARU)
  9. HUBUNGAN LUKA JAHITAN PERINEUM TERHADAP HUBUNGAN SEKS PASCA NIFAS DI DESA XXX
  10. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN INFORMASI TENTANG METODE KONTRASEPSI MANTAP PRIA TERHADAP PERAN SERTA SUAMI DALAM GERAKAN KB DI KELURAHAN XXX.
  11. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP AKSEPTOR KB AKTIF DENGAN PENGGUNAAN AKDR (TERBARU)
  12. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PELAKSANAAN INISIASI MENYUSUI DINI PADA IBU POST PARTUM (TERBARU)
  13. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BATITA DENGAN CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK DI PUSKESMAS (TERBARU)
  14. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI (TERBARU)
  15. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA XXX
  16. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU NIFAS DENGAN KUNJUNGAN MASA NIFAS DI PUSKESMAS XXX
  17. HUBUNGAN PENGETAHUAN REMAJA DENGAN KEHAMILAN REMAJA (TERBARU)
  18. HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG GIZI IBU HAMIL DENGAN ANEMIA(TERBARU)
  19. HUBUNGAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 4–12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (File PDF)
  20. HUBUNGAN STRES DENGAN GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI TERHADAP MAHASISWA TINGKAT I AKBID XXX
  21. HUBUNGAN TINGKAT EKONOMI DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DENGAN WAKTU MEMULAI PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DI DESA XXX
  22. HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DAN TINGKAT EKONOMI KELUARGA DENGAN PERTUMBUHAN FISIK BALITA (TERBARU)
  23. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI TERHADAP PEMBERIAN PASI PADA BAYI 0-6 BULAN DI PUSKESMAS PEMBANTU XXX
  24. HUBUNGAN UMUR KEHAMILAN DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN BBLR(TERBARU)
  25. HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU TERHADAP KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RS. XXX
  26. HUBUNGAN  USIA GESTASI DAN APGAR SKOR  DENGAN KEMATIAN NEONATAL  BERAT BADAN LAHIR RENDAH (TERBARU)
K
  1. KARAKTERISITK AKSEPTOR KB POK (PIL ORAL KOMBINASI) DI KELURAHAN XXX
  2. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  3. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI DESA XXXXX WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  4. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  5. KARAKTERISTIK BALITA YANG MENDERITA ISPA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  6. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN EKSTRAKSI VAKUM DI RB XXX
  7. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN KEHAMILAN LEWAT WAKTU (POSTDATE) DI PUSKESMAS XXX
  8. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN PARTUS LAMA DI RS. XXX
  9. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN RETENSIO PLASENTA DI BPS XXX
  10. KARAKTERISTIK IBU DENGAN BALITA BGM
  11. KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN PRE-EKLAMSI DI RUMAH SAKIT UMUM XXX
  12. KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MELAKSANAKAN ANTENATAL CARE DI BPS XXX
  13. KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MENGKONSUMSI TABLET FE DI KELURAHAN XXX
  14. KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI YANG MENGALAMI PUTTING SUSU LECET  PADA SAAT AWAL LAKTASI (ANALISA KUALITATIF)
  15. KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI YANG TIDAK MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF DI DESA XXX
  16. KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI YANG TIDAK MEMBERIKAN COLOSTRUM PADA BBL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  17. KARAKTERISTIK IBU PRIMIPARA YANG MEMILIKIBAYI 0-1 TAHUN DAN PENGETAHUAN IBU TENTANG RUAM POPOK DI PUSKESMAS XXX
  18. KARAKTERISTIK IBU YANG MEMERIKSAKAN PAP SMEAR DI RUMAH SAKIT XXX
  19. KARAKTERISTIK PASANGAN USIA SUBUR YANG TIDAK MENGIKUTI PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI DESA XXX
  20. KARAKTERISTIK PELAKSANAAN SENAM LANSIA DI POSYANDU XXX
P
  1. PELAKSANAAN METODE AMENORE LAKTASI PADA IBU PASCA NIFAS
  2. PENATALAKSANAAN PENCEGAHAN INFEKSI PADA PROSES PERTOLONGAN PERSALINAN DI KLINIK XXX
  3. PENATALAKSANAAN PIJAT BAYI OLEH DUKUN PIJAT BAYI PADA BAYI USIA 1-7 BULAN DI DESA XXX
  4. PENDUGAAN HUBUNGAN ANTARA KURANG GIZI PADA BALITA DENGAN KURANG ENERGI PROTEIN RINGAN DAN SEDANG DI WILAYAH PUSKESMAS XXX (*file PDF)
  5. PENGARUH INISIASI MENYUSUI DINI (IMD) TERHADAP INVOLUSI UTERUS PADA IBU POST PARTUM
  6. PENGARUH PERAWATAN ROOMING IN TERHADAP PRODUKSI ASI PADA IBU POSTPARTUM
  7. PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING POK (PIL ORAL KOMBINASI) DI KELURAHAN XXX
  8. PENGETAHUAN BENDUNGAN ASI PADA IBU POST PARTUM PRIMIPARA DI RB XXX
  9. PENGETAHUAN BIDAN TENTANG JENIS MAKANAN YANG DIHINDARI IBU HAMIL
  10. PENGETAHUAN DAN APLIKASI MAHASISWI TINGKAT II AKBID XXX TENTANG PARTOGRAF
  11. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG PERSIAPAN PERSALINAN DI BPS XXX
  12. PENGETAHUAN DAN SIKAP BIDAN TERHADAP APLIKASI PARTOGRAF (TERBARU)
  13. PENGETAHUAN DAN SIKAP BIDAN TENTANG METODE KANGGURU
  14. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG RESIKO 4 T
  15. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DAN BALITA DI DESA XXX
  16. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG TEKNIK  MENGEDAN YANG BENAR PADA PROSES PERSALINAN NORMAL
  17. PENGETAHUAN DAN SIKAP PASANGAN USIA SUBUR TENTANG INFERTILITAS
  18. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG KEPUTIHAN
  19. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG MASTURBASI
  20. PENGETAHUAN DAN TINDAKAN IBU DALAM PERAWATAN PERIANAL TERHADAP PENCEGAHAN RUAM POPOK PADA NEONATUS
  21. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS XXX DITINJAU DARI SEGI UMUR, PENDIDIKAN, PEKERJAAN DAN PARITAS
  22. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KONTAK PERTAMA KALI DENGAN TENAGA KESEHATAN ( K1 ) DI BPS XXX
  23. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANEMIA DAN TABLET FE
  24. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TABLET FE DI PUSKESMAS XXX
  25. PENGETAHUAN IBU HAMIL TERHADAP DAMPAK MENGKONSUMSI KOPI BAGI KEHAMILAN DI BPS XXX
  26. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG ALAT KONTRASEPSI KB SUNTIK
  27. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG CARA MENYUSUI DI DESA XXX
  28. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG DAMPAK PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA KURANG DARI 6 BULAN
  29. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI 6 – 24 BULAN
  30. PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG SENAM NIFAS
  31. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG KEHAMILAN DI RB XXX
  32. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TERHADAP PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA MASA KEHAMILAN DI BPS. XXX
  33. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III TENTANG TANDA-TANDA PERSALINAN DI BPS XXX
  34. PENGETAHUAN IBU PRIMIPARA TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXX
  35. PENGETAHUAN IBU PRIMIPARA 3-6 HARI TENTANG BENDUNGAN ASI
  36. PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BALITA USIA 1-2 TAHUN DI DESA XXX
  37. PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI IBU HAMIL DI BPS
  38. PENGETAHUAN IBU TENTANG SIRKUMSISI PADA ANAK PEREMPUAN
  39. PENGETAHUAN REMAJA AWAL (11-13 TAHUN) TENTANG PENGERTIAN DAN PERUBAHAN FISIK PUBERTAS DI SMP XXX
  40. PENGETAHUAN REMAJA MENGENAI BAHAYA MEROKOK DI XXX
  41. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI MASA PUBERTAS TENTANG SEKS SEKUNDER
  42. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI MASA PUBERTAS TENTANG DYSMENORE DI SMP XXX
  43. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KANKER PAYUDARA DI XXX
  44. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG MENSTRUASI DI SMP XXX
  45. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG SADARI
  46. PENGETAHUAN SISWA-SISWI TENTANG BAHAYA NARKOBA DI SMA XXX
  47. PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA MEROKOK PADA SISWA XXX
  48. PENGETAHUAN, SIKAP DAN EKONOMI IBU YANG MEMILIKI BALITA DENGAN KEJADIAN DIARE
  49. PENGETAHUAN TENTANG ISPA PADA IBU YANG MEMILIKI BALITA SAKIT ISPA YANG BEROBAT KE PUSKESMAS XXX
  50. PENGETAHUAN WANITA PRA-MENOPAUSE TENTANG PERUBAHAN FISIOLOGIS MENOPAUSE DI DESA XXX
  51. PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR TENTANG METODE KONTRASEPSI EFEKTIF TERPILIH DI PUSKESMAS XXX
  52. PENYEBAB STATUS GIZI KURANG PADA IBU HAMIL
  53. PERBEDAAN PREVALENSI PENYAKIT DIARE PADA BAYI DENGAN ASI EKSKLUSIF DAN TIDAK EKSKLUSIF DI PUSKESMAS XXX
S
  1. SIKAP DAN TINDAKAN BIDAN TERHADAP PENANGANAN RETENSIO PLASENTA
T
  1. TINDAKAN BIDAN DALAM PENERAPAN INISIASI MENYUSU DINI
  2. TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG SEKS BEBAS DI SMK XXX
  3. TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG PERIKSA PAYUDARA SENDIRI (SADARI) DI SMU XXX
  4. TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KEPATUHAN MENGKONSUMSI TABLET FE DI PUSTU XXX
  5. TINJAUAN PELAKSANAAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN DI PUSKESMAS XXX 
   sumber:
http://bascommetro.wordpress.com/kumpulan-judul-kti/



Daftar Judul Skrispi Mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan Tahun Akademik Gasal 2010/2011
No
Nama
NIM
Judul 
Tanggal Pengesahan
 1
Chris Sriyanti010830473Correlation Between Knowledge of Breast Cancer and Breast Self Examination (BSE) of Midwifery Students on Medecine Faculty Airlangga University
25/02/10
 2Dwi Iz'zati 010830465Kejadian Ikterus pada Bayi Antara Penjepitan Tali Pusat Dini Dengan Penjepitan Tali Pusat Lambat di BPS Farida Hajri Surabaya 
02/03/10
 3Ni Made Padmi Anggarani 010830461Hubungan Tinggi Fundus Uteri dengan Jenis Persalinan di RSUD Dr. Mohammad Soewandhi Surabaya 
19/02/10
 4Lailul Mufidah 010830440Hubungan Karakteristik, Pengetahuan, Sikap dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi IUD (di Kecamatan Gedangan Kabupaten Sidoarjo) 
Mar 10
 5Ainun Nafiah010830478Faktor Risiko Penggunaan Kontrasepsi Pil Oral Kombinasi (POK) dan Riwayat Keluarga Terhadap Kejadian Kanker Payudara di Poli Onkologi Satu Atap (POSA) RSU Dr.Soetomo dan Yayasan Kanker Wisnuwardhana 
 6Andah Septiana 010830462Gambaran Menstruasi Ibu pada Akseptor KB Suntik Kombinasi dan Suntik DMPA (Progestin) di RB Ani Lubis Kota Jambi Tahun 2010 
 7Aprilia Widjayanti010830451Gambaran Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Pemberian ASI eksklusif Berdasarkan Karakteristik Ibu di Puskesmas Kecamatan Karang Ploso Kabupaten Malang 
 8Ari Tri Rahayu 010830448Faktor Karakteristik Ibu Yang Mempengaruhi Kelengkapan Imunisasi Dasar Bayi di Puskesmas Kanor Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro
 9Aulia Insani Wisudana 010830434Hubungan KIPI DPT dan Karakteristik Ibu Bayi Usia 2-6 Bulan dengan Motivasi Ibu Terhadap Immunisasi Selanjutnya - Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanggungharjo Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan Jawa Tengah 
10
Baharika Suci Dwi Aningsih010830460Hubungan Penggunaan Kontrasepsi Progestin pada Ibu Yang Menyusui dengan Kecukupan Produksi ASI (di BPS Juniati Soesanto Mojo Surabaya) 
04/03/10
11Dintje Meyty Kojong 010830475Hubungan Perubahan Fisik dan Psikis dengan Penerimaan Wanita pada Masa Klimakterium di Kelurahan Wawali Kecamatan Ratahan Kabupaten Minahasa Tenggara 
12Diyan Indrayani 010830471Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Tentang Kanker Serviks dan Perilaku Deteksi Dini Kanker Serviks di Kelurahan Pacar Kembang Kota Surabaya 
13Ferina 010830472Hubungan Antara Frekuensi Kunjungan Asuhan Antenatal dengan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Trimester III Tentang Persiapan Persalinan dan  Kegawatdaruratan (Studi di Puskesmas Jagir Kota Surabaya Pada 11-23 Januari 2010) 
24/02/10
14Fitria Edni Wari 010830455Hubungan Antara Preeklampsia dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Mohamad Suwandhie - Surabaya 
16/02/10
15I Gusti Ayu Prami Dewi 010830474Hubungan Antara Eklampsia dengan Tindakan Seksio Sesarea di VK-IRD RSU Dr. Soetomo Surabaya Tahun 2009 
16Ivon Diah Wittiarika 010830437Hubungan Antara Tingkat Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Kejadian Preeklampsia di RSU Dr. Soetomo Surabaya 
05/03/10
17Kiswatin010830463Pengaruh Preeklampsia Terhadap Kejadian Persalinan Preterm di VK IRD RSU Dr. Soetomo Surabaya 
18Lola Noviani Fadilah 010830477Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Keputihan dengan Perilaku Pencegahan Keputihan pada Remaja Perempuan di SMK Muhammadiyah I Surabaya 
19Nidatul Khofiyah 010830445Hubungan Antara Status Gizi dan Pola Asuh Gizi dengan Perkembangan Anak Usia 6-24 Bulan (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Banyuurip Kabupaten Purworejo) 
22/02/10
20Ningrum Paramita Sari010830469Gambaran Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Pelayanan Bidan Delima di Wilayah Ranting Surabaya Timur 
23/02/10
21Nur Chabibah 010830446Hubungan Tingkat Kepedulian Orang Tua dalam Membimbing Anak dengan Perilaku Seksual Remaja - di SMA Negeri 1 Pemalang Dan SMA PGRI 1 Taman Kabupaten Pemalang 
11/02/10
22Nur Fadjri Nilakesuma010830458Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Antenatal Care dengan Frekuensi Kunjungan Antenatal Ibu Hamil di BPS Juniati Soesanto Kelurahan Mojo Surabaya Tahun 2009
23Nur Hasanah010830476Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dengan Pelaksanaan IMD di Ruang Nifas Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik
04/03/10
24Nurul Umairoh010830464Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Suami Terhadap KB Metode Operatif Pria (MOP) (Di Dusun Mlilir Wilayah Kerja Puskesmas Purwoasri Kabupaten Kediri)
25Qudrotin010830438Hubungan Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap Perilaku Pacaran pada Remaja Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo
26Ratna Dwi Jayanti010830447Hubungan Pengetahuan Tentang Bahaya Seks Pranikah dengan Perilaku Seksual Remaja di SMAN Tanjunganom Kabupaten Nganjuk
17/02/10
27Rize Budi Amalia 010830454Hubungan Antara Perencanaan Kehamilan dengan Kunjungan Antenatal di Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso
28Santi Sofiyanti 010830467Pengaruh Penyuluhan Oleh Pendidik Sebaya Terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa Mengenai HIV dan AIDS di SMAN 9 Bandung
29Siti Adha010830449Perbedaan Kejadian Seksio Sesarea pada Kasus Ketuban Pecah Prematur (KPP) dengan Bukan Ketuban Pecah Prematur (NON – KPP) di RSUD dr.Mohamad Soewandhie Surabaya
30Siti Anisak010830450Hubungan Antara Pengetahuan Peserta KB Tentang Kontrasepsi IUD dan Keikutsertaan Kontrasepsi IUD di Klinik / RB Syifa'un Naas Sidoarjo
31Sri Wahyuningsih P010830453Hubungan Antara Pengetahuan Remaja Tentang Pubertas dengan Perilaku Seksual Remaja pada Masa Pubertas di SMP UNESA 2 Surabaya (Penelitian Cross Sectional)
32Sultanah Zahariah010830436Hubungan Antara Derajat Preeklampsia dengan Kejadian BBLR di VK-IRD RSU Dr. Soetomo Surabaya Tahun 2009
33Woro Setia Ningtyas010830470Analisa Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Deteksi Dini Kanker Serviks pada Bidan Praktik Swasta di Wilayah Surabaya Timur (Penelitian Cross-Sectional)
17/02/10
34Zulfa Rufaida010830452Perbedaan Kejadian Asfiksia Neonatorium Pada Kasus Ketuban Pecah Prematur (KPP) dengan Bukan Ketuban Pecah Prematur (NON – KPP) di RSUD dr. Mohamad Soewandhie Surabaya 
  sumber
http://www.fk.unair.ac.id/index.php/Sarjana-Kebidanan/daftar-judul-skripsi-mahasiswa-s1-kebidanan.html