Rabu, 28 Desember 2011

charger baru...i like

Charger Tanpa Listrik Teknologi Baru Kurangi Efek Global Warming

Green Teknologi bukanlah isu baru. Beberapa industri telah mengambil peluang besar ini dengan menerapkan produksi perangkat-perangkat teknologi yang ramah lingkungan, baik produk yang hemat energi, terbuat dari bahan bebas polusi atau bisa didaur ulang, maupun produk dengan tenaga dari sumber daya alam.

Menginjak 2010, teknologi hijau rupanya makin gencar diterapkan olah kalangan industri. Ini bisa dilihat di Consumer Electronics Show di Las Vegas, 7-10 Januari lalu. Pada pameran elektronik internasional terbesar itu, banyak dipamerkan perangkat teknologi hijau dengan inovasi-inovasi baru. Consumer Electronics Association, penyelenggaranya, bahkan membuka satu ruang pameran khusus untuk "green technology". Inilah beberapa perangkat "hijau" yang dipamerkan disana..


Charger Ponsel YoGen
Salah satu perangkat ramah lingkungan yang dipamerkan di CES 2010 ini cukup unik. YoGen Hand Charger, nama perangkat ini, adalah pengisi ulang baterai telepon seluler yang di dalamnya terdapat roda seperti mainan yo-yo. Putaran roda bisa memproduksi sumber energi hingga 5 watt. Untuk mengisi ulang, pengguna tinggal menarik tali untuk memutar roda, seperti memainkan yo-yo. Satu menit tarikan cukup untuk mengisi ulang ponsel. Harga perangkat ini US$ 40 atau sekitar Rp 400 ribu saja.




Charger Tenaga Angin
Zona sustainable planet di CES 2010 menampilkan sejumlah charger dan perangkat kecil lain yang bertenaga surya. Seperti lampu kebun, lampu kilat, dan lentera berkemah. Salah satunya adalah Mini Wiz dari HyMini. Mini Wiz adalah charger baterai AA dengan tenaga angin yang dapat diletakkan di sepeda untuk mengisi ulang.





Charger Tenaga Surya Regen
ReNu Regen merilis sistem pengisian ulang tenaga surya yang didesain untuk rumah. Setiap charger dilengkapi panel surya 6 watt dan bisa diintegrasikan ke baterai dengan colokan USB. Charger ini juga terintegrasi dengan sebuah terminal untuk speaker, sebuah lampu meja LED, serta pengisi ulang untuk iPod.






Charger Tenaga Surya Freeloader
Charger ini didesain dengan dua panel surya kecil dan baterai litium terintegrasi. Seperti charger tenaga matahari lainnya, Freeloader Pro bisa digunakan untuk mengisi ulang ponsel, GPS, kamera digital, camcorder, dan gadget lainnya. Perangkat ini bisa menyesuaikan diri dengan berbagai peranti berbeda yang hendak diisi ulang.Baterai litium pada charger ini butuh waktu delapan jam untuk mendapat tenaga dari panel surya. Namun baterai yang lebih besar juga tersedia, dan mampu memotong waktu pengisian menjadi tiga jam saja. Itu cukup untuk mengisi ulang sebuah iPod hingga pemakaian 28 jam atau 70 jam kekuatan standby sebuah ponsel.





Lampu LED Toshiba E Core
adalah lampu LED dari Toshiba yang hemat energi. Hanya dengan mengkonsumsi listrik 6 watt, perangkat ini menghasilkan cahaya yang terangnya setara dengan 40 watt lampu pijar biasa. Untuk cahaya setara dengan 60 watt, lampu ini mengkonsumsi 8 watt saja. Lampu LED ini juga jauh lebih awet. Umurnya bisa mencapai 40 ribu jam, bandingkan dengan lampu pijar biasa yang hanya 1.000 jam. E Core juga tidak mengandung merkuri, yang membahayakan kesehatan.




Produk iWave Grass Roots
Salah satu booth di CES 2010 ini memperkenalkan sejumlah perangkat terbuat dari bahan-bahan ramah lingkungan, seperti kayu atau bambu, serta bahan-bahan yang bisa didaur ulang, seperti plastik. Salah satu produk yang dipamerkan adalah ponsel dengan casing dari kayu.






Router Hemat Energi Router dualband
buatan TrendNets's ini hanya menyedot energi maksimal 70 persen dibanding router umumnya. Router ini menggunakan teknologi hemat energi berbasis terminal konsumsi energi dan menggunakan adapter energi. Perangkat ini mendapat sertifikasi "Energy Star" karena mampu mengurangi konsumsi energi hingga 30 persen. (Referensi : Tempo)


sumber:
http://old.infospesial.net/other/charger-tanpa-listrik-teknologi-baru-kurangi-efek-global-warming.html

bu bidan.....

Subhanallah!!! Bayi lahir setelah ibunya dinyataakan meninggal 2 hari......cekidot



Kejadian luar biasa menggegerkan dunia kedokteran. Seorang ibu yang dipastikan telah meninggal dunia, ternyata masih bisa melahirkan bayi mungil dengan sempurna. Berita ini mendadak tersiar ke mana-mana dan menjadi bahan perbincangan medis.

Mahmoud Soliman sebagai suami yang berumur 29 tahun tak pernah membayangkan bisa menghadapi kesedihan dan kebahagiaan menjadi satu. Istri yang dicintainya Jayne Soliman 41 tahun, pergi untuk selamanya. Dan sebagai gantinya, ia mendapatkan seorang bayi perempuan cantik yang dilahirkan dari rahim istrinya.

Yang mengharukan, Aya Jayne demikian nama bayi tersebut, dilahirkan dua hari setelah Jayne dinyatakan meninggal akibat otaknya tidak bisa berfungsi lagi. Berkat bantuan medis, Aya bisa dilahirkan dengan selamat.

 

Sebenarnya kehamilan Jayne tidak bermasalah. Namun di usia kehamilannya yang mencapai 25 minggu, tiba-tiba ia pingsan setelah mengeluh sakit kepala. Segera saja Mahmoud melarikannya ke rumah sakit John Radcliffe Hospital di Oxford. Namun beberapa jam kemudian, tim dokter menyatakan otak mantan atlet ski es nasional Inggris ini sudah mati.

Tim dokter mencoba membantu jantung Jayne agar tetap berdenyut dengan beragam peralatan. Upaya ini dilakukan agar bayi yang berada di perut Jayne bisa tertolong. Jayne diberi dua dosis besar steroid, sehingga jantung bayinya bisa berkembang. Dan akhirnya, aya Jayne pun bisa lahir dengan selamat melalui operasi cesar.

Usai diangkat dari rahim Jayne, Aya sempat diletakkan di pundak ibunya untuk memberi sedikit waktu bagi keduanya untuk bertemu. Setelah itu Aya langsung dilarikan ke unit perawatan intensif. Sedangkan Mahmoud diberi kesempatan untuk mengucapkan selamat jalan kepada istrinya, sebelum akhirnya dokter mematikan peralatan penunjang hidupnya.

Kata "Aya" berasal dari bahasa Arab yang berarti "KEAJAIBAN". Itu merupakan nama yang dipilih Jayne saat masih hidup. 

source: http://batbitunik.blogspot.com/2010/05/seorang-ibu-melahirkan-setelah-2-hari.html





sumber:
http://saatnyasantai.blogspot.com/2010/06/subhanallah-bayi-lahir-setelah-ibunya.html
 
 

Selasa, 15 November 2011

evaluasi program pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Informasi tercapai atau tidaknya bisa dilakukan melalui monitoring dan evaluasi. Kegiatan ini sering disandingkan bersamaan dalam istilah ME (Monitoring dan Evaluasi, atau kadang juga disingkat jadi Monev). Kegiatan monitoring sebenarnya banyak diklaim para ahli evaluasi termasuk kedalam kegiatan evaluasi, karena evaluasi pasti dimulai dengan monitoring, melihat, mengamati, dan mencatat. Hasil amatan itu kemudian dianalisis dan dihasilkannya rekomendasi-rekomendasi terkaid dengan hasil capaian atau kemajuan program.
Program merupakan jabaran dari suatu kebijakan organisasi dalam mencapai visi dan menjalankan misinya. Ia terangkai dari beberapa kegiatan, baik yang diselenggarakan secara berantai ataupun paralel, singkat ataupun lama, yang bermuara pada tujuan program yang telah ditetapkan.
Sampai dengan kira-kira tahun 1974 masyarakat masih menganggap bahwa evaluasi pendidikan terbatas pengertiannya pada penilaian hasil belajar. Dasar pemikiran yang digunakan adalah bahwa pendidikan merupakan upaya memberikan satu perlakuan pembelajaran kepada peserta didik. Kesuksesan hasil belajar mereka dapat diketahui melalui kegiatan penilaian. Di balik dasar pemikiran tersebut terdapat pula anggapan bahwa upaya pendidik dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran adalah kunci keberhasilan untuk mencapai hasil belajar merupakan hubungan lurus atau linear.
Apa alasan melakukan evaluasi program dan sejak kapankah evaluasi program mulai populer? Menurut Fernandes (1984), pemikiran secara serius tentang evaluasi program dimulai sekitar tahun delapan puluhan. Sejak tahun 1979-an telah terjadi perkembangan sehubungan dengan konsep-konsep yang berkenaan dengan evaluasi program, sebagai contoh teori yang dikemukakan oleh Cronbach (1982, dalam Fernandes 1984) tentang pentingnya sebuah rancangan dalam kegiatan evaluasi program.
Makna dari evaluasi program itu sendiri mengalami proses pemantapan. Definisi yang terkenal untuk evaluasi program dikemukakan oleh Ralph Tyler, yang mengatakan bahwa evaluasi program adalah proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah dapat terealisasikan (Tyler, 1950). Definisi yang lebih diterima masyarakat luas dikemukakan oleh dua orang ahli evaluasi, yaitu Cronbach (1963) dan Stufflebeam (1971). Mereka mengemukakan bahwa evaluasi program adalah upaya menyediakan informasi untuk disampaikan kepada pengambil keputusan. Sehubungan dengan definisi tersebut The Standford Evaluation Consorsium Group menegaskan bahwa meskipun evaluator  menyediakan informasi, evaluator bukanlah pengambil keputusan tentang suatu program (Cronbach, 1982).
Tujuan diadakannya evaluasi program adalah untuk mengetahui pencapaian tujuan program dengan langkah mengtahui keterlaksanaan kegiatan program, karena evaluator  program ingin mengetahui  bagian mana dari komponen dan subkomponen program yang belum belum terlaksana dan apa sebabnya.

1.2  Rumusan  Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya adalah “Bagaimanakah evaluasi program pendidikan?”.

1.3      Tujuan
1.3.1   Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana evaluasi program pendidikan
1.3.2   Tujuan Khusus
1.      Untuk mengetahui pengertian evaluasi program pendidikan
2.      Untuk mengetahui prinsip evaluasi program pendidikan
3.      Untuk mengetahui langkah-langkah  evaluasi program pendidikan

1.4        Manfaat
1.4.1   Bagi Pendidik
Memberi kepastian kepada diri pendidik sudah sejauh mana usaha yang telah dilakukannya selama ini sehingga pendidik dapat menentukan langkah selanjutnya.
1.4.2    Bagi Peserta Didik
Memberikan dorongan untuk memperbaiki, mempertahankan dan meningkatkan prestasi.

BAB II
PEMBAHASAN
2. 1       Pengertian
Ada tiga istilah yang digunakan dan perlu disepakati pemakaiannya sebelum disampaikan uraian lebih jauh tentang evaluasi program, yaitu “evaluasi” (evaluation), “pengukuran” (measurement), dan “penilaian” (assesment).
Evaluasi berasal dari kata evaluation (bahasa Inggris). Kata tersebut diserap ke dalam perbendaharaan istilah bahasa Indonesia dengan tujuan mempertahankan kata aslinya dengan sedikit penyesuaian lafal Indonesia menjaadi “evaluasi”.
Suchman (1961, dalam Anderson 1975) memandang evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan. Definisi lain dikemukakan oleh Worthen dan Sanders (1973, dalam Anderson 1971). Dua ahli tersebut mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mencari sesuatu yang berharga tentang sesuatu; dalam mencari sesuatu tersebut, juga termasuk mencari informasi yang bermanfaat dalam menilai keberadaan suatu program, produksi, prosedur, serta alternatif strategi yang diajuakan untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Seorang ahli yang sangat terkenal dalam evaluasi program bernama Stufflebeam (1971, dalam Fernandes 1984) mengatakan bahwa evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian dan pemberian informasi yang sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternatif keputusan.
Ada dua pengertian untuk istilah “program”, yaitu pengertian secara khusus dan umum. Menurut pengertian secara umum, “program” dapat diartikan sebagai “rencana". Jika seorang siswa ditanya oleh guru, apa programnya setelah lulus dalam menyelesaikan pendidikan di sekolah yang diikuti maka arti “program” dalam kalimat tersebut adalah rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan setelah lulus. Rencana ini mungkin berupa keinginan untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, mencari pekerjaan, membantu orang tua dalam membina usaha, atau mungkin juga belum menentukan program apapun. Selain itu, ada juga anak yang sangat tergantung pada orang tua sehingga akan memberi jawaban bahwa program masa depan menunggu keputusan orang tuanya.
Apabila program ini langsung dikaitkan dengan evaluasi program maka program didefinisikan sebagai suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. Ada tiga pengertian penting dan perlu ditekankan dalam menentukan program, yaitu (1) realisai atau implementasi suatu kebijakan, (2) terjadi dalam waktu yang relatif lama-bukan kegiatan tunggal tapi jamak berkesinambungan, dan (3) terjadi dalam organisasi yang melibatkan sekelompok orang.
Selain mengandung tiga pengertian, ada pula program-program tertentu yang menunjukkan ciri lain, yaitu adanya kegiatan jamak yang merupakan rangkaian. Untuk memperjelas pengertian “jamak berangkai”, coba bandingkan beberapa kegiatan tunggal dan jamak berikut ini. Kegiatan menulis, berjalan, tidur, adalah sekali dilakukan selesai, dan tidak berada dalam urutan proses. Bandingkan dengan memasak. Memasak adalah kegiatan jamak karena untuk dpat memasak harus ada bahan yang dibeli dan dimasak . sesudah memasak, masakannya harus dimakan.
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latiahan bagi peranannya bdi masa yang akan datang (UU No. 2 Th 1989). Pendidikan adalah usaha sadar dengan rencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serat keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Maka dari evaluasi program itu sendiri mengalami proses pemantapan. Definisi yang terkenal untuk evaluasi program dikemukakan oleh Ralph Tyler, yang mengatakan bahwa evaluasi program pendidikan adalah proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah dapat terealisasikan (Tyler!950). definisi yang lebih diterima masyarakat luas dikemukakan oleh dua orang ahli evaluasi, yaitu Cronbach (1963) dan Stufflebeam (1971). Mereka mengemukakan bahwa evaluasi program adalah upaya menyediakan informasi untuk disampaikan kepada pengambil keputusan. Sehubungan dengan definisi tersebut The Standford Evaluation Consorsium Group menegaskan bahwa meskipun evaluator menyediakan informasi, evaluator bukanlah pengambil keputusan tentang suatu program (Cronbach, 1982).
2. 2       Prinsip

Evaluasi pendidikan harus mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.      Keterpaduan 
Evaluasi harus dilakukan dengan prinsip keterpaduan antara tujuan intrusional pengajaran, materi pembelajaran dan metode pengjaran.
2.      Keterlibatan peserta didik
Prinsip ini merupakan suatu hal yang mutlak, karena keterlibatan peserta didik dalam evaluasi bukan alternatif, tapi kebutuhan mutlak.
3.      Koherensi
Evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang telah dipelajari dan sesuai dengan ranah kemampuan peserta didik yang hendak diukur.
4.      Pedagogis
Perlu adanya tool penilai dari aspek pedagogis untuk melihat perubahan sikap dan perilaku sehingga pada akhirnya hasil evaluasi mampu menjadi motivator bagi diri siswa.
5.       Akuntabel
Hasil evaluasi haruslah menjadi alat akuntabilitas atau bahan pertanggungjawaban bagi pihak yang berkepentingan seperti orangtua siswa, sekolah, dan lainnya.

2. 3       Langkah-langkah
Evaluasi program dilaksanakan melalui beberapa tahapan. Secara garis besar tahapan tersebut meliputi: tahap persiapan evaluasi program, tahap pelaksanaan evaluasi program dan tahap monitoring pelaksanaan program. Berikut ini akan dibahas secara berturut-turut ketiga tahapan tersebut.
A.      Persiapan Evaluasi Program
Sebelum evaluasi program dilaksanakan seorang evaluator harus melakukan persiapan secara cermat. Persiapan tersebut antara lain berupa: penyusuunan evaluasi, penyusunan instrumen evaluasi, validasi instrumen evaluasi, menentukan jumlah sampel yang diperlukan dan penyamaan persepsi antar evaluator sebelum pengambilan data.
Penyusunan evaluasi terkait dengan model yang bergantung pada tujuan evaluasi program dan kriteria keberhasilan program sehingga evaluator dapat menentukan metode pengumpulan data, alat pengumpul data, sasaran evaluasi program dan jadwal evaluasi program yang akan digunakan sebagai acuan melaksanakan kegiatan evaluasi program.
Setelah rencana evaluasi tersusun maka dilakukan penyusunan instrumen evaluasi yang disusun berdasarkan pada metode pengumpulan data yang dipilih. Dengan langkah-langkahnya sebagai berikut:
1.      Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan instrumen yang akan disusun.
2.      Membuat kisi-kisi yang berisi tentang perincian variabel dan jenis instrumen yang akan digunakan.
3.      Membuat butir-butir instrumen.
4.      Menyunting instrumen, hal yang dilakukan adalah:
a.       Mengurutkan butir
b.      Menuliskan petunjuk pengisian, identitas dan sebagainya.
c.       Membuat pengantar permohonan pengisian angket.
Setelah instrumen disusun maka instrumen tersebut perlu divalidasi sehingga diketahui tingkat validitas dan reliabilitasnya yang mana dapat dilihat pada buku-buku metode penelitian dan statistik yang membahas tentang validitas dan reliabilitas.
Setelah dilakukan validasi maka selanjutnya adalah menentukan jumlah sampel. Jika seluruh subjek yang ada menjadi sumber data dalam menentukan subjek evaluasi maka metode yang digunakan adalah metode populasi. Tapi jika hanya sebagian dari subjek yang menjadi sumber data maka digunakan metode sampling.
Metode sampling ini dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu: random sampling ( semua individu diberi peluang menjadi anggota sampel) dan non random sampling (tidak semua individu yang diberi peluang untuk menjadi anggota sampel). Cara penentuan sampel ada beberapa cara, diantaranya: cluster sample, purposive sample dan lain-lain.
Langkah berikutnya setelah menentukan jumlah sampel adalah menyamakan persepsi antara evaluator tentang berbagai hal sebelum pengambilan data dimulai. Hal ini harus dilakukan jika evaluatornya lebih dari 1. Beberapa hal yang perlu disamakan persepsinya adalah: tujuan, kriteria, metode, instrumen, wilayah generalisasi, tehnik sampling dan jadwal kegiatan.
B.       Pelaksanaan Evaluasi Program
Evaluasi program dapat dikategorikan menjadi 4 jenis, yaitu:
1.      Evaluasi reflektif,
Digunakan untuk mengevaluasi kurikulum sebagai suatu ide.
2.      Evaluasi rencana
Merupakan jenis evaluasi yang banyak dilakukan orang terutama setelah banyak inovasi diperkenalkan dalam pengembangan program.
3.      Evaluasi proses
Disebut juga evaluasi implementasi yang prosesnya dianggap lebih memberi kedudukan yang sama antara dimensi program sebagai ide, rencana, hasil dan program.
4.      Evaluasi hasil
Merupakan jenis evaluasi program yang paling tua. Bahkan pada mulanya yang dimaksud dengan evaluasi identik dengan evaluasi hasil.
Keempat jenis evaluasi di atas mempengaruhi seorang evaluator dalam menentukan metode  dan alat pengumpulan data yang digunakan. Agar kegitan pengumpulan  data dapat berjalan baik, berikut ini akan diuraikan beberapa cara mengumpulkan data yang baik dengan menggunakan berbagai alat pengumpul data.
a.       Pengambilan data dengan tes
b.      Pengambilan data dengan observasi
c.       Pengambilan data dengan angket
d.      Pengambilan data dengan wawancara
e.       Pengambilan data dengan metode analisis dokumen dan artifak

C.       Monitoring Pelaksanaan Program
1.      Fungsi monitoring
Kegagalan mempunyai 2 fungsi pokok, yaitu untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan program dengan rencana program dan untuk mengetahui seberapa pelaksanaan program yang sedang berlangsung dapat diharapkan akan menhasilkan perubahan yang diinginkan.
Sumber kegagalan program ada 3 kemungkinan, yaitupelaksanaan program menyimpang dari rencana program, rencana progran yang mengandung kesalahan dan berasal dari luar rancangan, misalnya kekurangmampuan dari tenaga praktisi.

2.      Sasaran monitoring
Sasarannya adalah dengan menemukan hal-hal berikut:
Ø  Seberapa jauh pelaksanaan program telah sesuai dengan rencana program.
Ø  Seberapa jauh pelaksanaan program telah menunjukkan tanda-tanda tercapainya tujuan program.
Ø  Apakah terjadi dampak tambahan atau lanjutan yang positif meskipun tidak direncanakan.
Ø  Apakah terjadi dampak sampingan yang negatif
3.      Tehnik dan alat pemantauan
Fungsi pokok pemantauan adalah mengumpulkandata tentang pelaksanaan program. Adapun tehnik dan alat pemantauan adalah sebagai berikut:
a)      Tehnik pengamatan partisipatif dengan menggunakan lembar pengamatan, catatn lapangan dan alat perekam elektonik.
b)      Tehnik wawancara, cara bebas atau terstruktur dengan alat pedoman wawancara dan perekam wawancara.
c)      Tehnik pemanfaatan dan analisis data dokumentasi seperti daftar hadir, satuan pelajaran, hasil karya siswa, hasil karya guru dan sebagainya.

4.      Pelaku pemantauan
Pemantauan program dilakukan oleh evaluator bersama dengan pelaku/praktisi atau pelaksana program. Dapat pula dilengkapi atau dibantu oleh pihak lain yang diperlukan seperti kepala sekolah dan tokoh masyarakat.
5.      Perencanaan pemantauan
Perencanaan pemantauan meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
a)      Perumusan tujuan pemantauan, berisi informasi tentang apa yang diinginkan, untuk siapa dan untuk kepentingan apa.
b)      Penetapan sasaran pemantauan, apa yang akan dijadikan sebagai objek pemantauan.
c)      Penjabaran data yang dibutuhkan pemantauan, penjabaran dari sasaran.
d)     Penyiapan metode/alat pemantauan sesuai dengan sifat objek dan sumber atau jenis datanya.
e)      Perancangan analisis data pemantauan dan pemaknaannya dengan berorientasi pada tujuan pemantauan.

6.      Pemanfaatan hasil pemantauan
Data yang telah terkumpul dari hasil pemantauan harus secepatnya diolah dan dimaknai sehingga dapat segera diketahui apakah tujuan pelaksanaan program tercapai atau tidak. Pemaknaan hasi pemantauan ini menjadi dasar untuk merumuskan langkah-langkah berikutnya dalam pelaksanaan program.
2. 4