Jumat, 23 Maret 2012

PERMASALAHAN KESEHATAN REPRODUKSI BERDASARKAN SEKSUALITAS

BAB I
PENDAHULUAN
Kesehatan reproduksi seharusnya dipahami sebagai sehat fisik, psikologis, dan sosial. Reproduksi menyentuh semua hal dalam tubuh pria dan wanita, dari mengenali organ luar, menstruasi, sperma atau mani, seks, hingga kehamilan.
Ninuk Widiantoro, psikolog dari Yayasan Kesehatan Perempuan, menyatakan bahwa pemahaman yang utuh tentang kesehatan reproduksi belum ada di masyarakat, bahkan negara. Padahal, menurutnya, kesehatan reproduksi mulai perlu diperhatikan dari anak, remaja, hingga pasangan yang bersiap menikah.
"Pemeriksaan kesehatan sebelum hubungan seks sangat penting. Tak perlu lagi sungkan untuk menanyakan calon suami tentang kesehatannya. Calon mempelai perlu memeriksakan kesehatan reproduksi, bukan hanya perempuan, melainkan juga pihak lelaki," papar Ninuk saat peluncuran Pundi Kesehatan di Ciganjur, Selasa (20/4/2010).
Memeriksakan kesehatan reproduksi pasangan harus komprehensif dan bukan hanya fisik. Lantas apa saja yang harus diperiksakan?
Kondisi fisik
Baik perempuan maupun lelaki yang berencana menikah tak perlu sungkan meminta pasangan untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. Dalam hal ini terkait pemeriksaan fisik, terutama organ reproduksinya.
Tujuan menikah
Mengenali tujuan bersama dalam pernikahan termasuk dalam kesehatan yang bersifat psikologis. Keadaan akan memburuk jika pernikahan tanpa ada sikap saling menghargai, apalagi jika pihak perempuan tidak mendapat kesempatan menyuarakan dirinya. Misalnya, dia belum siap menikah secara umur dan kematangan organ reproduksi.
"Kematian ibu bukan hanya karena menikah dini, melainkan juga karena secara psikologis ada tekanan dalam dirinya karena harus melayani suami yang tidak disukainya karena jauh lebih tua atau sudah beristri, misalnya," papar Ninuk.
Kesiapan ekonomi dan social
Diskusi soal ini dengan pasangan bukan sekadar ukuran materi, melainkan juga apakah pasangan sudah siap memberikan kasih sayang kepada keluarganya nanti, termasuk apakah kepribadiannya sudah matang untuk menikah dan berkeluarga.
Pemahaman peran perempuan dan lelaki
Perkawinan sebaiknya menjadi pintu kebahagiaan, dan bukan pemaksaan, apalagi kekerasan. Perlu ada kesepahaman antara perempuan dan lelaki tentang peran dan gaya hidupnya. Perlu ada kesesuaian pandangan antara peran peran suami dan peran istri sebagai ibu, pekerja, dan istri. Baik suami maupun istri bukan pemaksa atau pelaku kekerasan. Berbagai referensi bisa dijadikan bahan diskusi untuk dikomunikasikan dengan pasangan.
Seksualitas
Kekerasan seksualitas terjadi saat adanya pemaksaan dari pihak lain. Jika suami atau istri sedang tak bergairah, maka pihak mana pun tidak berhak menuntut untuk dilayani. Seks harus didahului hal-hal yang manis. Kita tidak boleh langsung meminta suami atau istri memenuhi hasrat libido kita. Ketika secara psikologis istri tidak siap, misalnya, itu berarti organ reproduksi juga belum siap menerima kegiatan seks. Jika hal ini terjadi pada pasangan yang menikah dini (perempuan di bawah umur), maka yang terjadi adalah perkosaan dan bukan hubungan seks sehat yang dilakukan pasangan menikah.
BAB II
Kesehatan Reproduksi
  • Kesehatan yang berkaitan dengan menghasilkan keturunan
  • Kesehatan reproduksi meliputi keadaan sehat jasmani
Pengertian Kesehatan Reproduksi menurut Konferensi Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) tahun 1994 di Kairo, Mesir : yaitu "Kondisi utuh sehat sejahtera fisik, mental dan sosial, tidak hanya bebas penyakit atau kecacatan, dalam sistem, fungsi, dan proses reproduksi".

Kesehatan Seksual

Menurut WHO, Kesehatan Seksual adalah "Kombinasi dari bagian kegiatan seksual yang bersifat fisik, emosional, intelektual dan sosial, sehingga seks adalah pengalaman positif yang dapat meningkatkan kualitas hidup, menjadikan lingkungan kita lebih baik untuk kehidupan.
Berdasarkan hasil Deklarasi Montreal 2005 tentang Kesehatan Seksual untuk MDGs, lebih menekankan kepada beberapa hal sebagai berikut :
  • Mengakui, mempromosikan, meyakinkan dan melindungi hak-hak seksual bagi semua
  • Berkembang ke arah kesetaraan jender
  • Menghapuskan semua jenis kekerasan dan pelecehan seksual
  • Memberikan akses universal unutk pendidikan dan informasi tentang seksualitas yang menyeluruh
  • Menjamin bahwa program - program kesehatan reproduktif mengakui betapa pentingnya kesehatan seksual
  • Menghentikan dan mengendalikan penyebaran HIV dan AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya
  • Mengidentifikasi, menangani dan mengatasi keluhan disfungsi dan gangguan seksual
  • Mendapatkan pengakuanbahwa kenikmatan seksual merupan salah satu unsur kesejahteraan menusia
Masalah - Masalah Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Seksual
  1. Disfungasi Seksual
  2. Parafilia
  3. Perilaku Seksual Kompulsif
  4. Kekerasan Seksual
  5. Permasalahan Reproduksi


1. Pengertian Disfungsi Seksual
a) Definisi Disfungsi Seksual
Istilah disfungsi seksual menunjukkan adanya gangguan pada salah satu atau lebih aspek fungsi seksual (Pangkahila, 2006). Bila didefinisikan secara luas, disfungsi seksual adalah ketidakmampuan untuk menikmati secara penuh hubungan seks. Secara khusus, disfungsi seksual adalah gangguan yang terjadi pada salah satu atau lebih dari keseluruhan siklus respons seksual yang normal (Elvira, 2006). Sehingga disfungsi seksual dapat terjadi apabila ada gangguan dari salah satu saja siklus respon seksual.
b) Siklus respon seksual (Kolodny, Master, Johnson, 1979)
1) Fase Perangsangan (Excitement Phase)
Perangsangan terjadi sebagai hasil dari pacuan yang dapat berbentuk fisik atau psikis. Kadang fase perangsangan ini berlangsung singkat, segera masuk ke fase plateau. pada saat yang lain terjadi lambat dan berlangsung bertahap memerlukan waktu yang lebih lama.
Pemacu dapat berasal dari rangsangan erotik maupun non erotik, seperti  pandangan, suara, bau, lamunan, pikiran, dan mimpi.
2) Fase Plateau
Pada fase ini, bangkitan seksual mencapai derajat tertinggi yaitu sebelum mencapai ambang batas yang diperlukan untuk terjadinya orgasme.
3) Fase Orgasme
Orgasme adalah perasaan kepuasan seks yang bersifat fisik dan psikologik dalam aktivitas seks sebagai akibat pelepasan memuncaknya ketegangan seksual (sexual tension) setelah terjadi fase rangsangan yang memuncak pada fase plateau.
4) Fase Resolusi
Pada fase ini perubahan anatomik dan faal alat kelamin dan luar alat kelamin yang telah terjadi akan kembali ke keadaan asal.
Sehingga adanya hambatan atau gangguan pada salah satu siklus respon seksual diatas dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual.
2. Etiologi Disfungsi Seksual
Pada dasarnya disfungsi seksual dapat terjadi baik pada pria ataupun wanita, etiologi disfungsi seksual dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a) Faktor fisik
Gangguan organik atau fisik dapat terjadi pada organ, bagian-bagian badan tertentu atau fisik secara umum. Bagian tubuh yang sedang terganggu dapat menyebabkan disfungsi seksual dalam berbagai tingkat (Tobing, 2006).
Faktor fisik yang sering mengganggu seks pada usia tua sebagian karena penyakit-penyakit kronis yang tidak jelas terasa atau tidak diketahui gejalanya dari luar. Makin tua usia makin banyak orang yang gagal melakukan koitus atau senggama (Tobing, 2006). Kadang-kadang penderita merasakannya sebagai gangguan ringan yang tidak perlu diperiksakan dan sering tidak disadari (Raymond Rosen., et al, 1998).
Dalam Product Monograph Levitra (2003) menyebutkan berbagai faktor resiko untuk menderita disfungsi seksual sebagai berikut:
1) Gangguan vaskuler pembuluh darah, misalnya gangguan arteri koronaria.
2) Penyakit sistemik, antara lain diabetes melitus, hipertensi (HTN), hiperlipidemia (kelebihan lemak darah).
3) Gangguan neurologis seperti pada penyakit stroke, multiple sklerosis.
4) Faktor neurogen yakni kerusakan sumsum belakang dan kerusakan saraf.
5) Gangguan hormonal, menurunnya testosteron dalam darah (hipogonadisme) dan hiperprolaktinemia.
6) Gangguan anatomi penis seperti penyakit peyronie (penis bengkok).
7) Faktor lain seperti prostatektomi, merokok, alkohol, dan obesitas.
Beberapa obat-obatan anti depresan dan psikotropika menurut penelitian juaga dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi seksual, antara lain: barbiturat, benzodiazepin, selective serotonin seuptake inhibitors (SSRI), lithium, tricyclic antidepressant (Tobing, 2006).
b) Faktor psikis
Faktor psikoseksual ialah semua faktor kejiwaan yang terganggu dalam diri penderita. Gangguan ini mencakup gangguan jiwa misalnya depresi, anxietas (kecemasan) yang menyebabkan disfungsi seksual. Pada orang yang masih muda, sebagian besar disfungsi seksual disebabkan faktor psikoseksual. Kondisi fisik terutama organ-organnya masih kuat dan normal sehingga jarang sekali menyebabkan terjadinya disfungsi seksual (Tobing, 2006).
Tetapi apapun etiologinya, penderita akan mengalami problema psikis, yang selanjutnya akan memperburuk fungsi seksualnya. Disfungsi seksual pria yang dapat menimbulkan disfungsi seksual pada wanita juga ( Abdelmassih, 1992, Basson, R, et al., 2000).
Masalah psikis meliputi perasaan bersalah, trauma hubungan seksual, kurangnya pengetahuan tentang seks, dan keluarga tidak harmonis (Susilo, 1994, Pangkahila, 2001, 2006, Richard, 1992).
3. Macam-Macam Disfungsi Seksual
a) Gangguan Dorongan Seksual (GDS)
1) Pengertian
Dorongan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu hormon testosteron, kesehatan tubuh, faktor psikis dan pengalaman seksual sebelumnya. Jika di antara faktor tersebut ada yang menghambat atau faktor tersebut terganggu, maka akan terjadi GDS (Pangkahila, 2007), berupa:
(a) Dorongan seksual hipoaktif
The Diagnostic and Statistical Manual-IV memberi definisi dorongan seksual hipoaktif ialah berkurangnya atau hilangnya fantasi seksual dan dorongan secara persisten atau berulang yang menyebabkan gangguan yang nyata atau kesulitan interpersonal.
(b) Gangguan eversi seksual
Timbul perasaaan takut pada semua bentuk aktivitas seksual sehingga menimbulkan gangguan.
2) Prevalensi dan manifestasi
Diduga lebih dari 15 persen pria dewasa mengalami dorongan seksual hipoaktif. Pada usia 40-60 tahun, dorongan seksual hipoaktif merupakan keluhan terbanyak. Pada dasarnya GDS disebabkan oleh faktor fisik dan psikis, antara lain adalah kejemuan, perasaan bersalah, stres yang berkepanjangan, dan pengalaman seksual yang tidak menyenangkan (Pangkahila, 2006).
b) Gangguan ereksi
1) Disfungsi ereksi
(a) Pengertian
Disfungsi ereksi (DE) berarti ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan hubungan seksual dengan baik (Pangkahila, 2007).
Disfungsi ereksi disebut primer bila sejak semula ereksi yang cukup unutuk melakukan hubungan seksual tidak pernah tercapai. Sedang disfungsi ereksi sekunder berarti sebelumnya pernah berhasil melakukan hubungan seksual, tetapi kemudian gagal karena sesuatu sebab yang mengganggu ereksinya (Pangkahila, 2006).
(b) Penyebab dan manifestasi
Pada dasarnya DE dapat disebabkan oleh faktor fisik dan faktor psikis. Penyebab fisik dapat dikelompokkan menjadi faktor hormonal, faktor vaskulogenik, faktor neurogenik, dan faktor iatrogenik (Pangkahila, 2007).
Faktor psikis meliputi semua faktor yang menghambat reaksi seksual terhadap rangsangan seksual yang diterima. Walaupun penyebab dasarnya adalah faktor fisik, faktor psikis hampir selalu muncul dan menyertainya (Pangkahila, 2007).
c) Gangguan ejakulasi (Pangkahila, 2007)
1) Ejakulasi dini
(a) Pengertian
Ada beberapa pengertian mengenai ejakulsi dini (ED). ED merupakan ketidakmampuan mengontrol ejakulasi sampai pasangannnya mencapai orgasme, paling sedikit 50 persen dari kesempatan melakukan hubungan seksual. Berdasarkan waktu, ada yang mengatakan penis yang mengalami ED bila ejakulasi terjadi dalam waktu kurang dari 1-10 menit.
Untuk menentukan seorang pria mengalami ED harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : ejakulasi terjadi dalam waktu cepat, tidak dapat dikontrol, tidak dikehendaki oleh yang bersangkutan, serta mengganggu yang bersangkutan dan atau pasangannya (Pangkahila, 2007).
(b) Prevalensi dan manifestasi
ED merupakan disfungsi seksual terbanyak yang dijumpai di klinik, melampaui DE. Survei epidemiologi di AS menunjukkan sekitar 30 persen pria mengalami ED.
Ada beberapa teori penyebab ED, yang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu penyebab psikis dan penyebab fisik. Penyebab fisik berkaitan dengan serotonin. Pria dengan 5-HT rendah mempunyai ejaculatory threshold yang rendah sehingga cepat mengalami ejakulasi. Penyebab psikis ialah kebiasaan ingin mencapai orgasme dan ejakulasi secara tergesa-gesa sehingga terjadinya ED (Pangkahila, 2006).
2) Ejakulasi terhambat
(a) Pengertian
Berlawanan dengan ED, maka pria yang mengalami ejakulasi terhambat (ET) justru tidak dapat mengalami ejakulasi di dalam vagina. Tetapi pada umumnya pria dengan ET dapat mengalami ejakulasi dengan cara lain, misalnya masturbasi dan oral seks, tetapi sebagian tetap tidak dapat mencapai ejakulasi dengan cara apapun.
(b) Prevalensi dan manifestasi
Dalam 10 tahun terakhir ini hanya 4 pasien datang dengan keluhan ET. Sebagian besar ET disebabkan oleh faktor psikis, misalnya fanatisme agama sejak masa kecil yang menganggap kelamin wanita adalah sesuatu yang kotor, takut terjadi kehamilan, dan trauma psikoseksual yang pernah dialami.
d) Disfungsi orgasme (Pangkahila, 2007)
1) Pengertian
Disfungsi orgasme adalah terhambatnya atau tidak tercapainya orgasme yang bersifat persisten atau berulang setelah memasuki fase rangsangan (excitement phase) selama melakukan aktivitas seksual.
2) Penyebab dan manifestasi
Hambatan orgasme dapat disebabkan oleh penyebab fisik yaitu penyakit SSP seperti multiple sklerosis, parkinson, dan lumbal sympathectomy. Penyebab psikis yaitu kecemasan, perasaan takut menghamili, dan kejemuan terhadap pasangan. Pria yang mengalami hambatan orgasme tetap dapat ereksi dan ejakulasi, tapi sensasi erotiknya tidak dirasakan.
e) Dispareunia (Pangkahila, 2007)
1) Pengertian
Dispareunia berarti hubungan seksual yang menimbulkan rasa sakit pada kelamin atau sekitar kelamin.
2) Penyebab dan manifestasi
Salah satu penyebab dispareunia ini adalah infeksi pada kelamin. Ini berarti terjadi penularan infeksi melalui hubungan seksual yang terasa sakit itu. Pada pria,  dispareunia hampir pasti disebabkan oleh penyakit atau gangguan fisik berupa peradangan atau infeksi pada penis, buah pelir, saluran kencing, atau kelenjar prostat dan kelenjar kelamin lainnya.
4. Terapi dan Pengobatan Disfungsi Seksual
Disfungsi seksual baik yang terjadi pada pria ataupun wanita dapat dapat mengganggu keharmonisan kehidupan seksual dan kualitas hidup, oleh karena itu perlu penatalaksanaan yang baik dan ilmiah.
Prinsip penatalaksanaan dari disfungsi seksual pada pria dan wanita adalah sebagai berikut (Susilo, 1994; Pangkahila, 2001; Richardson, 1991):
a) Membuat diagnosa dari disfungsi seksual
b) Mencari etiologi dari disfungsi seksual tersebut
c) Pengobatan sesuai dengan etiologi disfungsi seksual
d) Pengobatan untuk memulihkan fungsi seksual, yang terdiri dari pengobatan bedah dan pengobatan non bedah (konseling seksual dan sex theraphy, obat-obatan, alat bantu seks, serta pelatihan jasmani).
Pada kenyataannya tidak mudah untuk mendiagnosa masalah disfungsi seksual. Diantara yang paling sering terjadi adalah pasien tidak dapat mengutarakan masalahnya semua kepada dokter, serta perbedaan persepsi antara pasien dan dokter terhadap apa yang diceritakan pasien. Banyak pasien dengan disfungsi seksual membutuhkan konseling seksual dan terapi, tetapi hanya sedikit yang peduli (Philips, 2000).
Oleh karena masalah disfungsi seksual melibatkan kedua belah pihak yaitu pria dan wanita, dimana masalah disfungsi seksual pada pria dapat menimbulkan disfungsi seksual ataupun stres pada wanita, begitu juga sebaliknya, maka perlu dilakukan dual sex theraphy. Baik itu dilakukan sendiri oleh seorang dokter ataupun dua orang dokter dengan wawancara keluhan terpisah (Barry, Hodges, 1987).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terapi atau penanganan disfungsi seksual pada kenyataanya tidak mudah dilakukan, sehingga diperlukan diagnosa yang holistik untuk mengetahui secara tepat etiologi dari disfungsi seksual yang terjadi, sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan yang tepat pula.
Parafilia
b.Pengertian
Kaplan (2002) mengatakan parafilia adalah gangguan seksual yang ditandai oleh khayalan seksual yang khusus dan desakan serta praktek seksual yang kuat, biasanya berulang kali dan menakutkan. Parafilia mengacu pada sekelompok gangguan yang melibatkan ketertarikan seksual terhadap obyek yang tidak biasa atau aktifitas seksual yang tidak biasa (Davidson dan Neale dalam Fausiah, 2003).
c.Ciri (Nevid, 2002) :
Orang akan menunjukkan keterangsangan seksual sebagai respon yang tidak biasa. Menurut DSM IV parafilia melibatkan dorongan dan fantasi seksual yang berulang dan kuat, bertahan selama enam bulan yang berpusat pada objek, perasaan merendahkan atau menyakiti diri atau pasangannya, atau anak-anak dan orang lain yang tidak dapat atau tidak mampu memberikan persetujuan.
d.Jenis-jenis (Fausiah, 2003) :
1.fetihisme
fetihisme adalah ketergantungan seseorang pada objek tidak hidup untuk memperoleh rangsangan seksual. Perilaku yang ditampakkan tidak dibuat dan tidak dapat ditahan.
2.transvestic fetihisme
laki-laki terangsang secara seksual dengan menggunakan pakaian atau atribut wanita.
3.pedofilia
kepuasan seksual melalui kontak fisik dan seksual dengan anak pra pubertas.
4.inses
hubungan seksual dalam satu keluarga.
5.veyeurism
kepuasan melihat orang tanpa busana.
6.eksibision
mempertunjukkan kelaminnya pada orang lain.
7.fretteurism
menyentuh, menggosokkan alat kelamin pada paha, pantat perempuan, memegang payudara atau alat kelamin perempuan.
8.sadisme
kegemaran memperoleh kepuasan seksual dengan menimbulkan kesakitan pasangannya baik fisik, maupun psikologis.
e.Faktor penyebab (Kaplan, 2002) :
1.psikososial,
2.organik,
f.Penanganan (Fausiah, 2003) :
1.pendekatan psikoanalitik,
2.pendekatan behavioral,
3.pendekatan kognitif,
4.pendekatan bilogis


Perilaku Seksual Kompulsif ?

Perilaku seksual kompulsif adalah pengulangan tindakan erotik tanpa kenikmatan.
Apakah kompulsi seksual berupa telepon seks tanpa akhir, one night stand (affair singkat) atau bermasturbasi beberapa kali dalam sehari, penderitanya seringkali melaporkan perasaan “tidak terkendali” sebelum aktivitas dan perasaan bersalah atau malu setelahnya.
Apapun kepuasan seksual yang dialami seseorang dari tindakan tersebut adalah dangkal dan hambar.
Dalam tahun tahun belakangan ini, konsep “adiksi seks” menjadi masalah yang diperdebatkan dalam terapi seks.
Pendukung teori menyatakan bahwa sebagian orang-yang mungkin dahulu disebut “womanizer”, “rakes” atau “sluts”-bukan saja berkelakuan secara kompulsif tetapi juga ketagihan terhadap seks karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan dorongan seksualnya dan akan menempatkan mereka dalam resiko atau akibat.
Pusat terapi dan kelompok self help berdasarkan pada konsep Alcoholic Anonymous telah tumbuh menjamur untuk menghadapi disfungsi masyarakat Barat.
Tetapi teori adiksi seks memiliki lebih banyak penentang dalam komunitas profesional dibandingkan pendukungnya.

Kekerasan seksual

sexabuesKekerasan seksual adalah kekerasan yang terjadi karena persoalan seksualitas.  Ibarat awan dan hujan, demikianlah hubungan antar seks dan kekerasan. Di mana terdapat seks maka kekerasan hampir selalu dilahirkan. Termasuk dalam kekerasan seksual adalah perkosaan, pelecehan seksual (penghinaan dan perendahan terhadap lawan jenis), penjualan anak perempuan untuk prostitusi, dan kekerasan oleh pasangan.
Perkosaan. Perkosaan adalah jenis kekerasan yang paling mendapat sorotan. Diperkirakan 22% perempuan dan 2% laki-laki pernah menjadi korban perkosaan. Untuk di Amerika saja, setiap 2 menit terjadi satu orang diperkosa. Hanya 1 dari 6 perkosaan yang dilaporkan ke polisi. Sebagian besar perkosaan dilakukan oleh orang yang mengenal korban alias orang dekat korban.
Kekerasan seksual terhadap anak-anak. Suatu tinjauan baru-baru ini terhadap 17 studi dari seluruh dunia menunjukkan bahwa di manapun, sekitar 11% sampai dengan 32% perempuan dilaporkan mendapat perlakuan atau mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanaknya. Umumnya pelaku kekerasan adalah anggota keluarga, orang-orang yang memiliki hubungan dekat, atau teman. Mereka yang menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak biasanya adalah korban kekerasan seksual pada masa kanak-kanak.
Kekerasan seksual terhadap pasangan. Kekerasan ini mencakup segala jenis kekerasan seksual yang dilakukan seseorang terhadap pasangan seksualnya. Sebesar 95% korban kekerasan adalah perempuan. Temuan penelitian yang dilakukan Rifka Annisa bersama UGM, UMEA University, dan Women’s Health Exchange USA di Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia, pada tahun 2000 menunjukkan bahwa 22% perempuan mengalami kekerasan seksual. Sejumlah 1 dari 5 perempuan (19%) melaporkan bahwa biasanya mereka dipaksa untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangan mereka selama dipukuli. Termasuk kekerasan seksual adalah kekerasan yang dilakukan seorang laki-laki terhadap seorang perempuan, semata-mata karena sang korban adalah perempuan. Istilah untuk ini adalah kekerasan berbasis gender. Berikut adalah kekerasan berbasis gender:
  • Kekerasan fisik : Menampar,  memukul, menendang, mendorong, mencambuk, dll.
  • Kekerasan emosional/ verbal: Mengkritik, membuat pasangan merasa bersalah, membuat permainan pikiran, memaki, menghina, dll.
  • Ketergantungan finansial: Mencegah pasangan untuk mendapat pekerjaan, membuat pasangan dipecat, membuat pasangan meminta uang, dll
  • Isolasi sosial: Mengontrol pasangan dengan siapa boleh bertemu dan di mana bisa bertemu, membatasi gerak pasangan dalam pergaulan, dll
  • Kekerasan seksual: Memaksa seks, berselingkuh, sadomasokisme, dll.
  • Pengabaian/penolakan: Mengatakan kekerasan tidak pernah terjadi, menyalahkan pasangan bila kekerasan terjadi, dll.
  • Koersi, ancaman, intimidasi: Membuat pasangan khawatir, memecahkan benda-benda, mengancam akan meninggalkan, dll


Permasalahan Reproduksi
Kesehatan merupakan hal yang tidak ternilai harganya bagi semua kalangan masyarakat di dunia. Begitu juga di Indonesia, kesehatan adalah hal yang terpenting. Perempuan yang mempunyai peran penting harus bisa menjaga kesehatannya. Sistem reproduksi perempuan sangat mempengaruhi bagaimana kesehatan anak yang di kandung dan dilahirkan nanti.
         
  Seorang perempuan mempunyai tugas untuk melahirkan anak-anak yang akan meneruskan kehidupan ini. Perempuan yang sempurna di nilai dari kemampuannya untuk melahirkan keturunan.  Semua itu berhubungan dengan sistem reproduksi perempuan itu sendiri. Sistem reproduksi merupakan daerah sensitif bagi seorang perempuan. Menjaga kesehatan reproduksi itu bukanlah hal yang mudah. Hal tersebut terbukti dengan adanya masalah yang berhubungan dengan sistem reproduksi perempuan.
            Di Indonesia sendiri reproduksi merupakan salah satu masalah yang diderita oleh perempuan. Banyak perempuan yang tidak bisa melakukan proses reproduksi secara normal karena beberapa faktor. Faktor gen merupakan salah satu penyebab yang dapat membuat seorang perempuan mengalami gangguan reproduksi. Kelainan gen dari kedua orang tua dapat mempengaruhi kelainan masalah reproduksi pada perempuan.
            Beberapa masalah sistem reproduksi yang sering dihadapi oleh seorang perempuan adalah kemandulan, kanker serviks, keputihan berlebihan yang dapat menimbulkan bau tidak sedap pada organ kewanitaan,  jengger ayam, dan lain sebagainya. Agar tidak menderita penyakit tersebut ada baiknya kita melakukan pencegahan. Untuk mencegahnya bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan diri sendiri. Dimulai dengan menjaga kebersihan organ kewanitaan. Selain itu saat membersihkan organ intim harus menggunakan air yang mengalir dan terbebas dari kuman. Pepatah mengatakan “lebih baik mencegah dari pada mengobati”, untuk itu lakukan pencegahan dari sejak dini supaya kesehatan sistem reproduksi terjaga. 

DAFTAR PUSTAKA





1 komentar:

  1. maksih mas admin atas artikelnya,mudah di pahami oleh pembaca dan bermanfaat bagi orang banyak.thanks.Artikel kesehatan

    BalasHapus