Selasa, 05 Februari 2013

PNEUMONIA


Radang paru-paru (bahasa Inggrispneumonia) adalah sebuah penyakit pada paru-parudi mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dariatmosfer meradang dan terisi oleh cairan. Radang paru-paru dapat disebabkan oleh beberapa penyebab, termasuk infeksi oleh bakteriavirusjamur, atau pasilan (parasite). Radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri biasanya diakibatkan oleh bakteristreptococcus dan mycoplasma pneumoniae. Radang paru-paru dapat juga disebabkan oleh kepedihan zat-zat kimia atau cedera jasmani pada paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya, seperti kanker paru-paru atau berlebihan minum alkohol.
Gejala yang berhubungan dengan radang paru-paru termasuk batuksakit dadademam, dan kesulitan bernapas. Alat diagnosa termasuk Sinar-X dan pemeriksaan dahak. Perawatan tergantung dari penyebab radang paru-paru; radang paru-paru disebabkan bakteri dirawat dengan antibiotika.
Radang paru-paru adalah penyakit umum, yang terjadi di seluruh kelompok umur, dan merupakan penyebab kematian peringkat atas di antara orang tua dan orang yang sakit menahun. Vaksin untuk mencegah beberapa jenis radang paru-paru bisa diperoleh.Prognosis perseorangan tergantung dari jenis radang paru-paru, perawatan yang cocok, komplikasi lainnya, dan kesehatan orang tersebut. Jenis radang paru-paru dari lokasi infeksi dapat dibagi menjadi:
1. Infeksi ambulant pneumonia atau di luar rumah sakit Penyebab: Streptococcus pneumonia ( 30-60 % )
2. Infeksi nosokomial pneumonia atau pasien memperolehnya dari masa dia tinggal di rumah sakit Penyebab: > 60 % Gram negativ misalnya Pseudomonas dan sisanya gram positiv seperti staphylokokken
Pembagian ini penting karena bakteri yang berasal dari rumah sakit memiliki komplikasi yang lebih tinggi dan memerlukan penangana antibiotika yang lebih selektif dibandingkan dengan yang diterima ambulant atau di luar rumah sakit.
Salah satu kasus radang paru-paru yang mempunyai tingkat kematian tinggi pada saat ini adalah kasus radang paru-paru yang disebabkan oleh Flu burung.
Jenis radang paru-paru dari anatominya:
1. Bronchopneumonia Penyebabnya kebanyakan bakteri. Dibandingkan dengan lobarpneumonia, bronchopneumonia mempunyai lokalisasi penyebarannya yang berbeda sesuai dengan susunan bronkus dan bronkiolus.
2. Lobarpneumonia Penyebabnya yang khas adalah bakteri streptococcus pneumonia. Lokalisasi penyebaran adalah satu lobar dari paru paru Sebutan khas juga disebabkan oleh proses patologisnya yang melalui 6 fase : a Red hepatisation ( hemorhagic atau peradangan dengan pendarahan hari 1 dan 2)
b Gray hepatisation ( fibrin exsudat atau peradangan fibrin ca. hari 2-4 )
c Yellow hepatisation ( abszess atau peradangan dengan diesrtai nanah ca hari 5-6 )
d Lyse ( fase resorpsi atau penyerapan ca hari 9-10 )
e Restitutio ad integrum (ca.14 Tag)
Disebut hepatisation atau hepatisasai karena jaringan paru-paru dalam masa peradangan menyerupai jaringan organ hati dalam histologinya.
3. Interstielle pneumonia
Lokalisasi radang adalah interstitial. Penyebabnya kebanyakan virus ( Virus RS, Adeno-,Parainfluenza-, Influenza A-, CMV-, Campak ),mykoplasma, dll. Sel infiltrasi dapat ditemukan di biopsi paru-paru dan mempunyai khas histologi infiltrat limphosit.
Pneumonia oleh virus pada orang sehat: Infeksi primer Respiratory syncitial virus ( RSV ), Parainfluenzavirus, Influenza, Adenovirus, Infeksi sekundar atau systemik virus campak , cacar / VZV Varizella Zoster Virus , Adenovirus
Pneumonia virus pada Immuninkompetent atau pasien yg kekebalan tubuhnya rendah CMV Cytomegali Virus Herpes Simplex Virus VZV Adenovirus

PLASMINEX


    Obat Umum (Dapat dibeli bebas)

    Nama Produk:PLASMINEX
    Farmasi:Sanbe
    Komposisi:Tranexamic acid 500 mg. Inj : tranexamic acid 100 mg.
    Indikasi:Fibrinolisis lokal spt epistaksis, prostatektomi, konisasi serviks. Perdarahan ssdh cabut gigi pd penderita hemofilia. Edema angioneurotik herediter.
    Kontra Indikasi:Ggn ginjal berat, hematuria, buta warna, resiko trombotik.
    Perhatian:Insufisiensi ginjal, hematuri masif pd sal kemih atas. Lakukan pemeriksaan mata & tes fungsi ginjal pd pasien dg edema ngioneurotik herediter (jangka panjang). Hamil & laktasi.
    Efek Samping:Mual, muntah, diare, buta warna, hipotensi (IV scr cepat).
    Interaksi Obat:-
    Kemasan:Tab salut selaput 500 mg x 10 x 10 (Rp. 180,000). Amp 100 mg/mL x 5 x 10 (Rp. 81,000)
    Dosis
    -Dewasa:Tab 1 tab 3-4x/hr. Pasien ggn ginjal dg kadar serum kreatinin 120-250 mikromol/L 15 mg/kgBB 2x/hr, 250-500 mikromol/L 15 mg/kgBB/hr, > 5000 mikromol/L 12.5 mg/kgBB/hr. Inj Fibrinolisis lokal 500-1000 mg IV lambat 3x/hr. Pasien ggn ginjal dg kadar serum kr
    -Anak-anak:-
    -Balita:-
    Harga:-
    Gambar:-
    Terakhir diperbaharui:
    * Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu
    * Bila sakit berlanjut, harap menghubungi dokter anda secepatnya



    SUMBER: http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1742494267137009749#editor/src=header






TERAPI CAIRAN


Terapi Cairan Maintenance
NOVEMBER 3, 2010
Pendahuluan
Terapi cairan merupakan salah sati implementasi untuk menjaga, mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Ketepatan dan keakuratan dalam terapi cairan akan sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh. Hal ini yang sedikit banyak sering kita melupakannya.
Terapi cairan Maintenance bisa dianggap sebagai salah satu terapi pendukung yang penting bagi pasien rawat-inap. Jika tujuan terapi cairan resusitasi adalah memperbaiki gangguan hemodinamik, maka tujuan terapi cairan Maintenance adalah memelihara homeostasis pada pasien yang kurang asupan cairan per oral. Jadi, laju dan jenis cairan infus untuk kedua indikasi itu berbeda. Untuk resusitasi digunakan “cairan pengganti” seperti normal saline, ringer asetat/ringerlaktat yang bersifat isotonik. Diberikan dengan jumlah besar dan kecepatan tinggi (20 -30 ml/kg/jam) cairan ini digunakan pada keadaan emergensi untuk menggantikan kehilangan akut..Pada keadaan-keadaan tertentu, cairan pengganti bisa juga digunakan untuk Maintenance, khususnya jika didapatkan hiponatremia (kadar Na+ < 135 mmol/L). Untuk pasien-pasien yang hemodinamiknya masih bagus (tidak syok), cairan yang dipilih adalah cairan Maintenance (maintenance).
Berbagai keadaan bisa dialami oleh pasien rawat-inap dan ini sering tidak disadari oleh petugas kesehatan:
• Mayoritas pasien sudah berada dalam keadaan dehidrasi moderat, namun hemodinamik masih baik. Pasien mungkin sudah berhari-hari di rumah dengan asupan air yang kurang dan ada demam tinggi. Demam tinggi ini menyebabkan peningkatan insensible water loss.
• Cemas, depresi atau takut. Ini cenderung terjadi pada pasien-pasien yang sudah mencoba berobat ke sana kemari dan tidak kunjung sembuh.
• Malaise atau letih (fatigue) mungkin merupakan alsan pasien dibawa ke rumah sakit.
• Pasien tidak terbiasa dengan makanan rumah sakit
• Asupan oral kurang karena pasien terlalu lemah untuk mengunyah dan lidah terasa pahit karena kering
• Jam makan yang kaku
• Anorexia (tidak napsu makan), nausea (mual), atau stres
• Kesadaran menurun.
Informasi demikian sering luput dari pengamatan dokter, padahal pasien memerlukan dukungan meintenance untuk keadaan-keadaan tsb.
Tujuan terapi Maintenance bisa dirangkum sbb:
1. Memenuhi kebutuhan air dan elektrolit harian untuk homeostasis
2. Mencegah gangguan elektrolit dan asam-basa
3. Mendukung terapi primer
4. Membantu proses enzimatik &mp; sintesis protein.
5. Memacu penyembuhan
Apa ciri-ciri larutan maintenance yang unggul?
• Praktis, mudah dan aman diberikan
• Di samping elektrolit basal (Na+,K+,Cl-) juga mengandung mikromineral (Mg++,Ca++,P) yang dibutuhkan untuk metabolisme sel
• Adanya zinc membantu penyembuhan jaringan. Karena zinc memacu deposisi kolagen pada jaringan yang rusak
• Mengandung asam amino kualitas tinggi (diperkaya BCAA, tinggi EAA) untuk memacu sintesis protein
• Glukosa untuk mempertahankan kadar gula normal( euglycemia)
Cara Pemberian Terapi Cairan Maintenance
Tempat kanula: laerutan yang mengandung osmolaritas kurang dari 900 mOsm/L bisa diberikan melalui vena tepi. Namun sebaiknya dipilih vena yang lebih proksimal (basilica,cephalic atau median cubital) karena tingginya insiden flebitis jika digunakan vena punggung tangan. Pasien usia lanjut lebih rentan terhadap flebitis dibandingkan dewasa muda.
Laju pemberian umumnya 20 tetes per menit (drip makro). Namun perlu diperhatikan kandungan glukosa dan kalium dari setiap larutan infus. Pada dewasa laju maksimum pemberian glukosa adalah 4 g/kg/minute (9), dan kalium 10 mEq per jam. Walaupun anjuran asupan kalium harian adalah 1-2 mEq/kg, dosis maintenance minimum dewasa untuk homeostasis bisa dipenuhi dengan 20-30 mEq hari. (10)
Obat suntik tidak boleh dioplos ke dalam AMINOFLUID karena bisa meningkatkan osmolaritas dan mengganggu kestabilan komposisi. Bila dianggap perlu, obat suntik bisa diberikan dengan piggy bag (untuk drip kontinyu) atau via stop cork (jika bolus) sementara aliran infus primer dihentikan.
Monitoring adalah hal terpenting dalam terapi cairan MAINTENANCE. Bila tersedia fasilitas lab, idealnya diperiksa panel elektrolit dan metabolik (Na+,K+,Cl-,HCO3 -, BUN, glucose, creatinine) (11) sebelum memberikan cairan. Pada kasus yang cukup serius atau berat paling tidak harus diperiksa Na+ dan K+. Tidak sesuai untuk memberikan cairan natrium rendah (hipotonik) ke pasien dengan hiponatremia (1). Di lain pihak, tidak tepat jika cairan dengan natrium tinggi (misal NS) diberikan kepada pasien dengan hipernatremia (12). Bilamana perlu, larutan Maintenance bisa digabung dengan larutan pengganti (Asering, RL, Normal saline) atau produk nutrisi parenteral.
Hipokalemia banyak dijumpai pada pasien rawatinap dan bisa dicegah. Pentingnya kalium terungkap dari laporan tentang prevalensi hipokalemia di bebebrapa rumah sakit, di mana pasien-pasien hanya diberikan larutan pengganti selama perawatan. Larutan pengganti mengandung 4 mEq/L of K+ (Ringer's lactate) or 0 mEq of K+ (Normal Saline) Hiperkalemia bisa diinduksi dan atau diperberat jika larutan yang mengandung kalium diberikan kepada pasien oliguria (vol urine < 400 ml/24 jam) atau anuria (<100 ml/24 jam).
KESIMPULAN
• Terapi suportif yang baik akan memacu penyembuhan pasien
• Terapi cairan Maintenance telah mengalami evolusi dari sekedar memberikan air dan elektrolit basal dalam kemasan tunggal, menjadi formulasi praktis, lengkap dengan elektrolit,asam,amino,glukosa dan mikromineral dalam kemasan canggih dual-chamber
• Tujuan terpenting dari terapi cairan Maintenance adalah mengoreksi homeostasis, memperbaiki KU, melawan letih dan meningkatkan napsu makan, serta memacu penyembuhan
• Peranan BCAA (Leucine, Isoleucine dan Valine) semakin banyak diketahui
• Temuan terakhir mengesankan bahwa BCAA bisa meningkatkan napsu makan dan memacu sintesis protein di otot rangka
• AMINOFLUID tidak ditujukan untuk replesi energi dan protein
• AMINOFLUID adalah larutan Maintenance masa kini, bukan produk nutrisi parenteral atau hypocaloric feeding. Bila dipandang perlu AMINOFLUID bisa dikombinasi dengan larutan elektrolit lain (RA, RL, NS, KAEN) atau produk nutrisi parenteral.
Rujukan:
1. Shafiee M.A.S., Bohn D, Hoorn EJ and Halperin ML. How to select optimal maintenance intravenous fluid therapy. Q J Med 2003; 96: 601- 610
2. ASPEN Board of Directors and the Clinical Guidelines Task Force. Guidelines for the use of parenteral and enteral nutrition in adult and pediatric patients. JPEN Vol 26, No1 Suppl Jan-Feb 2002.
3. Lee, Carla A.B. Fluids and Electrolytes: a practical approach. 4 ed. FA Davis Philadelphia.
4. Alessandro Laviano; Michael M Meguid; Akio Inui; Maurizio Muscaritoli; Filippo Rossi-Fanelli. Therapy Insight: Cancer Anorexia?Cachexia Syndrome-When All You Can Eat Is Yourself. Nat Clin Pract Oncol. 2005;2(3):158-165.
5. Rossi-Fanelli et al. Branched Chain Amino Acids: The best compromise to achieve anabolism. Curr Opin Clin Nutr Metab Care 8:408-414. 2005 Lippincott Williams &mp; Wilkins.
6. Jean-Pascal De Bandt and Luc Cynober Therapeutic Use of Branched-Chain Amino Acids in Burn, Trauma, and Sepsis.J. Nutr. 2006 136: 308S-313S
7. Samuel N. Cheuvront, Robert Carter, III, Margaret A. Kolka, Harris R. Lieberman, Mark D. Kellogg, and Michael N. Sawka.Branched-chain amino acid supplementation and human performance when hypohydrated in the heat J Appl Physiol, Oct 2004; 97: 1275 – 1282.
8. Calder PC. Branched-chain amino acids and immunity.J Nutr. 2006 Jan;136(1 Suppl
9. Mizock BA, Troglia S. Nutritional support of the hospitalized patient. Mosby Vol 53, No 6, 1997, p 367
10. Tannen RL. Potassium Disorders. In Kokko &mp; Tannen : Fluids and Electrolytes. 3rd Edition WB Saunders 1996. p 114
11. Mark Graber. Terapi Cairan, Elektrolit dan Metabolik. Farmedia, 2003. p 95
12. Fiona REID*, Dileep N. LOBO*, Robert N. WILLIAMS*, Brian J. ROWLANDS* and Simon P. ALLISON†(Ab)normal saline and physiological Hartmann's solution: a randomized doubleblind crossover study.Clinical Science (2003) 104, (17–24)
13. Sudomo, Untung. Marissa Ira. Gastroenterogy hepatoloy and digestive endoscopy vol.5. Ed: Dec 2004. Page: 115-120
14. Widodo D, Setiawan B, Khie Chen. The prevalence of hypokalemia in hospitalized patients with infectious diseases problems at Ciptomangun- kusumo Hospital Jakarta. Acta Med Indonesia, 2006;38(4):202-5
15. Medika 2006 Vol XXXII,No 12, p 732-734 * Dibacakan pada Simposium Nasional Penyakit Tropik Infeksi, HIV &mp; AIDS, J W Marriott Hotel, Surabaya 22 Maret 2008
SUMBER: http://nefrologyners.wordpress.com/2010/11/03/terapi-cairan-maintenance/

Rabu, 16 Januari 2013

TAMPONADE UTERUS DENGAN KONDOM KATETER



Tamponade uterus merupakan salah satu upaya mengontrol perdarahan postpartum karena atonia uteri. Prinsip kerjanya adalah menekan cavum uteri dari sisi dalam ke arah luar dengan kuat sehingga terjadi penekanan pada arteria sistemik serta memberikan tekanan hidrostatik pada uterina. Dulu, tamponade uterus menggunakan kassa yang telah dipadatkan. Namun tamponade dengan kassa ini menuai issu infeksi tinggi dan risiko trauma. Selain itu, jika tampon kurang padat dapat mengakibatkan perdarahan tersembunyi.
Saat ini tamponade uterus dilakukan dengan balon. Ada beberapa macam balon, namun kali ini akan membicarakan penggunaan kondom kateter. Ini dipilih karena efektif (rata-rata 15 menit paska pemasangan maka perdarahan akan berkurang bahkan berhenti). Cara ini juga jauh sangat murah dibanding jenis balon lain, ketersedian relatif ada dan mudah dilakukan oleh profesional di daerah layanan primer
Langkah pemasangan tamponade kateter kondom adalah sebagai berikut :
  1. Mempersiapkan alat:
  • Baki steril berisi kondom, benang, kateter no. 24, DC, jegul, klem ovarium, spekulum sim (2 bh), handscoen.
  • Set infus+cairan (normal saline).
  • Bengkok.
  1. Posisi pasien lithotomic
  2. Penolong dan asisten memasang sarung tangan.
  3. Masukkan kateter pada kondom, ikat dengan benang yang kuat dan ikatan yang kuat

  1. Dengan bantuan spekulum sim dan klem untuk melihat area, masukkan kateter kondom dalam cavum uteri.
  1. Bagian luar kateter disambungkan dengan ujung tali infus dan difiksasi dengan benang. Alirkan cairan (normal saline) grojok melalui kateter ke dalam kondom di cavum uteri sampai seluruh cavitas penuh (ditandai dengan terhentinya aliran cairan). Jika telah penuh, masukkan jegul pada vagina untuk memfiksasi. Observasi perdarahan dan kontraksi uterus selama pemasangan kondom kateter 24-48 jam, sambil diberikan drip oksitosin untuk mempertahankan kontraksi uterus minimal sebagai berikut :
  • Amoksisilin 500 mg tiap 6 jam
  • Metronidazole 500 mg tiap 6 jam
  • Gentamisin 80 mg tiap 8 jam
Jika terjadi perbaikan maka normal saline dalam kondom kateter dikurangi bertahap yaitu 20 ml tiap 10-15 menit.
(sumber gambar: www.medscape.com) 9 maret 2011
http://midwifesari.blogspot.com/2011/03/tamponade-uterus-dengan-kondom-kateter.html

asuhan kebidanan pada ibu hamil


MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL NORMAL NY. K

  1. PENGUMPULAN DATA
A.    IDENTITAS
Nama                        : Ny. R                        Nama Suami          :Tn. R
Umur                        : 33 Thn                      Umur                                                                 :29 Thn
Suku/ Kebangsaan  :Jawa/ Indo                 Suku/ Kebangsaan :Jawa/Indo
Agama                      : Kristen                      Agama                    :Kristen
Pendidikan               :D-I                             Pendidikan             :SMA
Pekerjaan                  :IRT                            Pekerjaan               :Wiraswasta
Alamat                     : Tembung                  Alamat                  : Tembung

B.                 ANAMNESA ( DATA SUBJEKTIVE )
Pada Tanggal 09 Juli 2012 , Pukul 14.10 Wib
1.       Alasan Kunjungan ini               : Ulangan                                     
2.     Keluhan-keluhan                       : Tidak ada
3.    Riwayat Menstruasi                      
1)     Haid Pertama                      :  Umur 13 Tahun
2)     Siklus                                  :  28 hari
3)      Banyaknya                          :  2 x ganti Duk
                    Dismenorhoe               :  -
                    Teratur / Tdk               :  Teratur
                    Lamanya                     :  7 hari
                    Sifat Darah                  :  Encer




4.      Riwayat Kehamilan Persalinan, dan Nifas yang lalu
No
Tgl lahir/umur
Usia Kahamilan
Jenis Persalinan
Tempat persalinan
Komplikasi
Penolong
BBL
NIfas
Ibu
Bayi
BB lahir
PB
Keadaan
Lactasi
Kelainan
1
2 tahun
Aterem
Normal
Klinik
-
-
Bidan
3300gr
47cm
baik
baik
-
2
H
A
M
I
L

I
N
I
























































5.      Riwayat kehamilan ini
Š       Hari haid terakhir                                            : 07 Januari 2012
Š       Taksiran Persalinan                                         :  14 Oktober 2012
Š       Keluhan – keluhan pada
o   Trimester I                                           : -
o   Trimester II                                         :  -
o   Trimester III                                        :  -                               
Š       Pergerakan anak pertama                                : aktif  usia kehamilan 16 minggu
Š       Bila pergerakan sudah terasa, pergerakan anak 24 jam terakhir 10 – 20 kali
Bila lebih dari 20 x dalam 24 jam, dengan frekwensi : > 15 x                                                                           
Keluhan-keluhan yang dirasakan ( bila ada jelaskan )
Rasa lelah                                                                    : tidak ada
Mual dan muntah yang lama                                       : tidak ada
Nyeri perut                                                                  : tidak ada
Panas menggigil                                                          : tidak ada
Sakit kepala berat/ terus menerus                                : tidak ada
Penglihatan kabur                                                       : tidak ada
Rasa nyeri / panas watu BAK                                     : tidak ada
Rasa gatal pada Vulva vagina dan sekitarnya            : tidak ada
Pengeluaran cairan pervaginam                                   : tidak ada
Nyeri kemerahan, tegang pada tungkai                      : tidak ada
Oedema                                                                       : tidak ada
Diet / makan                                                                : 3 x Sehari
Perubahan pola makan yang di alami ( termasuk ngidam, nafsu makan.), ada
Pola Eliminasi :
BAK : 10 x Sehari
      BAB : 1 x Sehari
Aktivitas Sehari-hari :
Pola Istirahat dan tidur : siang 1 jam, malam 6 jam
Seksualitas                                       : 1 x seminggu
Pekerjaan                                          : IRT
Imunisasi TT 1.                                : Tanggal TT I  : 13 April 2012
Tanggal TT II : 5 Mei 2012
. Kotrasepsi yang pernah digunakan          : pil
                                                           Lamanya 5 tahun
Riwayat penyakit sistemik yan pernah ada
Jantung                                 :     Tidak Ada
Ginjal                                   :     Tidak Ada
Asma/TBC Paru                   :     Tidak Ada
Hepatitis                               :     Tidak Ada
Epilepsi                                :     Tidak Ada
Lain-lain                               :     Tidak Ada
6.      Riwayat penyakit keluarga
Jantung                                 :     Tidak Ada
Hipertensi                             :     Tidak Ada
DM                                       :     Tidak Ada
7.      Riwayat sosial
Kehamilan                            : direncanakan                                      
Status perkawinan                : Syah
C.      PEMERIKSAAN FISIK ( DATA OBJEKTIVE )
Status Emosional                 :     stabil
Tanda vital                           :    
TD        : 110 / 70 mmHg           Lila                                              : 24 cm
HR        : 80 x/I                          TB                                                : 158 cm        
RR        : 22 x/I                          BB Sebelum Hamil                      : 53 Kg
Temp     : 37 oC                           BB sesudah hamil                        : 60 Kg
1.      Muka : 
Edema                                 : Tidak ada
Conjungtiva                         : Tidak Anemis
Sklera mata                          : Putih                       
2.      Dada     :                              
Mammae                              :Simetris
Benjolan                               :tidak ada
Areola                                  : Coklat kehitaman
Papilla                                  : Menonjol
3.      Aksila                                   :  Tidak ada Pembesaran kalenjar getah bening
4.      Abdomen
Bekas Luka                         : tidak ada
Pembesaran perut                 : asimetris
Bentuk Perut                        : memanjang
Striae albikan                       : ada

Pemeriksaan kebidanan 
Palpasi uterus
TFU                                                : 25 cm
Letak                                              : membujur
Posisi                                              : kepala
Punggung                                       : Kanan
Penurunan Kepala                          : belum masuk PAP ( konvergen )
TBBJ                                              : (25-12) x 155 = 2015 gram
Kontraksi                                        : tidak ada
Frekuensi                                        : tidak ada
Kekuatan                                        : tidak ada
Palpasi Supra kubik kandung kemih  : Kosong
Auskultasi     
DJJ                                                  : (+) 132 x/i   
      Punctum Maksimum                       : kuadran kanan bawah
Frekwensi                                       : teratur 10-10-10
Pengukuran panggul luar
Distansia spinarum                           : 25 cm
Distansia cristarum                           : 29 cm
Konjunggata eksterna                      : 20 cm
Lingkar panggul                               : 90 cm
5.      Genitalia
Inspeksi :                             
Vulva Vagina:
Varices                                 : tidak ada
Luka                                     : tidak ada
Kemerahan                           : tidak ada
Nyeri                                    : tidak ada
Perineum : Bekas Luka/Luka parut : tidak ada
                    Lain-lain   : tidak ada  
6.      Pinggang (periksa keluk       : costo vertebra angle tenderness)
      Nyeri                                    : tidak ada
7.      Extremitas
Edema tangan dan jari         : tidak ada
Edema tibia, kaki                 : tidak ada
Betis Merah/lembek/keras    : tidak ada
Varices tungkai                    : tidak ada
Refleks patella                     : Ka/Ki: ada (+)
D.      UJI DIAGNOSTIK
Pemeriksaan laboratorium
Hb                         :  11gram%                              Gol Darah       :  O
Haemotokril          : tidak dilakukan
Protein Urine         : negatif
Glukosa Urine       : negatif

II.  INTERPRESTASI DATA
Diagnosa
Ibu secundigravida, usia kehamilan 26 minggu, punggung kanan, letak kepala, kepala janin belum masuk PAP, bayi hidup, tunggal, intra uterin, keadaan ibu dan janin baik.
1.      G2  P1A0
 DS : Ibu mengatakan ini  kehamilan kedua
   Tidak pernah keguguran.
DO : Tonus otot longgar, ada striae albikan
Analisis dan interpretasi data:
Striae albican merupakan jaringan parut yang timbul karena pecahnya pembuluh darah perifer pada perut akibat peregangan dinding perut pada kehamilan sebelumnya, sehingga hanya terdapat pada kehamilan berikutnya.

2.      Usia Kehamilan 26 minggu
Dasar atau data pendukung
DS : ibu mengatakan sudah tidak haid lagi semenjak lebih dari 9 bulan yang   lalu.
DO            : HPHT: 07 Januari 2012 TTP 14 Oktober 2012, TFU : 25 cm
Analisis dan interpretasi data
Berdasarkan HPHT tgl  07 Januari 2012 sampai 14 Oktober 2012 (26 minggu)
TFU dipengaruhi oleh masuknya bagian terendah janin ke dalam PAP terutama pada multipara
3.      Punggung kanan
Dasar/data pendukung
DS: Ibu mengatakan sering terjadi pergerakan janin pada sebelah kiri perut ibu
DO: leopold II: pada bagian kanan teraba baian panjang memapan
Analisis dan interpretasi data:
Pergerakan janin lebih terasa sebelah kiri dan merupakan bagian terkecil janin.
Punggung merupakan tahanan lebih kuat dan lebar dibandingkan bagian kecil janin.
4.   Letak kepala
       Dasar/data pendukung
       DS: ibu mengatakan ibu sering BAK
       DO: Leopold III: teraba bulat, keras dan melenting
       Analisis dan interpretasi data:
Jika teraba bulat, keras dan melenting berarti kepala, tapi jika lunak , bulat dan tidak melenting berarti bokong
Tekanan kepala menyebabkan ibu sering BAK
5.    Kepala janin belum masuk PAP
       Dasar/data pendukung
       DS: -
DO: Leopold III: kepala masih bisa digoyang, Leopold IV: kedua ujung jari tangan masih bertemu
       Analisis dan interpretasi data:
Pada leopold III jika masih bisa digoyang berarti belum masuk PAP dan jika tidak bisa lagi digoyang berarti sudah masuk PAP
Pada leopold IV jika tidak bertemu berarti sudah masuk PAP
6.    Bayi hidup, tunggal, intra uteri
Dasar/data pendukung
DS : Ibu mengatakan pergerakan janin kuat dan tidak mengeluh sakit
DO : palpasi Leopold I TFU : 28 cm, isi fundus uteri bokong, Leopold II Puka, DJJ 120 x/i, Leopold III : Kepala.
Analisis dan interpretasi data:
Tidak adanya rasa nyeri saat palpasi menunjukkan kehamilan intera uterin. Palpasi teraba  yakni 1 bokong dan 1 kepala berarti janin tunggal.
DJJ terdengar jelas dan kuat menggunakan doppler.
7.   Keadaan ibu dan janin baik
Dasar / data pendukung:
DS: ibu mengatakan ibu dalam keadaan baik dan tidak ada keluhan.
DO : Vital Sign
TD       : 110 / 70 mmHg
HR      : 80 x / i
RR       : 22 x /i
T          : 37 0C
DJJ      :  120 x/i
Analisis dan interpretasi data:
DJJ normal 120x/i sampai 160x/i
Suhu normal antara 36,50 sampai 37,50
III.  IDENTIFIKASI  DIAGNOSA/MASALAH  POTENSIAL
Tidak ada
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YANG MEMERLUKAN TINDAKAN SEGERA
Tidak ada
V.  PERENCANAAN
1)      Informasikan pada ibu bahwa ibu dan janin dalam keadaan baik
2)      Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup
3)      berikan dukungan pada ibu hamil
4)      Berikan ibu penkes mengenai nutrisi ibu hamil
5)      Berikan ibu penkes mengenai jadwal kunjungan ulang
6)      Berikan ibu penkes mengenai persiapan persalinan
7)      Berikan ibu penkes mengenai ASI eksklusif
8)      Berikan ibu penkes mengenai KB setelah melahirkan

IV.PELAKSANAAN                                  
1.      Menginformasikan pada ibu bahwa ibu dan janin dalam keadaan baik
Rasional :
Dengan menginformasikan pada ibu maka pikiran ibu tidak terganggu dapat menyebabkan gangguan kesehatan ibu.
2.      Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup
Rasional:
Istirahat yang kurang akan menyebabkan gangguan kesehatan ibu
3.      Memberikan dukungan pada ibu
Rasional:
Dengan memberikan dukungan maka ibu akan merasa semangat dan rasa cemas ibu  bisa hilang.
  1. Memberikan ibu penkes mengenai nutrisi ibu hamil
Rasional:
nutirisi yang kurang dapat menyebabkan bayi lahir rendah, prematur dan lain-lain.
  1. Memberikan ibu penkes mengenai jadwal kunjungan ulang
Rasional:
kadang ibu tidak tahu kapan akan datang kembali maka dengan memberitahu ibu berusaha untuk datang.
  1. Memberikan ibu penkes mengenai persiapan persalinan
Rasional:
dengan adanya persiapan persalinan maka pada saat bersalin tidak repot lagi karena ada kebutuhan yang tidak ada.
  1. Memberikan ibu penkes mengenai ASI eksklusif
Rasional:
ASI eklusif lebih bagus untuk bayi dan ibu disbanding susu formula
  1. Memberikan ibu penkes mengenai KB setelah melahirkan
Rasional:
setelah bersalinibu sudah tahu KB apa yang akan dipakainya sehingga kehamilan ketika ibu menyusui tidak terjadi atau kehamilan dengan jarak terlalu dekat

VII. Evaluasi
1)      ibu sudah mengetahui tentang kehamilannya
2)      ibu berjanji akan beristirahat cukup
3)      ibu sudah merasa semangat dalam menjalani kehamilannya
4)      Ibu sudah mengetahui nutrisi yang diperlukanya
5)      ibu sudah mengetahui kapan ibu akan datang kembali
6)      ibu akan mempersiapan persalinan
7)      ibu sudah mengerti tentang ASI eksklusif
8)      ibu sudah mengerti mengenai KB setelah melahirkan















VIII. DOKUMENTASI

§  Keluhan utama waktu masuk

§  Riwayat menstruasi

§  Riwayat kehamilan persalinan dan nifas yang lalu


§  Riwayat kehamilan sekarang


§  Pola eliminasi

§  Pola istirahat

§  Imunasasi TT


§  Pola makanan dan minuman
Ibu menceritakan ingin periksa kehamilan
Normal, Tidak ada kelainan

Ibu secondepara, G2 P1 A0

HPHT : 07 Januari 2012
TTP    : 14 Oktober 2012

BAK   : 10 x / hari    BAB : 1 x/hari
Siang  : 1 jam           Malam : 8 jam

Tanggai TT I  : 13 April 2012
Tanggal TT II : 05 Mei 2012
Makan  : 3 x/hari
Minum : 8 gelas/hari
§  Keadaan umum

§  Vital sign


§  Pemeriksaan fisik







§  Pemeriksaan insfeksi




§  Pemeriksaan palpasi




§  Pemeriksaan auskultasi

§  Pemeriksaan perkusi
Baik/stabil
TD   : 110/70 mmHg     RR  : 22 x/i
Pols  : 80  x/i           Temp : 370C

BB sebelum hamil : 53 kg
BB   sesudah hamil :60 kg
Lila 24 cm
TB    : 158 cm
-      Payudara simetris, hiperpigmentasi pada areola mammae, putting susu menonjol dan ada pengeluaran colostrum

-      Leopold I    : teraba bokong
-      Leopold II   : teraba punggung sebelah
     kanan dan bagian kecil sebelah kiri
-      Leopold III  : teraba kepala
-      Leopold IV  : Convergen


DJJ (+) dengan frekuensi 120 x/i
Reflex patella (+) kiri dan kanan
§  Dx



§  Masalah

§  Kebutuhan





§  Diagnosa potensial
§  Tindakan segera                            
Ibu Multigravida, usia kehamilan 26 minggu, Puka, janin tunggal, intra uteri, janin hidup, presentasi kepala, K/u ibu baik, convergen.

- ibu merasa cemas
-          dukungan pada ibu oleh tenaga kesehatan dan keluarga
-          keyakinan ibu hamil bahwa keadaan ibu dan bayinya baik

-
Perencanaan
-      Mengimformasikan dan meyakinkan ibu bahwa keadaan ibu dan janin baik
-      member dukungan pada ibu hamil
-      menjelaskan kecemasan ibu
-      minta keluarga mendukung ibu
-      Beri konseling tentang:

- Nutrisi ibu hamil
- Persiapan persalinan
- KB
- ASI eksklusif
-      Ibu sudah mengetahui tentang kahamilannya
-      Ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan dan akan melakukannya begitu juga dengan keuarga ibu
-      rasa cemas ibu sudah teratasi
-      Menganjurkan untuk melakukan kunjungan ulang dua minggu kemudian.